Generasi Jalu

24 Maret 2013 - 07.39 WIB > Dibaca 564 kali | Komentar
 
Generasi Jalu
Jumat (22/3) malam, saya hadir ke gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin menonton pementasan karya seni berjudul “Protagonis”. Karya yang ditulis dan disutradarai Monda Gianes berdurasi 120 menit itu didukung penuh anak-anak Teater Matan. Karya yang bertutur, bahwa setiap orang perlu menjaga dan melestarikan tradisi agar tidak tercerabut dari akarnya sendiri.

Tontonan yang (saya) kira menarik -layaknya karya seni- itu tak lupa menyelipkan sindiran yang ditujukan untuk semua orang yang telah melupakan adat resamnya sendiri. Dalam karya ini, tentu saja membicarakan adat resam Melayu. Fokus bahasannya pada pelaku seni tradisi seperti Mak Yong, Mendu, Bangsawan, Mamanda dan Randai Kuantan yang mencari tempat mengadu agar tidak hilang ditelan karut-marut zaman. Sebuah gambaran yang dirasakan cukup mengena dan mencerahkan.

Sebuah pertanyaan yang menari-nari dan menukik tajam ke dalam benak saya; “pentingkah menjaga dan melestarikan adat resam (tradisi) yang diwariskan nenek moyang kita?” Sementara generasi muda hari ini, sadar atau tidak, ikut-ikutan mengaburkannya sambil menelan manisnya surga dunia yang dihembuskan manusia-manusia yang memang dengan sengaja melepaskan diri dari akar budayanya sendiri. Jadilah anak-anak muda Melayu hari ini bak kata salah seorang budayawan Riau ‘Generasi Jalu’.  

Anak-anak muda yang berselancar ria di media online (internet) untuk  menikmati tawaran menyesatkan tanpa jenuh, bahkan kian dihantui rasa penasaran. Jadilah anak-anak muda yang memuja kebebasan berpikir dan bertindak hingga mabuk-mabukan dan tawuran jadi hal biasa-biasa saja. Jadilah anak-anak muda tak betah di rumah dan lebih senang berkumpul dalam ruang kebebasan itu sesuka hati perutnya. Jadilah mereka anak-anak muda yang tidak suka pada kebiasaan masa lalu yang syarat dengan kebaikan dan keluhuran budi pekerti dan seterusnya.

‘Generasi Jalu’ (orang yang meracau dan berjalan saat tidur atau mengigau) yang dimaksudkan di sini adalah generasi yang tahu banyak tentang sesuatu di luar diri mereka. Sesuatu yang jauh dari adat resam yang diturunkan langsung ibu-bapak mereka sejak dalam ayunan.

Mereka lebih mengenal dunia barat yang selalu menawarkan tantangan-tantangan baru tanpa menghiraukan keselamatan diri. Bebas dan tak harus patuh pada orangtua, apalagi di luar garis keturunan langsung. Tak ingin dilarang-larang dan tak peduli pada pantang larang yang sudah percaya sejak dulu. Bagi mereka hanya ada kata, “Ini aku, kau mau apa?” Meski tidak semua anak muda begitu namun perlu dilakukan upaya agar mereka kembali ke ‘rumah’ yang dibangun nenek moyangnya dengan susah payah.

Paling tidak pementasan teater yang digelar Jumat hingga Ahad malam lalu bisa menjadi gambaran bahwa keberadaan tradisi kita kian terkikis. Memang, tidak sedikit pihak yang mengupayakan agar tradisi Melayu bangkit dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri meski tanpa dukungan finansial memadai. Katakanlah, tanpa dukungan pemerintah dan pihak-pihak yang terus saja mengeruk kekayaan negeri ini tanpa henti.

Mereka bekerja dengan ikhlas dengan harapan adat resam Melayu tidak terlempar jauh dari dirinya sendiri.

Tentu kita mengaharapkan, tidak hanya orang-orang di kampung yang terus menjaganya tapi juga orang-orang kampung yang telah hijrah ke kota-kota dengan menularkannya kepada anak dan cucu mereka. Ditambah lagi secara politis pemerintah daerah ini telah berazam menjadikan Riau sebagai pusat perekonomian dan budaya Melayu di bentangan Asia Tenggara. Artinya, azam itu sekadar slogan tanpa dasar namun harus dikerjakan dengan serius sehingga cita-cita tidak seperti diucapkan anak-anak di taman kanak-kanak saat ditanya gurunya di depan kelas.***


Fedli Azis

Redaktur Pelaksana 
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif

Senin, 19 November 2018 - 14:30 wib

Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci

Senin, 19 November 2018 - 14:22 wib

Pemkab Siak Terima CSR dari BRK

Senin, 19 November 2018 - 14:00 wib

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Senin, 19 November 2018 - 13:50 wib

Bupati Ajak Putra Terbaik Kampar Bersinergi Bangun Negeri

Follow Us