Depan >> Opini >> Opini >>

Idral

Harapan Terakhir untuk PSSI

9 Juli 2011 - 08.00 WIB > Dibaca 662 kali | Komentar
 

(Catatan Menjelang Kongres Luar Biasa)

MASIH teringat oleh kita ketika Tim Nasional Sepakbola Indonesia berjuang dalam AFF Cup beberapa bulan yang lalu. Ini merupakan sebuah momen yang mampu menyedot perhatian hampir seluruh rakyat Indonesia. Di partai semifinal dan final, antrean panjang terjadi untuk mendapatkan tiket pertandingan. Bahkan ada masyarakat dari daerah yang khusus datang ke Jakarta serta rela untuk antre seharian untuk mendapatkan tiket hanya untuk mendukung Tim Nasional Indonesia.

Di sepanjang kompetisi AFF Cup 2011 tersebut, hampir di seluruh rumah dan tempat-tempat keramaian di seluruh Indonesia menyelenggarakan nonton bareng mendukung perjuangan Tim Nasional Sepakbola. Fenomenan ini bukan yang pertama terjadi, namun kalau dilihat dari sebelumnya, antusiasme masyarakat Indonesia untuk mendukung sepakbola nasional saat itu sangatlah tinggi, dari anak-anak sampai orang dewasa, dari petani, sampai para pejabat dan pengusaha, semuanya larut dalam mendukung pasukan Garuda.

Para pedagang baju pun mendapat keuntungan dengan tingginya animo masyarakat mendukung Tim Nasional, membludaknya pesanan baju dan aksesoris Tim Nasional membuat para pedagang meraih keuntungan besar, sehingga dari anak-anak sampai orang dewasa laki-laki dan perempuan berbondong-bondong untuk memakai baju dan aksesoris Tim Nasional. Rasa nasionalisme begitu terasa dengan momentum perjuangan Tim Nasional Sepakbola Indonesia dalam AFF Cup tersebut, walaupun pada akhirnya Indonesia kalah dalam partai final, namun masyarakat tetap setia untuk mendukung dan terus memberikan apresiasi kepada para pemain dan pelatih yang telah berjuang untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Kemelut PSSI Meruncing
Setelah AFF Cup, kemelut ditubuh organisasi sepakbola Indonesia PSSI mulai meruncing. Bertepatan dengan akan berakhirnya pengurus PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid, banyak kelompok masyarakat menyuarakan harus ada reformasi di tubuh PSSI, dan meminta Nurdin Halid mundur dari jabatan ketua umum PSSI. Lemahnya prestasi sepakbola Indonesia menjadi alasan atas kegagalan Nurdin Halid memimpin PSSI, serta adanya indikasi menjadikan sepakbola sebagai sarana memperkuat kepentingan politik tertentu.

Setelah melalui beberapa permasalahan dan kemelut di tubuh PSSI, akhirnya pemerintah melalui Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng menyatakan tidak mengakui lagi pengurus PSSI di bawah pimpinan Ketua Umum Nurdin Halid dan Sekretaris Jenderal Noegraha Besoes, serta seluruh kegiatan keolahragaan yang diselenggarakan kepengurusan PSSI. Setelah itu FIFA merekomendasikan untuk membentuk Komite Normalisasi yang bertugas menyelenggarakan pemilihan yang berdasarkan aturan pemilihan FIFA dan Statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011. Selain itu Komite Normalisasi juga bertugas  untuk membawa liga di luar PSSI berada dalam kendali PSSI dan juga untuk menjalankan kegiatan sehari-hari PSSI dalam semangat rekonsiliasi bagi kebaikan sepakbola Indonesia. Komite ini dipimpin oleh Agum Gumelar yang juga mantan ketua umum PSSI.

Harapan besar sesungguhnya telah ada ketika Komite Normalisasi mengadakan Kongres pada 20 Mei 2011. Seluruh rakyat Indonesia sangat berharap bahwa kongres tersebut mampu memberikan hasil yang positif dan terpilihnya ketua umum PSSI yang baru serta berakhirnya kemelut panjang PSSI, apalagi pelaksanaan kongres juga bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Namun apa yang telah kita lihat, para peserta dan pemilik suara kongres ternyata lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya daripada kepentingan kemajuan sepakbola, sehingga kongres berakhir tanpa ada keputusan.

Harapan untuk PSSI
Setelah gagalnya Kongres PSSI yang kedua kalinya pada 20 Mei 2011, membuat masyarakat Indonesia dan seluruh pemain serta pecinta sepakbola menjadi khawatir akan terkena sanksinya PSSI oleh FIFA. Karena ini akan memberikan dampak yang sangat buruk bagi persepakbolaan Indonesia. Indonesia tidak akan diikutsertakan dalam setiap event atau kejuaraan resmi yang diadakan AFF atau FIFA, begitu juga klub-klub sepakbola Indonesia yang selama ini ikut dalam kompetisi di tinggkat Asia Tenggara akan dikeluarkan dari kompetisi.

Kita bersyukur bahwa FIFA tidak memberikan sanksi kepada PSSI dan memberikan peluang untuk melaksanakan kongres sebelum tanggal 30 Juni 2011. Namun dengan segala pertimbangan dan juga atas izin FIFA, Komite Normalisasi akan melaksanakan Kongres Luar Biasa pada tanggal 9 Juli ini di Kota Solo Jawa Tengah. Ini adalah sebuah momentum untuk menyelesaikan kemelut yang terjadi selama ini di PSSI.

Saat ini seluruh masyarakat Indonesia  terkhusus pecinta sepakbola Indonesia menantikan dan mengharapkan kongres ini mampu menghasilkan ketua umum dan wakil ketua umum yang baru serta pengurus yang kompeten dan profesional, sehingga mampu menyelesaikan segala kemelut yang terjadi selama ini dan mampu membawa sepakbola Indonesia semakin berprestasi. Harapan ini berada di pundak para pemegang suara atau peserta kongres nantinya. Selama ini mungkin ada yang namanya Kelompok 78, yang dijadikan sebagai kambing hitam atas gagalnya kongres pada 20 Mei 2011 yang lalu.

Kita tentu berharap seluruh peserta kongres bersatu dan memiliki satu visi untuk memperbaiki dan memajukan PSSI dan sepakbola Indonesia. Kalau sudah memiliki visi yang sama, siapapun ketuanya tidaklah menjadi persoalan. Karena PSSI ini harus dibangun dengan semangat kebersamaan, bukan untuk didominasi oleh sekelompok kepentingan saja. Kita melihat kegagalan dan kemelut yang terjadi selama ini adalah karena adanya keinginan untuk mendominasi kepentingan tertentu. Sehingga dengan segala cara untuk mendapatkan kepentingannya.

Oleh karena itu di akhir tulisan ini saya dan sekian juta rakyat Indonesia lainnya, ingin mengentuk pintu hati para peserta kongres serta komponen lainnya yang terlibat dalam pelaksanaan Kongres PSSI pada 9 Juli 2011 ini. Bahwa janganlah lagi dipertontonkan kebobroakan mental kita kepada rakyat Indonesia dan masyarakat internasional. Cukuplah tontonan kasus karupsi para pejabat atau intrik-intrik politik para politisi. Mari kita ambil semangat sportivitas dan semangat kebersamaan yang sudah ada di sepakbola selama ini untuk juga tergambar dalam proses keorganisasian di PSSI.***

Idral
Peminat Sepakbola dan Ketua Umum KAMMI Wilayah Sumbar-Riau-Kepri.
KOMENTAR
Terbaru
Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 20:40 WIB

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah
Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 WIB

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 WIB

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 WIB

Follow Us