Anugerah yang Terbiar

17 Februari 2013 - 07.30 WIB > Dibaca 526 kali | Komentar
 
Anugerah yang Terbiar
DARI hari ke hari, tahun ke tahun, Jogja dan Jawa Tengah khususnya, makin mengokohkan dirinya sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Peninggalan beberapa candi, baik yang besar hingga yang kecil dan bangunan bersejarahnya, semuanya memiliki magnet tersendiri yang harus dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Bahkan bagi wisatawan yang datang ke daerah ini, akan merasa rugi jika tak sempat menyambangi tempat bersejarah tersebut.

Tak heran, jumlah wisatawan terus berbilang dan terbilang. Dampaknya juga makin berimbas pada perekonomian masyarakat sekitar dan sudah tentu menambah PAD Pemda setempat. Bukan hanya itu, masyarakat dan Pemdanya juga makin kreatif menciptakan hal-hal baru untuk disuguhkan bagi pengunjung. Mulai pelayanan, buah tangan dan kulinernya.

Candi Borobudur misalnya. Selalu saja ada pembenahan dan hal yang baru kalau kita berkunjung ke sana. Sekarang, setiap turis yang datang akan dibekali sehelai kain khas Borobudur untuk diikatkan ke pinggang yang dulunya belum pernah ada. Perubahan itu menciptakan suatu yang unik, sedap dipandang dan dipakai, dan sedap pula untuk diabadikan.

Begitu juga kalau berkunjung ke Keraton Jogja. Pemandu siap melayani pengunjung walau pun hanya beberapa orang saja. Dengan ramah, pemandu menjelaskan setiap benda atau tempat yang memiliki makna pada pengunjung.

Itu baru beberapa contoh. Sebuah contoh yang harusnya bisa membuat kita belajar dari keberhasilan orang lain. Bagaimana mengasah batu biasa menjadi intan dan intan menjadi berlian.

Di Provinsi Riau, khususnya di Kabupaten Kampar, keberadaan Candi Muara Takus yang konon katanya sebagai candi tertua itu, merupakan anugerah bagi negeri ini. Anugerah yang mendatangkan kebanggaan, anugerah yang tentunya bisa mendatangkan fulus bagi warga dan daerah.

Sebagai negeri Melayu yang identik dengan Islam, tentunya keberadaan Candi Muara Takus memiliki sejarah yang unik dan dikenal juga dengan candi misterius. Dikatakan misterius, Candi Muara Takus ini masih belum diketahui pasti kapan berdirinya dan siapa pendirinya. Walau jejak sejarah yang ada menunjukkan bahwa candi ini peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Padahal, jalan menuju ke sana baik dari Pekanbaru maupun Bangkinang, pemandangan di kiri kanan jalan sangat eksotis dan menakjubkan. Terlebih setelah memasuki kawasan jalan baru. Danau yang menghampar dengan bentuk beraneka rupa, sangat memanjakan mata. Kendati bukan alam semula jadi, keberadaan danau yang menenggelamkan puluhan desa demi alasan PLTA itu, menciptakan pesonanya sendiri. Dan pesona ini juga menjadi tujuan wisata bagi masyarakat.

Terbukti dengan berdirinya pondok-pondok di pinggir jalan sebagai tempat istirahat. Tidak sedikit warga Pekanbaru khususnya akhir pekan memenuhi pondok-pondok tersebut hanya sekadar menikmati keindahan danau.

Mengingat jarak Candi Muara Takus yang tak terlalu jauh dari kawasan PLTA ini, tak ada salahnya Pemkab Kampar mempromosikan keberadaan candi tersebut. Sebab, bisa jadi masyarakat tidak mengetahuinya. Mungkin karena belum populer atau aksesnya yang cukup jauh dari pusat kota, atau mungkin penggarapannya yang belum maksimal, wisata sejarah ini tidak begitu banyak dikunjungi.

Di sinilah PR bagi Pemkab Kampar khususnya, untuk selalu mencari cara bagaimana keberadaan candi yang merupakan anugerah ini bisa makin  bedelau, hingga biasnya mampu menarik wisatawan yang cukup banyak.

Selalu saja masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaikinya. Selama tekad masih bulat, niat masih tersirat, mari wujudkan segala hasrat. Jangan sampai warga setempat lebih mengenal yang di seberang, sementara yang di depan mata tak terlihat. Sebab, saat ini masih banyak dari kita yang sudah mengunjungi Borobudur, Prambanan, Mendut dan wisata bersejarah lainnya. Sementara Muara Takus sama sekali belum pernah dikunjungi. Jangan sampai anugerah ini terbiar!***


Nurizah Johan
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us