Mimpi Pekanbaru Punya Gedung Parkir

24 Februari 2013 - 06.03 WIB > Dibaca 875 kali | Komentar
 
Mimpi Pekanbaru Punya Gedung Parkir
Sebagai salah seorang warga Kota Pekanbaru, satu di antara dari sekian banyak hal yang saya rasakan paling menjengkelkan adalah masalah parkir kendaraan.

Tidak saja soal biaya parkir di Pekanbaru ini yang angkanya di atas rata-rata kota lain, tapi masalah lahan parkir dan tukang parkir (tukir) juga jadi persoalan pelik tersendiri yang tiap hari memunculkan rasa tidak enak hati.

Satu kali parkir, di tempat umum, pengguna roda empat membayar parkir Rp2.000, dan pengguna roda dua membayar Rp1.000. Sedangkan di mal --dalihnya ada pengelola parkir khusus-- kita wajib membayar Rp4.000 (roda empat) dan Rp2.000 (roda dua).

Padahal, di Batam saja parkirnya di mal atau pelabuhan cuma Rp2.000 untuk sekali parkir.

Sebenarnya, bagi saya, persoalannya bukan uang parkir yang wajib dibayar karena saya memarkirkan kendaraan, tapi masalahnya lebih kepada tata cara dan tata kelola parkir tidak benar yang memunculkan rasa jengkel dan terkadang rasa dongkol di hati.

Kadang, maaf, cuma bermodalkan rompi kuning atau orange dan pluit seorang tukir sudah bisa memungut uang parkir. Terlepaslah, apakah dia tukir resmi atau tidak, yang jelas siapa saja yang parkir pasti diminta uang parkir.

Sabtu (23/2) kemarin misalnya, sekitar pukul 08.55 WIB, saya parkir di Jalan A Yani di seberang jalan, depan kantor Pemasaran dan Iklan Riau Pos.

Ketika mau parkir, sama sekali tidak terlihat ada tukir di tempat ini. Ya, mungkin saja dia sedang sibuk mengurus kendaraan lain. Karena kosong, saya langsung saja parkir di tempat itu.

Nah, sekitar pukul 10.00 WIB saya mau pergi, eh belum lagi naik kendaraan tukir-nya sudah berdiri di belakang saya. Mesin kendaraan dihidupkan, tukir-nya pun sudah tiup-tiup pluit.

Saya pun buka kaca mobil, dan menanyakan karcis parkir yang sebenarnya wajib dia berikan sebelum kita diminta uang jasa parkir.

Tapi anehnya, yang ditanya cuma jawab, karcis parkirnya tidak ada. Alasannya, petugas yang mengantarkan karcis belum datang. Padahal, kan sudah pukul 10.00 WIB. Karcis tak punya, uang parkirnya tetap diminta.

Kejadian seperti ini, saya yakin dan percaya, dialami oleh hampir seluruh warga Kota Pekanbaru yang pernah memarkirkan kendaraannya di pinggir jalan umum.

Bahkan tak jarang ada saja pemilik mobil atau motor yang beradu mulut di pinggir jalan dengan tukir.

Sekali lagi, ini bukan soal uang Rp2.000 atau Rp1.000, tapi ini adalah soal tata cara dan tata kelola parkir yang belum sepenuhnya sesuai dengan aturan yang berlaku.

Apa solusinya? Apakah para tukir ini ditiadakan saja, dan diganti dengan pengelolaan parkir yang lebih modern? Atau tukir yang tidak mematuhi aturan diberi sanksi?

Atau ada cara-cara lain yang lebih bijaksana dan proporsional? Artinya tukir tetap bisa bekerja, sementara warga kota pengguna kendaraan juga tidak merasa jengkel atau dongkol ketika membayar uang jasa parkir.

Dan, yang tak kalah penting retribusi parkir Kota Pekanbaru juga terkelola dengan baik, yang bisa mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam jumlah banyak.

Suatu ketika, saya jalan-jalan di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru. Siang itu, saya melihat suasana yang sangat berbeda dari hari-hari biasa. Tidak ada kendaraan yang parkir di pinggir jalan.

Begitu juga di teras-teras rumah toko (ruko). Di pinggir jalan, mulai dari Jalan Pangeran Hidayat sampai ke persimpangan Jalan Juanda, jalan raya bersih dan suara-suara pluit tukir pun tak terdengar.

Saya tidak merasakan jauhnya berjalan kaki dari Pangeran Hidayat ke Juanda, karena saya berjalan di atas pedestrian yang luas, bersih, ada taman-taman yang hijau penuh bunga, dan kalaupun ada yang berjualan di situ, kedai-kedainya bersih dan tidak ada sampah yang berserakan, seperti di kota-kota yang ada di luar negeri sana.

Saya berpikir dan bertanya dalam hati, ini Kota Pekanbaru atau Kota Singapura? Karena di Singapura, kalau kita berjalan di jalan-jalan utama di sana, jangankan parkir di pinggir jalan, di teras depan toko pun tak kan ada kendaraan diparkir.

Karena di sana, mereka sudah memarkirkan kendaraannya di basement gedung/toko atau ada gedung parkir khusus yang disiapkan untuk menampung kendaraan untuk parkir.

Sedangkan untuk sampai ke tempat-tempat perbelanjaan, ya cukup jalan kaki saja di atas pedestrian- pedestrian yang bersih dan tertata dengan baik.

Sedang asyik-asyik berjalan, di tengah kebingunan bertanya dalam hati sendiri, pas mau menyeberang di Jalan Juanda arah ke Pelita Pantai, saya dikejutkan oleh bunya klakson mobil. Tiiiiiiiitt.

Saya kaget, karena hampir saya ditabrak. Tapi, ketika saya sadar, kok seperti di dalam kamar sendiri? Halah... Rupanya tadi saya cuma mimpi. Senyum-senyum sendiri dan berpikir lagi, kapan ya Pekanbaru punya gedung parkir dan suasananya seperti di mimpi saya itu.***

Khairul Amri, Pemimpin Redaksi Xpresi The Magazine
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Follow Us