Wahyu

Minggu, 06 November 2011 WIB > Dibaca 2177 kali | Komentar

Pada sepenggal zaman, wahyu pernah menjadi penghias dan suluh hidup. Hari ini, wahyu seakan menumpul dan majal, ketika dunia disirami data. Data mengganti posisi wahyu. Dulu, manusia bisa berdialog langsung dengan Malaikat, Jin dan segala yang tersembuyi. Interaksi itu terjadi, ketika dunia berada dalam bingkai bening bak akuarium yang kemilau. Antara ikan dan permukaan air akuarium, terjadi interaksi mencerahkan. Dan pada kala serba bening inilah, manusia melihat segala apa yang ada di balik tirai. Ketika Thomas Alfa Edison, menemukan listrik, sejak itu, manusia bermandi data. Maka dunia pun dilukis dan digerakkan oleh sejumlah data. Steve Jobs [Jandali] melengkapi dan menyempurnakan keinginan manusia agar data, bernyanyi dan menari. Patung Rodin yang masyhur, meraut mengenai tumpahan wahyu dan hamparan data.

Puisi pada awalnya adalah wahyu: Yang menyuluh dan menggerak, juga menggairah. Namun, puisi hari ini adalah kenyataan mengenai data tentang jalan sunyi, jalan hidup, gelombang gairah, revolusi memekak, serangkaian gerutu atau juluran cerutai. Maka, sejarah manusia ialah jalan cerita mengenai cerutai dan segala gerutu nan menggeram, menggelora dalam dendam yang dibingkai oleh segala ragam bengkalai: sesuatu yang tak pernah selesai. Ketika manusia memikul puisi sebagai wahyu, segala ihwal gelap dicampakkan dalam peristiwa kerlipan mata. Puisi sebagai data, dia menghanyut pencarian dalam urutan yang bertangga dan berjenjang. Data menghendaki kiat dalam mendaki dan singgit menurun. Puisi sebagai wahyu, dia seakan terjun dari langit metafisis dan melakukan persekongkolan dengan azimat langit, sehingga dia menggumpal sebagai peristiwa supranatural. Ketika wahyu berhenti meluncur dari ketinggian, manusia tersesat menjadi sesuatu yang alamiah [natural], bukan supranatural lagi. Bahwa hidup itu seperti air yang mengalir [hehe pencandraan natural dan klise].

Entahlah, puisi dalam gambaran natural itu seakan memikul pembawaan yang bijak dan bajik. Padahal manusia terbuat bukan karena natural semata, akan tetapi amat ditentukan oleh katup kultural bernama bahasa. Seterusnya bahasalah yang menciptakan manusia. Dengan bahasa, segunung puisi diterjemah menjadi data, tidak lagi wahyu. Dengan bahasa, manusia memberi penanda mengenai rentang perjalanan peradaban manusia; dari wahyu ke sehamparan data. Dan data pun bergemuruh dalam kesunyian ekonomi Inggeris yang kemudian menggesa untuk menggerakkan ekonomi dengan basis industri kreatif pada pangkal Tony Blair berkuasa.

Qhadaffy naik tahta, karena wahyu dan tersungkur kemudian di kampung kelahiran tersebab data. Obama naik tahta, karena data, sebaliknya twin tower dalam aruk September New York, pecah dan berkecai karena wahyu. Osama berkurung dalam gua-gua batu dan mengirim berita kematian ke serata bumi, karena wahyu. Dan Osama yang hilang dari permukaan bumi, tersebab data.  Antara wahyu dan data, manusia merentang sejarah dalam cerutai yang tak pernah usai. Para penguasa sepanjang sejarah melukis diri dalam kehendak-kehendak apokaliptik [pewahyuan], yang berawal dari siksaan hidup di masa kecil; miskin, yatim, menumpang hidup pada bapa angkat dan kemudian mendurhaka; pewahyuan ini terentang sejak Musa hingga Ken Arok. Selanjutnya, berita pewahyuan Musa-Arok ini dikonstruksi dalam bentuk data. Dan data ini diterjemah untuk diulang dalam formula-formula lokal, mengenai kekuasaan, sekaligus memecah kebanalan kuasa; maka menjadi Guevara, menjadi Cortez, menjadi Paman Mao, bahkan Bonaparte hingga Soekarno yang menelikung dari kecerdasan sejarah Hindia Timur. Tak terkecuali pula, Soeharto.

