Balada Sang Caleg

5 Mai 2013 - 06.54 WIB > Dibaca 1054 kali | Komentar
 
Balada Sang Caleg
Menjadi legislator ternyata impian banyak orang. Tak terkecuali Susno Duadji mantan Jenderal polisi. Setelah lepas dari kedinasan tentu berat rasanya meninggalkan gelar terhormat yang pernah disandang. Solusinya agar gelar itu kembali tentu berupaya meraihnya lagi dengan menjadi legislator. Karena di negeri kita satu-satunya posisi wakil yang lebih hebat dari ketuanya ya wakil rakyat itulah. Dapat mobil dinas, dapat uang rumah, dapat anggaran pelesiran dalam dan luar negeri dan banyak fasilitas lainnya. Jika rumah masuk gang, akan segera diaspal oleh pemerintah. Kalau tidak pembahasan anggaran bisa tidak mulus.

Sebagai mantan pejabat tinggi Susno jelas beruntung. Meski orang tahu proses hukumnya masih berjalan partai tetap menerimanya untuk bergabung. Ia bahkan telah lulus dari proses Bacaleg dan resmi menjadi Caleg nomor urut Cristiano Ronaldo yakni 7 dari sebuah partai. Andai saja jaksa eksekutor tidak merusak mimpi indahnya boleh  jadi ia akan duduk di Senayan. Peristiwa eksekusi ternyata juga tidak mudah seperti teori hukum bahwa semua warga negara sama kedudukannya di dalam hukum. Ia tidak bisa dijemput paksa oleh kejaksaan tinggi sekalipun.

Akhirnya sang Caleg rela menyerahkan diri dengan sejumlah syarat. Tidak mau dieksekusi oleh pihak kejaksaan tinggi yang semula menjemputnya. Tidak mau di Lapas Sukamiskin harus di Lapas Cibinong yang notabene dekat dengan rumahnya. Untuk sang Jenderal, semua dikabulkan oleh Jaksa Agung. Andai saja Susno orang biasa prosesnya pasti tidak akan serumit itu. Menjadi Caleg kini jadi tren yang diminati banyak orang.

Makanya tidak heran Pemilu 2014 diikuti bakal Caleg dari beragam profesi. Selain para anggota DPRD, para pensiunan pejabat, bahkan pejabat aktif setingkat Sekda pun tergiur. Bahkan juga ada mantan narapidana. Dari verifikasi KPU Batam, ternyata ada mantan perompak yang ikut serta. Bakal Caleg itu dulunya mantan perompak kapal tanker yang ancaman penjaranya tujuh tahun. Namun di persidangan ia hanya divonis 1 tahun enam bulan. Kejadiannya sudah berlangsung sembilan tahun yang lalu sehingga dalam Pemilu kali ini mencalonkan diri.

Maka, menjadi legislator jelas penuh tantangan dan godaan. Godaan terbesar tentu datang dari diri sendiri dan lingkungan. Pada awal jadi legislator mungkin diawali dengan niat baik memperjuangkan nasib rakyat. Namun lingkungan kemudian memaksa sang legislator menyesuaikan diri. Gaya hidup yang lebih mewah dan bergaya kerap jadi pilihan. Meski demikian tidak semua legislator seperti itu. Tetap ada legislator yang setia pada janji dan nurani meski tidak banyak. Kelompok ini kerap kalah suara jika harus memutuskan sesuatu di Dewan. Konon, beberapa tahun yang lalu ketika sedang ramai-ramainya kampanye Pemilu, seorang Caleg  DPR dari Jakarta sedang giat berkampanye untuk partainya di sebuah kota kecil di Papua. Ribuan rakyat dikumpulkan oleh Pemda buat menyambut beliau di lapangan kota W. Bendera dan umbul-umbul dipasang. Meriah. Dan rupanya suatu kebiasaan di situ bahwa rakyat dengan gegap gempita menyambut setiap ucapan para pembesar.

Caleg itu lalu berpidato. “Saudara-saudara, dalam rangka pembangunan nasional, pemerintah akan meningkatkan usaha untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur!”. Rakyat setempat bersorak sembari menyebut “Wiloo-wiloo, wiloo-wiloo!”.  Caleg itu meneruskan. “Jangan sampai saudara-saudara mau dihasut oleh gerakan separatis yang ingin mengacaukan stabilitas!”. Rakyat setempat kembali gegap gempita berkata “Wiloo-wiloo!”. Sang Caleg pun makin semangat. “Hidup Partai Saya!” teriaknya. Rakyat setempat kembali merespon dengan teriakan “Wiloo-wiloo!”.

Pidato selesai, Caleg  turun mimbar dan langsung diantar berkeliling melihat-lihat desa-desa di sekitar lokasi kampanye. Untuk memberi kesan baik, ia tidak hanya ingin mengunjungi hal-hal yang sudah ditata. Suatu kali ia nekad masuk ke sebuah rumah dan langsung ke halaman belakang untuk melihat bagaimana babi-babi dikandangkan di tempat itu. Ini membuat cemas Pak Bupati (orang asli daerah tersebut)  yang mengiringi sang Caleg.  Ia mencoba memberi tahu sang Caleg yang seorang ibu itu. “Maaf, ibu, jangan masuk ke situ. Nanti ibu bisa terinjak wiloo-wiloo! Wiloo-wiloo babi itu bau sekali, bu!”.***


Helfizon Assyafei
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us