Sajak-sajak Cahaya Buah Hati

23 Juni 2013 - 08.55 WIB > Dibaca 8584 kali | Komentar
 
Bermain Layangan

Adalah seperti yang kuduga
halte bukanlah tempat bagimu
untuk berhenti
Angin memutar cerita baru
tentang senja yang beranjak pudar
Dan seperti dugaan mereka
bahwa waktu condong
dan meninggalkan bayangmu
di sepasang kaus kaki

Mari terbanglah rindu
bersama tatapan senja yang memerah
disanding bayang silam yang tumbuh
di mata kecil ini

Dan senja begitu saja
Andai dapat kuikat dan bertamu di matamu
dan melekat bersama
aku curiga kita tidak dapat saling melupakan

Pada senja yang ini
hanya layangan sungguh
bergegas turun



Andai Bunga Jatuh

Andai bunga jatuh
Angin akan menjadi teman yang dingin

Sepanjang rindu itu
taman meremah jauh
hangat gerak

saat lain
daun memulai tumbuh

Andai bunga jatuh
engkau tidak menua
dan selalu bersemangat



Menepi

Menepilah
Kita bercerita
Riwayat yang lewat

Menepilah meski embun
Menemu waktu
Kita yang tinggal



Anakku

Tidurlah
Dibuai bayang Ibu
Angan telah kugantungkan dijantungmu
Marilah kita patri cinta
Pada embun pertama di ujung halaman
Kelak, nak
Kita tumbuh bersama
Engkau kutunggu membawa rindu
Satu satu



Menunggu

Menunggu dalam hatimu
Adalah sebuah langkah penuntun pulang

Dan hari-hari
Kau tahu
Akan selalu datang
Pada hitungan letih

Menunggu dalam hatimu
Adalah sebungkus es tebu
Teruntukku



Pulang

Telah terdengar
Pulanglah
Nyanyian pengingat janji  
Rindu ikatlah dulu
Esok untukmu datang

Telah terdengar
Pulanglah
Di telinga    



Senapelan Kampung Bandar

Mari, dudukkan rindu
di senapelan kampung bandar

Mereka yang singgah
di senapelan kampung bandar
bermain air
arus siak
 
Seharum seberang
mereka menatah riuh
melepas langkah
peluh kesah

Di senapelan kampung bandar
kita dudukkan



Mei Juni

Kita rangkai Mei yang mengeluh
Musim gugur dan berdiam di reranting Juni
Dia menua berbicara pada bulan yang datang
Di mana Juli?
Apakah menjelang?
Bulan merenda atau jatuh.



Cahaya Buah Hati
Adalah seorang Paragrapers (anggota Komunitas Paragraf). Bekerja di SDN 65 Rumbai Pekanbaru. Pernah diundang membaca puisi pada beberapa event seperti: Temu Taman Budaya Nasional 2010, Hijrah di Purnama, Event Satelit Ubud Writers and Readers Festival di Balai Bahasa Propinsi Riau (2010), Tarung Penyair se-Asia Tenggara di Anjung Cahaya Kota Tanjung Pinang (2011), Aksi Panggung Penyair Perempuan Riau (Launching Laman Sastra For Her Pekanbaru Pos, 2011). Sajak-sajaknya dimuat di berbagai media, dan termaktub dalam buku antologi bersama seperti  Ziarah Angin (Sajak Pilihan Riau Pos, 2009), Mengucap Sungai (Kumpulan Sajak Temu Taman Budaya, 2010), Fragmen Sunyi (Sajak Pilihan Riau Pos, 2010), Rahasia Hati (Kumpulan Sajak Penyair Muda Riau, 2011), Munajat Sesayat Doa (Kumpulan Sajak FTD (2011).
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Jumat, 21 September 2018 - 10:52 wib

Tim Yustisi Amankan 58 Warga Tanpa Identitas

Jumat, 21 September 2018 - 10:11 wib

UAS Jadi Perhatian Peneliti

Jumat, 21 September 2018 - 10:05 wib

Curi Besi Alat Berat, Dua Sekawan Dibekuk Polisi

Follow Us