Ekranisasi

14 April 2013 - 07.58 WIB > Dibaca 17744 kali | Komentar
 
Ekranisasi merupakan istilah yang akhir-akhir ini semakin familiar dalam kajian sastra di Indonesia. Apa sebenarnya ekranisasi itu? Konon, istilah ini berasal dari bahasa Perancis, écran ‘layar’. Pamusuk Eneste mendefinisikannya sebagai pelayarputihan, pemindahan/ pengangkatan sebuah novel (karya sastra) ke dalam film. Sementara itu, Sapardi Djoko Damono mendefinisikan ekranisasi sebagai alih wahana, yaitu pengalihan karya seni dari satu wahana ke wahana lain. Ekranisasi, dengan demikian, secara sederhana dapat dikatakan sebagai pengadaptasian karya sastra (wahana tulis) ke dalam film (wahana audio-visual).

Dalam sejarah perfilman dunia, pengadaptasian karya sastra ke dalam film bukan merupakan hal yang baru. Menurut Garin Nugroho (1995), 85% film-film pemenang Oscar  merupakan hasil adaptasi dari karya sastra. Begitu pun peraih Emmy Award (penghargaan terbaik untuk karya-karya di televisi), 70%-nya juga merupakan hasil adaptasi dari karya sastra. Sekadar contoh, sebut saja beberapa film terlaris di dunia, seperti “Dr. Zhivago”, “Lord of the Rings”, dan “Harry Potter”.

Di Indonesia, pengadaptasian karya sastra ke dalam film mulai marak pada dekade 70-an (istilah ekranisasi belum digunakan saat itu). Beberapa di antaranya adalah  “Surat Kecil untuk Tuhan”, “Negeri 5 Menara”, dan “Catatan Si Boy”. Menurut data Perfin, ketiganya tercatat sebagai film terlaris dan masing-masing menjadi peringkat pertama, kedua, dan ketiga dalam box office nasional: “Surat Kecil untuk Tuhan” berhasil menggaet 765.425 penonton, “Negeri 5 Menara” menggaet 748.842 penonton, dan “Catatan Si Boy” menggaet 313.516 penonton (dikutip dari filmindonesia.or.id). Sementara itu, film-film ekranisasi lainnya, seperti “Darah dan Mahkota Ronggeng” (dari novel Ahmad Tohari: Ronggeng Dukuh Paruk), “Jangan Ambil Nyawaku” (Titi Said), “Roro Mendut” (Y.B. Mangunwijaya), “Atheis” (Achdiat K. Mihardja),”Salah Asuhan” (Abdoel Moeis), “Cintaku di Kampus Biru” (Ashadi Siregar), “Ca Bau Kan” (Remy Sylado), dan “Badai Pasti Berlalu” (Marga T.) juga digemari banyak penonton. Bahkan, “Ayat-Ayat Cinta” (Abdurrahman el Shirazy) dan “Laskar Pelangi” (Andrea Hirata) sempat memaksa penonton harus rela mengantre berjam-jam untuk dapat menyaksikannya.

Di Riau, ekranisasi juga sudah dilakukan. Beberapa karya Makmur Hendrik seperti tiga cerpennya: “Luka di atas Luka”, “Buah Hati Mama” (judul film: “Jangan Menangis Mama”), dan “Di Langit Ada Saksi” serta satu novelnya: Melintas Badai , telah difilmkan. Sementara itu, novel Soeman Hs. (Mentjari Pentjuri Anak Perawan), novel Ediruslan Pe Amanriza (Dikalahkan Sang Sapurba), dan cerpen Fakhrunnas M.A. Jabbar (“Rumah Besar Tanpa Jendela”) pun telah disinetronkan.

Hal yang menarik dari fenomena (ekranisasi) ini adalah adanya hubungan yang cenderung saling menguntungkan (symbiosis-mutualism) antara film (hasil adaptasi) dan karya sastra (yang diadaptasi). Sekalipun tidak selalu, pada umumnya, film-film ekranisasi yang menduduki box office diangkat dari karya-karya (novel) yang juga best seller. Artinya, di samping dapat menjadi wahana promosi karya sastra, ekranisasi juga dapat menjadi wahana promosi film. Tidak sedikit karya sastra yang menjadi terkenal setelah difilmkan, banyak pula film ekranisasi yang digemari penonton berkat ketenaran karya sastranya. Mungkin, hal inilah yang menjadi salah satu sebab timbulnya rasa penasaran para peneliti untuk melakukan pengkajian lebih lanjut.

Dalam kajian ekranisasi, upaya utama yang dilakukan adalah menemukan perbedaan-perbedaan/perubahan-perubahan dengan cara membandingkan karya ekranisasi (film) dengan karya yang diadaptasi (sastra). Pembandingan itu, seperti yang dikatakan oleh para ahli, akan menemukan tiga kemungkinan perubahan: berupa penambahan, pengurangan/penciutan, dan/atau kombinasi keduanya. Hasil akhirnya, biasanya, berupa senarai pujian dan/atau celaan atas kelebihan dan/atau kekurangan karya ekranisasi yang dikajinya.

Membandingkan film dengan karya sastra (novel), apalagi jika dimaksudkan untuk menjustifikasi baik-buruknya, sesungguhnya merupakan perbuatan yang tidak fair. Dunia film berbeda dengan dunia sastra. Keduanya memiliki tata nilai dan keunikan sendiri-sendiri, yang tentu berbeda. Interpretasi atas keduanya, dengan demikian, akan berbeda pula. Oleh karena itu, sudah selayaknya jika dibutuhkan kearifan dalam menyikapi perbedaan itu, antara lain, dengan cara membiasakan diri menempatkan film dan novel dalam ruang yang berbeda karena medium dan ihwal keberadaannya memang berbeda. Dengan begitu, penilaian dan respon atas karya-karya ekranisasi dapat dilakukan secara (lebih) objektif dan proporsional. Bahwa karya sastra lebih banyak memberi ruang berimajinasi daripada film, misalnya, adalah sebuah keniscayaan mediumnya: bahasa (medium sastra) menawarkan ruang imajinasi tanpa batas sehingga berkemungkinan melahirkan banyak tafsir, sedangakan gambar (medium film) justru mengabsolutkannya pada satu tafsir, sesuai dengan tafsir sang sutradara. 

 Dilihat dari sisi penikmat (pembaca/penonton), ekranisasi merupakan konkretisasi karya sastra (resepsi teks). Dalam hal ini, ekranisasi dapat disejajarkan dengan tanggapan pembaca (sutradara) atas karya sastra. Ekranisasi, dengan demikian, idealnya sangat bermanfaat untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sastra (dan film). Mengapa demikian? Karena idealisme seperti itu kemungkinannya hanya akan terjadi pada masyarakat yang tingkat literasinya tinggi.

Dalam masyarakat yang tingkat literasinya rendah, ekranisasi justru berkemungkinan besar menjadi penghambat. Ekranisasi tidak dijadikan jembatan pemahaman, tetapi dijadikan jalan pintas pemuasan. Umumnya, setelah melihat filmnya, mereka sudah merasa terpuaskan dan tidak mau lagi membaca teks sastranya. Bagi mereka, yang penting adalah dapat mengetahui jalan ceritanya, dari mana pun sumbernya, tanpa harus membaca. Salam.***


Sri Sabakti
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us