Seperti Dibonceng 'Lepas Tangan'

21 April 2013 - 08.15 WIB > Dibaca 757 kali | Komentar
 
Seperti Dibonceng 'Lepas Tangan'
Dalam beberapa pekan ini, muncul pemandangan baru, yakni antrean truk, bus, bus pribadi di seluruh SPBU di Kota Pekanbaru. Kalau dipandang sekilas memang tidak menarik, tetapi  kalau ditanyai para supir itu, memang berat perjuangan mereka untuk mendapat solar. Ada  supir yang rela tidur di truknya agar dapat solar di esok paginya.

Antrean solar ini bukan hanya di SPBU pinggiran kota, SPBU di tengah kota pun jadi  sasaran truk-truk tersebut, mereka tidak takut ditilang polisi karena melanggar jalur  khusus di luar truk. Mereka berpendapat pilih dapat solar atau ditilang? Kalau tak dapat  solar, truk tak bisa jalan. Sementara kalau ditilang, kan truk masih  jalan,  paling-paling bayar uang tilang.
Itu baru dari sisi supir truk. Ada lagi sisi lain, yakni kelompok bus dan travel. Jika  para supir truk harus tidur di SPBU, para supir bus dan travel memilih berburu solar  melalui koneksi atau informasi dari sesama rekan mereka. Katika mendapat informasi di satu  SPBU ada solar, langsung meluncur supir itu ke SPBU yang dituju. Tapi tidak sedikit, para  supir bus dan travel  itu pun tak kebagian.

Pernah seorang penumpang dibawa keliling oleh supir travel yang seharusnya berangkat ke  Sumbar pukul 08.00 pagi tetapi terpaksa harus berangkat pukul 11.00 siang karena sang supir  tak menemukan solar untuk bahan bakar ke Sumbar. Mengapa sang supir tidak berani berangkat ke Sumbar dengan bekal solar yang minim, karena tak ada jaminan di jalan menuju Sumbar ada  solar, bahkan antrean lebih panjang lagi.

Berbeda dengan mobil plat merah yang seharusnya tidak boleh antre solar subsidi. Perbedaan jauh antara harga solar subsidi Rp4.500 dengan solar non subsisi Rp10.700, membuat supir mobil plat merah pun nekat. Pernah suatu ketika, supir mobil plat merah menggertak petugas SPBU agar mengisikan solar ke mobilnya, tetapi petugas SPBU menolak. Akhirnya sang supir mobil dinas pun mengalah, eeeh, rupanya diganti plat mobilnya jadi hitam, langsung balik ke SPBU ini minta diisikan solar, petugas SPBU pun tak bisa apa-apa —dia bukan polisi dan bukan pula pegawai Pertamina yang mengawasi solar subsidi—, karena plat mobil itu sudah tak merah lagi, terpaksa lah petugas SPBU mengisikan solar ke mobil dinas tersebut. Ironi.

Yang mengalah pemilik mobil pribadi. Jatah mereka yang seharusnya mendapatkan solar subsidi pun  habis disikat truk perkebunan, kehutanan, pertambahan sebagaimana dijelaskan Permen ESDM  Nomor 1/2013. Mobil pribadi tak punya koneksi, makanya sering tidak kebagian solar, mereka kalah dengan mobil truk yang berani antre bermalam-malam, mereka juga kalah dengan supir  bus dan travel yang ligat. Ada seorang rekan yang mengeluhkan soal antrean solar ini; ’’Tadi kata orang-orang ada solar di SPBU Garuda Sakti, waktu sampai di sana, eehh, dah  habis. Seharusnya solar yang ada cukup untuk stok mengantar anak ke sekolah, eeh, malah  habis,’’ keluhnya. Berikutnya rekan saya pun kalau mencari tahu SPBU yang memiliki solar, dia memilih menggunakan sepeda motor. Kalau sudah pasti ada, baru dia berangkat dengan  mobilnya. Akhirnya pemilik mobil pribadi harus hemat-hemat, kalau memang tidak perlu pakai  mobil, tak usah pakai mobil, pakai sepeda motor saja.

Dilema BBM ini solarnya sebenarnya disebabkan sikap pemerintah yang tidak tegas menerapkan alam  Peraturan Menteri ESDM Nomor 1/2013 bahwa Pasal 3 menyakan, pentahapan pembatasan  penggunaan solar untuk transportasi jalan berlaku untuk kendaraan dinas dan mobil barang dengan jumlah roda lebih dari empat buah. Yakni mobil barang dengan jumlah roda lebih dari empat buah untuk pengangkutan hasil  kegiatan perkebunan dan pertambangan dilarang menggunakan solar terhitung mulai 1 Maret 2013 .

Namun kenyataannya di lapangan tidak ada yang mengawasi. Pemertah seperti pengedara sepeda motor yang ‘lepas tangan’, sementara rakyat yang dibonceng, ngeri-ngeri sedap, bisa-bisa terjatuh. Makanya kebijakan ‘lepas tangan’ ini pun rakyatlah yang jadi sasarannya.***


JARIR AMRUN
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us