Harga Bawang dan Kerinduan pada Pemimpin

17 Maret 2013 - 06.52 WIB > Dibaca 676 kali | Komentar
 
Harga Bawang dan Kerinduan pada Pemimpin
Ini kisah berbeda dari negeri dan zaman berbeda. Di negeri pertama, memasuki awal Maret 2013, rakyatnya hiruk pikuk, khususnya ibu-ibu rumahtangga. Harga bawang punya pasal. Iya, tersebab harga bawang melonjak tinggi dari biasanya. Berbagai media, mulai cetak, online, hingga televisi sibuk melaporkan langsung dari  berbagai pasar.

Ah, di negeri ini harga barang pangan selalu tinggi. Sebelum bawang, harga daging yang naik. Begitu terus berulang. Hanya harga kelapa yang turun.  Karena itu petani kelapa di Indragiri Hilir selalu menjerit. Sebagian kita sambil  bercanda mengungkapkan harga kelapa tak akan pernah naik, karena secara alamiah kelapa memang mesti diturunkan dari batangnya yang tinggi ke bawah.

Bawang, daging dan kelapa hanya mewakili dari ketidakberesan dalam mengurus hajat rakyat. Pemimpinnya salah memanfaatkan potensi alam. Di lahan subur ‘’ranah agraris’’  justru dibangun ‘’pabrik-industrialis’’. Di lahan subur untuk tanaman pangan, justru ditanam pohon-pohon yang tak bisa dimakan. Contohnya alih fungsi lahan padi ke sawit. Sekaya apapun kita karena sawit, tentu kita tetap memerlukan beras untuk dimakan, sebab kita tak mampu mengunyah dan menelan sawit, bukan?

Di negeri ini selain salah urus diperparah lagi oleh ‘’pelayan’’-nya yang hobi mempermewah fasilitas hidup. Kesejahteraannya selalu dinaikkan, fasilitas kerjanya selalu ditingkatkan, tapi kinerja justru menghasil harga daging dan bawang melonjak.

Di negeri lain, seorang  pemimpin mampu menyejahterakan rakyat hanya dalam hitungan tahun. Di masanya, sulit menemukan fakir miskin untuk menerima zakat. Saat ditawar kendaraan dinas, pemimpin itu menolaknya. Ia memilih hidup dalam kesederhanaan. Lebih fokus pada kinerja menyejahterakan rakyat dibanding menuntut fasilitas. Dialah khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Di zaman berbeda, ada kisah yang hampir sama. Ia ditunjuk menjadi gubernur oleh pimpinan tertinggi. Ia pun ditawari gaji. ’’Berapa gaji yang engkau inginkan,’’ ujar sang pemberi mandat. ’’Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu? Bukankah penghasilan saya sudah cukup?’’ jawab gubernur yang baru ditunjuk tersebut.

Waktu pun berjalan, pimpinan tertinggi ternyata menyertakan pula sekelompok orang untuk mengamati jalannya pemerintahan sang gubernur.  Ketika pimpinan meminta kepada utusan itu membuat daftar orang miskin di provinsi  yang dipimpin gubernur tersebut —tujuannya agar dapat diberi bantuan dari pemerintahan pusat. Agaknya, mirip Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau Raskin—alangkah terkejutnya pimpinan tertinggi itu, ternyata para utusan tersebut mencantumkan juga nama gubernur mereka dalam daftar.

 ’’Betulkah gubernur kalian miskin?’’ selidiknya kepada utusan yang membawa daftar itu. Dengan penuh keyakinan, utusan itu pun membenarkan bahwa sang gubernur benar-benar hidup dalam kemelaratan.

Pemimpin tertinggi itupun menangis mendengar kabar tersebut. Lalu ia mengambil uang dan dititipkan kepada utusan itu untuk diberi kepada sang gubernur. Sesampainya di ibukota provinsi, para utusan itu pun menghadap gubernur.

Apa tanggapan sang gubernur saat menerima uang titipan itu? Ia langsung menyingkirkan pundi-pundi uang itu. Dan berucap: ’’Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.’’

Mendengar ucapan itu, isteri gubernurpun terkejut. ’’Apa yang terjadi? Apakah pimpinan tertinggi kita meninggal dunia?’’ tanya isterinya. ’’Bahkan lebih besar dari itu. Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,’’ jawab sang gubernur.

Isterinya pun menyarankan suaminya untuk menjauhkan bencana itu dari keluarga mereka. Sang gubernur setuju dan mengambil pundi-pundi uang tersebut lalu istrinya  diminta membagi-bagikannya kepada fakir miskin.

Sang Gubernur bernama Sa’id bin Amir Al-Jumahy, dan pemimpin tertinggi pemerintah pusat saat itu adalah Khalifah Umar bin Khattab.

Meski menjabat sebagai seorang gubernur,  Sa’id hidup dalam keprihatinan. Bajunya hanya sepasang. Di kediamannya tak ada pembantu. Keadaan ini mengharuskannya  mencuci baju sendiri. Ia masuk daftar orang miskin yang perlu disantuni. Tapi ia menolak uang santunan  dan justru membagi-bagikan kepada rakyatnya. Ia lebih mendahulukan rakyatnya.

Sebaliknya, hari ini, para pejabat justru berlomba meningkatkan kesejahteraan mereka, meningkatkan fasilitas, bermegah-megah dengan kemewahan. Bahkan ada komentar yang menyakitkan hati. ’’Kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami ’’terpaksa’’ menerima fasilitas ini, karena sudah dianggarkan’’.

Di tengah hiruk pikuk harga bawang yang melangit dan pejabat berfasilitas mewah, kita merindukan pemimpin seperti sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Gubernur Sa’id bin Amir Al-Jumahy. Wallahu a’alam bi al-showab.****


Idris Ahmad
Redaktur Pelaksana Riaupos.co
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us