Alih Fungsi Lahan

31 Maret 2013 - 00.30 WIB > Dibaca 849 kali | Komentar
 
Alih Fungsi Lahan
Alih fungsi lahan pertanian menjadi perkebunan masuk dalam tahap yang mengkhawatirkan. Lahan-lahan produktif untuk pertanian berubah menjadi lahan perkebunan. Di mana-mana, hampir di setiap sudut di negeri yang bernama Riau ini tumbuh subur tanaman kelapa sawit. Apakah itu milik masyarakat atau milik perusahaan.

Sulit ditemui lahan-lahan sawah yang menghijau atau lahan sawah dengan bulir padi menguning dan merunduk. Susah mendengar suara-suara dan tengkah petani yang bersenda gurau atau sekadar senandung lirih mereka saat menanam atau memanen padi. Terjadinya alih fungsi ini tentu berimplikasi pada berbagai hal, salah satunya ketersediaan pangan bagi Riau.    
 
Taklah mengherankan keperluan beras di Riau masih dipasok dari berbagai daerah luar Riau, andai saja terjadi paceklik atau gagal panen padi di sejumlah daerah itu, Riau pun terancam. Apalah gunanya uang ada sementara barang (beras, red) yang hendak dibeli itu tiada di pasaran.

Data yang ada menyebutkan kurun waktu 2002-2010 atau selama delapan tahun terakhir hampir 20.069 hektare sawah berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit. Bayangkan, hampir tidak ada tempat untuk padi dan komoditas hortikultura lainnya bisa hidup di negeri ini.

Data yang ada juga menyatakan keperluan beras Riau tahun 2010 lalu saja 596.763 ton sementara produksi 363.314 ton kekurangan beras 233.429 ton (39,12 persen). Kekurangan inilah yang dipasok dari negeri-negeri tetangga. Marilah kita berdoa bersama-sama semoga tidak terjadi paceklik atau gagal panen di sentra-sentra produksi beras provinsi tetangga itu.

Andaikan itu terjadi, azablah rakyat di negeri ini. Buah sawit tentu tidak bisa ditanak menjadi nasi. Rakyat Riau belum bisa mengganti beras dan nasi sebagai makanan pokok sehari-harinya. Memang cadangan lain sebagai makanan pokok cukup tersedia, tapi apakah kebiasaan itu bisa diubah dalam waktu sekejap?.

Alih fungsi lahan yang terjadi karena hasil dan pendapatan yang cukup menggiurkan dengan berkebun kelapa sawit. Tapi, apakah itu memang betul? Bagi masyarakat di Kecamatan Bungaraya tentu itu akan dibantah, betapa tidak, saat ini hasil panen gabah kering basah milik mereka saja dihargai dengan sangat mahal.

Hidup petani sawah di daerah ini cukup sejahtera. Bahkan untuk mencari lahan sawah untuk disewa saja sangat sulit. Mereka terpaksa mencari lahan sawah ke desa-desa tetangga. Dari penuturan mereka dalam tiap hektare sawah jika sudah dipanen mereka bisa menangguk keuntungan Rp18-20 juta. Masyarakat di daerah ini rata-rata memiliki 2 sampai 2,5 hektare sawah. Sementara biaya produksi jika ditotal hanya Rp5-6 juta saja.

Biaya-biaya itu dikeluarkan untuk pembelian bibit, pengolahan, pembelian pupuk dan pestisida dan biaya tanam serta pembersihan sawah yang ditumbuhi gulma. Pemilik sawah di daerah ini rata-rata mengupahkan semua pekerjaan yang ada.

Mulai dari membajak hingga menanam atau kadang-kadang secara bersama-sama mereka bergotong-royong mengolah sawah itu. Hanya air yang menjadi persoalan serius mereka, sebab sawah-sawah di daerah ini mengandalkan tadah hujan. Hujan tak ada sawah kering, tapi semuanya bisa diatasi dengan seribu cara.

Itu baru satu kali musim tanam. Dalam satu tahun petani di daerah ini melakukan dua kali tanam (IP 200). Jadi kalau dihitung-hitung cukup menggiurkan bukan? Sebenarnya petani di daerah ini bisa memaksakan diri melakukan tiga kali tanam dalam satu tahun (IP 300). Tapi tidak ada yang mau memaksa kehendak, mereka lebih bersikap arif pada alam dan tidak berlaku tamak dan rakus dengan mengejar kekayaan.

Mereka memberi jeda waktu istirahat bagi tanah, juga pada diri mereka untuk sekadar menikmati hasil jerih payah yang diusahakan selama ini. Cukup arif dan bijaksananya petani-petani kita. Mari berterima kasih kepada mereka, tanpa mereka apa yang hendak dimakan. Atau Anda mau makan buah sawit?***


Gema Setara
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 16 Januari 2019 - 18:35 wib

Toyota New Avanza dan Veloz Lebih Mewah, Stylish dan Senyap

Rabu, 16 Januari 2019 - 18:02 wib

Kompetisi eSport Berhadiah Golden Ticket Grand Final Indonesia Master 2019

Rabu, 16 Januari 2019 - 17:15 wib

Masyarakat Keluhkan Banyak Jalan Rusak

Rabu, 16 Januari 2019 - 17:00 wib

Piala Adipura Diarak di Kota Bangkinang

Rabu, 16 Januari 2019 - 16:30 wib

Dewan Minta Pemkab Perhatikan Guru Komite

Rabu, 16 Januari 2019 - 15:55 wib

Biaya EKG dan Rontgen Ditanggung Jamaah

Rabu, 16 Januari 2019 - 15:43 wib

Pengurus OPSI Riau dimintai keterangan di kantor Satpol PP Pekanbaru

Rabu, 16 Januari 2019 - 15:40 wib

Kepergok Curi Besi Tua, Pria 46 Tahun Diamankan

Follow Us