Tanah Pusaka

10 Maret 2013 - 08.27 WIB > Dibaca 690 kali | Komentar
 
Tanah Pusaka
Negeri ini punya salah satu lagu wajib yang di masa sekolah selalu dinyanyikan. Lagu itu berjudul “Indonesia Pusaka”.

Bait-baitnya sungguh indah, menceritakan bahwa tanah air beta yang tanah pusaka ini sejak dulu kala selalu dipuja-puja bangsa, merupakan tempat lahir beta, tempat dibuai dan dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, dan tempat akhir menutup mata.  

Sungguh indah dan betapa visionernya seorang Ismail Marzuki ketika menulis syair lagu ini.

Sebuah pandangan kebangsaan yang memikirkan tanah tempat jasad lahir dan tumbuh kembang, hingga akhir hayat. Semua di tanah pusaka milik leluhur.

Tapi keindahan-keindahan dan manisnya syair dalam lagu itu akan akan terasa kelat dan pahit dalam kenyataan. Tanah air beta itu seakan menjadi nisbi ketika kita melihat kesenjangan hidup yang kian parah di negeri ini.

Sebagian orang memiliki tanah yang sangat luas, seakan tak bertepi, yang menguasai tak hanya lahan-lahan kosong, tapi juga hutan, laut, bahkan pulau.

Tapi sebagian lain hidup dengan cara menumpang, menjadi bagian dari kehidupan dan tempat orang lain, bahkan gelandangan tanpa tempat berteduh.

Fenomena ini tak hanya terjadi di perkotaan yang padat penduduk, yang gang-gangnya sempit, yang urusan tanah dan kependudukannya sulit dan berat itu, kaum urban yang masalah tanahnya berbelit.

Ternyata di perkampungan kita, di ceruk negeri bernama Lancang Kuning ini juga ditemukan orang-orang yang tak lagi punya tanah untuk tempat tinggal.

Mereka seakan terusir dari tanahnya sendiri, yang awalnya adalah tanah pusaka mereka. Sebagian karena eksploitasi perusahaan perkebunan hingga pertambangan, yang lain karena kondisi alam.

Ada pula yang karena terusir secara sistematis, lewat pemberian pinjaman, lalu berbunga, dan akhirnya menggadaikan tanahnya.

Tahun lalu, saya berkesempatan melakukan liputan ke kawasan pemukiman suku Duanu di Inhil, mulai dari Kuala Selat di Kateman hingga Belaras di Mandah.

Tanah-tanah mereka kini telah habis. Sebagian karena tergerus abrasi air laut. Rumah-rumah orang Duanu kini tak lagi dapat ditemukan di pelantar pantai yang menghadap ke laut.

Rumah-rumah itu telah dilamun ombak dan hancur. Mereka pun mulai kehilangan budaya mereka karena salah satu aspek kehidupannya yang berkaitan dengan laut mulai dilupakan generasi muda.

Sebagian anak-anak muda Duanu tak lagi mewarisi generasi tuanya mengenai kebiasaan, bahasa, dan apa yang dimiliki para leluhurnya.

Lain Duanu, lain pula suku-suku asli lainnya di Riau. Lihatlah bagaimana Sakai harus tersingkir karena lahan pertambangan dan hutan produksi.

Terbaru adalah kasus yang menimpa suku Akit. Kini, tanah-tanah pusaka mereka mulai tergadai pada para tengkulak. Mereka yang awalnya adalah pemilik asli tanah negeri ini kini tak lagi memiliki hak, bahkan untuk sebidang tanah tempat mereka berpijak.

Tanah mereka telah tergadai di tangan para tengkulak. Tiga fenomena suku-suku asli di Riau ini kelihatannya berbeda, namun akan bermuara pada hal yang sama.

Mereka akan kehilangan ciri khas dan identitas mereka, karena tanah-tanah mereka, tempat mereka memulai kebudayaan, peradaban, adat resam, pelan-pelan mulai tergerus. Generasi baru akan melihat semuanya dari perspektif yang berbeda.

Fenomena Akit dewasa ini, dan juga beberapa suku asli lainnya, mengingatkan kita pada suku-suku asli di beberapa tempat di muka Bumi ini, sebutlah Aborigin di Australia atau Indian di Amerika.

Mereka yang merupakan pemilik asli tanah air, akhirnya harus tersingkir dari tanah pusakanya sendiri. Mungkin mereka tak memiliki pemahaman dan pengetahuan yang memadai tentang pertanahan,  harta, atau segala macam aturan perundangan.

Tapi ketika kita sudah mengakui sebuah kemerdekaan bersama, yang di dalamnya kita gaungkan sebuah tanah pusaka, tempat lahir dan dibesarkan bunda, hingga tempat akhir menutup mata, maka seharusnya kita memiliki kesadaran kolektif tentang hak-hak dasar suku asli ini.

Sudah seharusnya pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) memiliki kepedulian terhadap tanah-tanah suku asli yang terus tergerus zaman, yang diperdagangkan sebagian kalangan tanpa ampun, tanpa peduli.

Sekali lagi, itu jika kita masih menganggap tanah-tanah itu adalah tanah pusaka, tempat mereka dilahirkan, dibesarkan bunda, lalu tempat akhir menutup mata.

Atau kita seharusnya tak lagi mendengar lagu tanah pusaka itu lagi, ketika orang-orang Akit harus menutup mata di akhir hayatnya di tanah pinjaman, bukan di tanah mereka sendiri. Sebuah ironi.***


Muhammad Amin,
Redaktur Riau Pos

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us