Redaksi

Belajar dari Manajemen Angkutan Umum

9 Juli 2011 - 07.57 WIB > Dibaca 2672 kali | Komentar
 

MASKAPAI penerbangan milik Riau, Riau Air, masa depannya mulai tak jelas. Kabar terakhir Direksi PT Riau Air merancang rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) Jilid II, yakni mengaudit laporan keuangan tahun 2010.

Berbagai upaya sudah dilakukan, bahkan berulang kali Gubernur Riau HM Rusli Zainal berjanji akan memperbaiki manajemen perusahaan ini dan berulang kali pula janji pesawat akan terbang kembali, tapi kenyataannya tak kunjung terbang,  bahkan sejumlah eks karyawan menuntut pesangon sampai mengadu ke Polda Riau.

Riau Air bukan hanya sekadar perusahaan biasa, tetapi terkait nama Riau bahkan saat berdiri dulu, Riau Airline, merupakan lambang semangat Riau (the spirit of Riau), bagaimana pun harus diselamatkan. Agaknya yang menjadi masalah adalah soal manajemen.

Soal manajemen perusahaan jasa angkutan, kita teringat dengan perusahaan angkutan PT ALS (Antar Lintas Sumatera), dimana perusahaan ini mampu eksis di tengah terpaan beragam ancaman, mulai dari ancaman berupa tiket pesawat murah sehingga orang ke Pulau Jawa berduyun-duyun menggunakan pesawat, sampai persaingan munculnya bus-bus baru yang lebih bagus. Ternyata kunci keberhasilan ALS adalah manajemen perjalanan, dimana perusahaan itu mengedepankan pelayanan pada konsumen daripada gaji pegawainya.

Sang supir akan mendapatkan gaji, kalau mendapatkan sewa banyak, kalau tidak ya cukup untuk makan selama perjalanan saja. Kondisi ini tentu membuat sang supir dan kernetnya berusaha memberi pelayanan yang terbaik bagi penumpangnya.

Demikian juga pemilik bus, kalau di ALS, pemilik menyediakan mobil dan mendapatkan keuntungan sesuai dengan pendapatan supirnya di lapangan. Atas asas kepercayaan, trust, maka sang pemilik bus pun menerima berapa pendapatannya dari sang supir, sebab di setiap tempat sejumlah agen melaporkan berapa jumlah penumpangnya. Bagi Riau Air di sinilah perlunya trust, yakni kepercayaan. Bagaimana sang direksi dan jajarannya mengedepan azas kepercayaan dalam mengelola perusahaan.

Jika kepercayaan ada, maka pemilik modal (Pemprov dan sejumlah Pemkab/Pemko) tidak segan-segan akan mengucurkan APBD-nya untuk pembelian pesawat yang jumlahnya sesuai dengan syarat Depertemen Perhubungan. Sebab semua jalur penerbangan yang dilalui Riau Air banyak peminatnya.

Kita berharap, jika sebelumnya perusahaan penerbangan ini bernama Riau Airlines, kemudian dihilangkan kata lines-nya berubah Riau Air, ke depan jangan tinggal Riau saja karena kata Air-nya dihilangkan.***
KOMENTAR
Terbaru
Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 WIB

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil
Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 WIB

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 WIB

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers
Follow Us