Bahasa Menunjukkan Bangsa

31 Maret 2013 - 00.18 WIB > Dibaca 21491 kali | Komentar
 
Pepatah lama mengatakan, “Bahasa menunjukkan bangsa.” Sepintas, peribahasa ini terlihat sangat sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki makna yang sangat luas. Bahasa, dalam bentuk tuturan atau ucapan, sering menjadi petunjuk utama dalam pengidentifikasian seseorang. Di Indonesia, misalnya, identitas kesukuan seseorang—di  samping dapat dikenali melalui bahasa yang digunakan—juga dapat dengan mudah dikenali melalui tuturannya: pada umumnya orang Batak tidak fasih melafalkan bunyi /e/ pepet; orang Aceh dan Bali tidak fasih melafalkan bunyi /t/; orang Melayu tidak fasih melafalkan bunyi /r/; dst.

Sebagai salah satu penanda identitas, ternyata bahasa juga mencerminkan kedudukan/posisi penutur dalam tata kemasyarakatannya. Itulah sebabnya, dalam kajian sosiolinguistik, diyakini bahwa bahasa memang tidak dapat dipisahkan dari kondisi dan latar belakang sosial penuturnya. Latar belakang sosial penutur yang berbeda akan membuat bahasa yang digunakannya berbeda pula. Pada penutur yang berpendidikan tinggi, misalnya, akan terlihat perbedaan karakter penggunaan bahasanya dengan penutur yang tidak berpendidikan/berpendidikan rendah, sekalipun mereka menggunakan bahasa yang sama.

Umumnya, pada penutur yang berpendidikan tinggi akan terlihat penggunaan bahasa yang baik dan benar: sesuai dengan situasi pemakaian dan kaidah bahasa. Logat mereka cenderung standar (tidak menunjukkan ciri kelompok/suku tertentu) serta pilihan katanya tepat, sesuai dengan konteks. Sebaliknya, penutur yang tidak berpendidikan cenderung menunjukkan penggunaan bahasa yang abai terhadap kaidah. Logat mereka medok, memperlihatkan ciri kelompok/suku tertentu. Pemilihan kata (diksi)-nya pun terkesan apa adanya (tidak kreatif).

Dalam banyak kasus, bahasa sering dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mempertegas identitas kelompoknya agar terkesan (lebih) eksklusif. Kelompok-kelompok itu biasanya melakukan “pelanggaran-pelanggaran berbahasa” sebagai bentuk ekspresi yang mereka yakini akan membedakannya dengan kelompok lain. Kelompok selebritas, misalnya, gemar menggunakan istilah-istiah/kata-kata asing (terutama Inggris). Bahkan, beberapa di antara mereka bertutur dalam bahasa Indonesia dengan logat asing, keinggris-inggrisan.

Sementara itu, kelompok waria melakukan “manipulasi” unsur-unsur kebahasaan dengan sistem tertentu (yang berkemungkinan hanya dipahami oleh anggota kelompoknya). Sebagai akibatnya, muncullah “bahasa-bahasa baru”: seperti bahasa Gaul dan bahasa Alay. Entah apa penyebabnya, kini kedua bahasa baru itu, dengan berbagai variasinya, berkembang pesat penggunaannya di kalangan remaja. Belakangan ini, bahkan, muncul “jenis bahasa” baru yang lain lagi: Baby Talk ‘Celoteh Bayi’. Konon, penggunaan bahasa yang meniru-tiru logat balita itu justru digandrungi oleh orang-orang dewasa.

Beberapa dekade terakhir ini di dunia akademik berkembang sebuah kajian yang mengaitkan penggunaan bahasa dengan latar budaya masyarakat. Kajian itu (dikenal dengan beberapa sebutan: antropologi bahasa, antropolinguistik, atau etnolinguistik) memfokuskan analisisnya pada penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan budaya kelompok penuturnya, terutama tentang nilai-nilai budaya yang ditunjukkan melalui penggunaan bahasa. Cara pengekspresian (melalui penggunaan bahasa) nilai-nilai budaya masyarakat/suku tertentu biasanya tidak sama dengan cara yang dilakukan oleh masyarakat/suku lain.

Cara yang dilakukan masyarakat/suku Minangkabau dalam mengekspresikan nilai kesantunan dan/atau kesopanan, misalnya, berbeda dengan cara yang dilakukan masyarakat/suku Batak. Pada umumnya, masyarakat/suku Minangkabau memilih menggunakan ungkapan tidak langsung (indirect speech) untuk menyampaikan maksud-maksud tertentu, sedangkan masyarakat/suku Batak memilih menggunakan ungkapan langsung (direct speech). Ketika bertamu, misalnya, orang Minangkabau akan menyindir tuan rumah dengan berkata, “Panas betul udara di sini,” atau “Jauh betul tempat ini,” agar segera disuguhi minuman. Hal seperti itu tidak lazim dilakukan oleh masyarakat/suku Batak karena kebiasaan mereka tidak menyukai basa-basi. Dalam hal ini, masyarakat/suku Batak tidak merasa segan/malu untuk mengatakan haus atau lapar kepada tuan rumah.

Begitulah, melalui bahasa, seluruh aspek kehidupan manusia (baik secara personal maupun komunal) dapat dibaca. Di sinilah pepatah: Bahasa menunjukkan bangsa itu menemukan relevansinya. Ibarat cermin, bahasa mampu memperlihatkan segala sesuatu yang ada di depannya dengan sempurna. Dengan kata lain, bahasa merupakan potret diri penggunanya.

Nah, bagaimana dengan bangsa Indonesia? Sudahkah bangsa ini memiliki kesadaran penuh bahwa bahasa menunjukkan bangsa? Jawabannya pasti beragam. Sebagai penutup, mari kita renungkan makna bidal berikut ini.

Yang kurik ialah kundi, yang merah ialah saga.

Yang baik ialah budi, yang indah ialah bahasa.***


Yanti Riswara
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:30 wib

Kadis Diingatkan Harga Ikan

Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Follow Us