Ada Apa dengan Mu Riau?

30 Juni 2013 - 09.01 WIB > Dibaca 2340 kali | Komentar
 
Ada Apa dengan Mu Riau?
Kesalahan apa yang telah kami cipta, sehingga cerita-cerita hanya tentang keburukan.   Tentang kebohongan, tentang tipu muslihat, tentang asap, tentang banjir, tentang  kemunafikan fikiran dan hati. Ceritakanlah Riau, ada apa dengan mu?  Sudah separah inikah dosa-dosa yang telah kami buat. Sehingga tiada maaf yang dapat  memberikan pengampunan atas kealpaan kami. Tidakkah dulu kebaikkan selalu menghampiri kami.
 
Kebaikan itulah yang melahirkan Sultan Syarif Kasim, Ismail Suko, Hang Tuah, Tuanku  Tambusai, hingga M Boya di Indragiri sana. Mengapa saat ini kami hanya kuasa melahirkan  kepiluan? Mengapa harus kami yang memerankan skenario antagonis itu. Berjuta-juta hati melihat  kami. Berjuta-juta kemarahan juga harus kami tanggung. Dari sabang hingga ke Selat Malaka.  Menusuk Singapura.

Bahkan Dulsan dan Laniem, penghuni negeri kami, menjadi bisu di tengah  kepungan api yang berasap membakar kebun sawitnya. Mungkinkah, penyebabnya kami teramat bangga dengan kebaikan tak bertuan. Merasa benar  di antara kisi-kisi kesalahan. Mendemonstrasikan keburukan dalam bungkus yang molek  bermerek benar. Memajang egoisme di balik senyum sepi yang ditanam menjulang tinggi.

Atau, apakah kami teramat cuai? Tentang dosa yang dimodifikasi menyerupai pahala-pahala.  Kebenaran ada ketika kebaikan tak mampu lagi memberi nilai-nilai. Kami seperti menzalimi  diri sendiri. Kami memaki-maki dengan kata-kata suci, bahwa hidup tak pernah ada kematian.  Padahal, ruang tak berpintu, di Salemba, Cipinang, Suka Miskin, dan lainnya telah memberi   tanda-tanda, ada kewajiban yang mesti ditebus ketika dosa-dosa menampakkan wujudnya.

Air mata apa lagi yang harus kami siapkan. Untuk sekadar memberi pengharapan. Setiap  tahun-tahun pergantian, harus ada tumbal keburukan yang menindih kehidupan. Malu. Kami  harus menanggung itu. Riau, Pelalawan, Inhu, Kampar, Rokan Hulu, Siak, apakah tak cukup  mengingatkan penyesalan kami tentang dosa-dosa.

Riau adalah kita. Berbaris, bertautan membentuk bujur sangkar, segi tiga, kubus, balok  dan ruang-ruang. Kita yang telah mengisinya. Kita jua telah memberi warna. Meskipun pengalaman sejarah tidak banyak memberi pengajaran. Sehingga kita alpa akan bait-bait arti  hidup. Bahwa waktu-waktu harus mampu mendewasakan pikiran kita.  

Ada Apa Dengan Mu Riau? Dalam ruang yang berbeda. Di sekat-sekat zaman. Di antara pertempuran keinginan dan  nafsu. Birahi dunia kami selalu mengalahkan logika-logika. Ini bukan sebuah pertanda alam.  Apalagi Tuhan yang telah bermaha-maha menghukum kita. Ini juga bukan azab, laknat, atau  pembalasan. Ini hanya sebuah tragedi, tentang mengapa kita tak bisa membaca tanda-tanda.  

Tapi sudahlah. Perjalanan ini harus terus begerak. Tiada kuasa kita untuk menahannya.  Sebab, hari-hari adalah segerumulan kecil waktu-waktu yang akan kembali dan kembali  menggilas peradaban. Detik ini, keburukan mungkin mencumbui kami. Detik berikut juga kami  tak mengerti akan seperti apa. Ada apa dengan mu Riau?......


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us