Setiap zaman melahirkan para penelikung; mungkin dia bisa disejajarkan sebagai begundal kebudayaan. Berbekal bahan baku olahan yang didaur ulang, dan seolah-olah memperoleh kesegaran baru, mereka melakukan penelikungan-penelikungan dalam kumparan data. Seolah-olah yang dipidatokan dalam sebuah majlis orasi sebagai sesuatu yang baru [wahyu baru dan data baru]. Padahal, bagi orang lain, ide yang dianggap cemerlang itu adalah sebuah ujung dari pengembaraan apokaliptik, bukan sebuah pangkal. Begitu pula data mengenai kehadiran dan kehilangan, juga masih dianggap sesuatu yang berada dipangkal waktu pemikiran. Sejatinya dia tak lebih dari sebuah ujung sebuah tebing benua pemikiran yang telah lama ditinggalkan.

Kacukan, sebuah konsep yang hendak diundang dalam pemikiran Melayu kini, sejatinya dia bukanlah wahyu, juga bukan pula data. Dia tak lebih dari dedahan dari sejarah yang luka, atau tepatnya luka sejarah, ketika orang-orang dipaksa untuk diajar dan belajar kompromi mengenai sesuatu yang lain dan liyan. Para penelikung, menganggap diri sebagai pemenang. Padahal sejatinya dia tak lebih dari cara melakukan peneguhan mengenai ambang sebuah kekalahan. Alias, peneguhan tentang makna kalah. Dia tak pernah merasa menang, di tengah kerumunan orang-orang yang merawat sejarah pewahyuan kebudayaan. Kebudayaan sebagai wahyu, tidak bisa disulap dengan cara akal-akalan agar dia menjelma menjadi data.

Para pecundang senantiasa hadir di antara wahyu dan data. Tapi para pecundang yang mengenderai data sebagai sebuah cara membangun gang kecil, dia tak lebih dari para pengecut yang bersua dengan serombongan serigala dalam temaram senja yang ganas: Menjelang ajal kematian kreaif. Wahyu, ketika disentuh legenda Yunani kuno, dia menggerak dan menggairahkan para dewa untuk mengejar janda-janda cantik dan berterjunan dari puncak Olympus. Sebaliknya, wahyu dari Tuhan Ibrahim di Gunung Sinai, bersalin bentuk, demi menyantuni anak yatim dan para fakir miskin, menyelamatkan perempuan dan para janda. Sebuah wahyu yang kosong, bisa mendorong seseorang menjinjing bom dan meledakkannya pada sasaran yang salah, karena kesalahan data penyokong mengenai situs. Dan di sinilah para pecundang itu berdiri dan meledakkan dirinya***

KOMENTAR
BERITA TERBARU

UAS Sebut Tak Ada Tempat bagi Komunis di NKRI

22 Januari 2019 - 16:05 WIB

Dibuka Pelatihan untuk Umum

22 Januari 2019 - 15:13 WIB
Keliling Indonesia, Maruf Amin Sepekan Tinggalkan Jakarta

Keliling Indonesia, Maruf Amin Sepekan Tinggalkan Jakarta

22 Januari 2019 - 14:59 WIB
Diduga Gauli Isteri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan

Diduga Gauli Isteri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan

22 Januari 2019 - 14:54 WIB

DPP Sebut Kenaikan Harga Beras karena Daya Beli Tinggi

22 Januari 2019 - 14:31 WIB

Sepanjang Jalan Teropong Penuh Lubang

22 Januari 2019 - 14:08 WIB
Sandi Dapat Sumbangan di Kresek Merah

Sandi Dapat Sumbangan di Kresek Merah

22 Januari 2019 - 14:03 WIB
Bawaslu Bakal Surati Pengusaha Billboard

Bawaslu Bakal Surati Pengusaha Billboard

22 Januari 2019 - 13:51 WIB
BERITA POPULER
Jadwalkan Periksa Maraton 45 Artis

Jadwalkan Periksa Maraton 45 Artis

22 Januari 2019 WIB | 1105 Klik
Pembebasan Ustaz Ba’asyir Dikaji Lagi

Pembebasan Ustaz Ba’asyir Dikaji Lagi

22 Januari 2019 WIB | 738 Klik
Diduga Gauli Isteri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan

Diduga Gauli Isteri Orang, Oknum Dewan Dilaporkan

22 Januari 2019 WIB | 337 Klik
Syamsuar Sentil Besarnya Anggaran Perjalanan Dinas di APBD Riau 2019

Syamsuar Sentil Besarnya Anggaran Perjalanan Dinas di APBD Riau 2019

22 Januari 2019 WIB | 302 Klik
Jalan di Bawah Flyover SKA Segera Dibuka

Jalan di Bawah Flyover SKA Segera Dibuka

22 Januari 2019 WIB | 196 Klik

Follow Us