Sebatang Pohon

16 Juni 2013 - 07.49 WIB > Dibaca 1030 kali | Komentar
 
Sebatang Pohon
Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walaupun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.  Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini, katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon. Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.

Anak muda itu tersentak. Bila pohon yang berdiri tegak saja merasa dirinya bermanfaat bagi makhluk lain apatah lagi manusia yang bisa bergerak kesana-kemari. Tentu akan bisa lebih bermanfaat bagi hidup ini. Ia sadar ia tidak sekadar hadir di dunia ini tetapi ia dapat memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan juga orang lain serta lingkungan hidupnya.

Ketika dulu belajar jurnalistik di kampus LPDS Jakarta guru saya Ed Zoelverdi (alm) yang juga terkenal dengan gelar Mat Kodak pernah mengatakan begini. Kalau akal pikiran di kepala kita tidak memberi manfaat bagi diri kita apalagi orang lain, maka nilai kepala kerbau lebih mahal dari kepala kita. Tak percaya? Coba saja jual ke restoran Padang pasti kepala kerbau yang lebih mahal dan kepala kita pasti tidak akan laku, ujarnya terkekeh.

Pelajaran dari sebatang pohon itu  mengingatkan kita bahwa sebatang pohon bukanlah hal yang remeh meski banyak orang meluluhlantakkan mereka demi kepentingan ekonomi. Nabi Muhammad SAW berkali-kali berpesan kepada para sahabat, bahwa dalam peperangan janganlah kalian membunuh wanita, anak-anak, dan jangan menebang/merusak tanaman (pohon). Mengapa? Pohon itu banyak manfaatnya bagi lingkungan hidup antara lain pertama, rata-rata sebatang pohon menghasilkan oksigen hingga 1,2 kg/hari. Bahkan pohon trembesi mengasilkan 78 kg O2 / hari (28,48 top/tahun). Seorang manusia rata-rata menghirup oksigen 0,5 kg / hari yang berarti bisa kita hitung berapa orang / hewan yang terbantu dari sebatang pohon.

Kedua, akar pohon menyerap air hujan ke tanah, mencegah air meluap menjadi banjir, mengikat air sebagai cadangan air tanah. Ketiga, pohon menghasilkan buah, daun, batang, kayu, akar, dan biji yang dapat dimanfaat kan oleh kita dan hewan. pohon menjadi tempat tinggal dan mencari makan organisme mulai burung, kupu-kupu, ulat, bahkan organisme yang tidak bisa kita lihat. Itu baru satu pohon. Bayangkan ribuan dan jutaan pohon di hutan semisal di hutan bukit Rimbang Baling Riau. Itu benar-benar aset lingkungan yang amat berharga.

Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling memiliki luas 136.000 hektar, memiliki topografi berbukit dengan kemiringan 25-100 persen. Tidak hanya sebagai habitat hewan langka, hutan bukit rimbang bukit baling juga memiliki potensi ekowisata yang masih alami. Kawasan ini memiliki tingkat keanekaragaman ekosistem yang sangat tinggi. Di kawasan itu terdapat berbagai flora, termasuk Rafflesia Merah Putih yang tergolong langka.

Selain itu, kawasan itu juga menjadi habitat lima kucing hutan, antara lain macan dahan, kucing emas, macan tutul, marble cat, dan harimau Sumatera. Hutan merupakan paru-paru bumi yang mempunyai fungsi mengabsorsi gas CO2. Berkurangnya hutan dan meningkatnya pemakaian energi fosil (minyak, batubara) akan menyebabkan kenaikan gas CO2 di atmosfer yang menyelebungi bumi. Gas ini makin lama akan semakin banyak, yang akhirnya membentuk satu lapisan yang mempunyai sifat seperti kaca yang mampu meneruskan pancaran sinar matahari yang berupa energi cahaya ke permukaan bumi, tetapi tidak dapat dilewati oleh pancaran energi panas dari permukaan bumi.

Akibatnya energi panas akan dipantulkan kembali kepermukaan bumi oleh lapisan Co2 tersebut, sehingga terjadi pemanasan di permukaan bumi. Inilah yang disebut efek rumah kaca. Keadaan ini menimbulkan kenaikan suhu atau perubahan iklim bumi pada umumnya. Bumi perlu kawasan Bukit Rimbang Bukit Baling sebagai penyeimbang.***


Hefizon Assyafei
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Rabu, 14 November 2018 - 14:30 wib

Daud Yordan Mau Istirahat Dulu

Follow Us