Depan >> Kolom >> Chaidir >>

PNS Santai, Honorer Kerja

Senin, 31 Oktober 2011 WIB > Dibaca 1883 kali | Komentar

Terkait kebijakan penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS), pemerintah tak tetap hati. Macam baling-baling di atas bukit.

Sekejap ke Barat, sekejap lagi sudah ke Tenggara. Tergantung, arah angin kuat menekan.

Terutama angin politik dan aroma kepentingan. Selalu ragu-ragu dan terlalu berorientasi administratif. Kadang iya, kadang tidak. Belum tuntas sebuah peraturan diterapkan sudah bermunculan macam-macam usulan kebijakan baru, termasuk soal sistem penerimaan yang penuh dengan karut-marut dan campur tangan gelap.

Hari ini, pemerintah menangguhkan sementara penerimaan CPNS baru di tengah bejibun-nya usulan pemerintah daerah dan kementerian, yang minta keran penerimaan  dibuka.

Alasannya, belum ada hitungan yang jelas dan betul-betul valid sesuai standar profesionalitas soal jumlah keperluan PNS di republik ini. Penerimaan pegawai honorer pun harus dihentikan. Mudah-mudahan ini keputusan yang tepat.

Begitu juga keputusan untuk menghentikan penerimaan pegawai honor. Sebab, para honorer ini, dicurigai hanya diisi oleh saudara-mara para pejabat. Bukan diterima karena keperluan pekerjaan, tapi lebih kepada kepentingan keluarga dan sanak famili mereka.

Ironisnya, di tengah keragu-raguan pemerintah itu, sistem pengukuran dan penilaian efesiensi dan efektifitas PNS sampai kini tetap amburadul alias tak jelas.

Padahal, seharusnya pemerintah memiliki standarisasi penilaian kinerja yang betul-betul terukur sehingga bisa ditemukan rumus untuk mendapatkan indeks efektifitas.

Di keseharian, kerap dijumpai, masih banyak PNS yang kerja santai dan asal-asalan. Kinerjanya sangat buruk. Kualitas pelayanannya rendah. Celakanya, PNS model begini tetap bekerja sampai masa pensiun.

Di sisi lain, banyak juga PNS yang berkerja sungguh-sungguh, tapi tidak bisa mendapatkan hak untuk dinilai sesuai kinerja.

Pada akhirnya, banyak juga PNS yang terjebak dengan ironi,kerja seribu, tak kerja lima ratus. Kerja-tak kerja, seribu lima ratus. Ujung-ujungnya, serajin apapun sang PNS ini pada awalnya, ujung-ujungnya ia akan jadi, kerja asal-asalan saja. Siapa peduli?

Lebih ironis, di instansi atau satuan kerja yang banyak honorernya, maka sesungguhnya yang betul-betul kerja itu adalah mereka. Banyak sekali Satker yang tak akan jalan kalau tak memiliki tenaga honorer.

Mengapa begitu? Karena, para honorerlah yang masih bisa di-tekan-tekan, disuruh-suruh keras dan lembur. Sementara yang PNS-nya, kebanyakan santai-santai aja. Ya, begitulah.***
KOMENTAR
BERITA TERBARU

Dibuka Pelatihan untuk Umum

22 Januari 2019 - 15:13 WIB
Keliling Indonesia, Maruf Amin Sepekan Tinggalkan Jakarta

Keliling Indonesia, Maruf Amin Sepekan Tinggalkan Jakarta

22 Januari 2019 - 14:59 WIB
Diduga Gauli Isteri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan

Diduga Gauli Isteri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan

22 Januari 2019 - 14:54 WIB

DPP Sebut Kenaikan Harga Beras karena Daya Beli Tinggi

22 Januari 2019 - 14:31 WIB

Sepanjang Jalan Teropong Penuh Lubang

22 Januari 2019 - 14:08 WIB
Sandi Dapat Sumbangan di Kresek Merah

Sandi Dapat Sumbangan di Kresek Merah

22 Januari 2019 - 14:03 WIB
Bawaslu Bakal Surati Pengusaha Billboard

Bawaslu Bakal Surati Pengusaha Billboard

22 Januari 2019 - 13:51 WIB
Titus Bonai Pilih Pulang Kampung

Titus Bonai Pilih Pulang Kampung

22 Januari 2019 - 13:45 WIB
BERITA POPULER
Jadwalkan Periksa Maraton 45 Artis

Jadwalkan Periksa Maraton 45 Artis

22 Januari 2019 WIB | 1075 Klik
Pembebasan Ustaz Ba’asyir Dikaji Lagi

Pembebasan Ustaz Ba’asyir Dikaji Lagi

22 Januari 2019 WIB | 660 Klik
Diduga Gauli Isteri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan

Diduga Gauli Isteri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan

22 Januari 2019 WIB | 273 Klik
Syamsuar Sentil Besarnya Anggaran Perjalanan Dinas di APBD Riau 2019

Syamsuar Sentil Besarnya Anggaran Perjalanan Dinas di APBD Riau 2019

22 Januari 2019 WIB | 263 Klik
Jalan di Bawah Flyover SKA Segera Dibuka

Jalan di Bawah Flyover SKA Segera Dibuka

22 Januari 2019 WIB | 186 Klik

Follow Us