Tradisi, Jangan Sampai Menyalahi

7 Juli 2013 - 06.20 WIB > Dibaca 918 kali | Komentar
 
Tradisi, Jangan Sampai Menyalahi
JELANG Ramadan, salah satu tradisi yang sudah memasyarakat dihelat adalah petang megang, atau ada juga yang menyebutnya petang mandi belimau bekasai. Berbagai acara diadakan untuk memeriahkan helat tahunan ini. Masyarakat pun tumpah ruah ke tepian sungai, melihat dari dekat rangkaian acara yang berlangsung sambil bergembira bersama keluarga.

Ya. Petang megang atau belimau bekasai sudah jadi tradisi turun temurun di Riau. Setiap daerah punya ciri khas tersendiri dalam menghelatnya. Di Pekanbaru misalnya, yang akrab dengan sebutan tradisi petang megang, banyak acara disiapkan untuk memeriahkannya. Tak hanya masyarakat yang datang dan merasakan kemeriahan helat ini, unsur pemerintahan seperti wali kota dan jajarannya pun ikut serta turun ke tepian Sungai Siak, bersama-sama bergembira.

Di Kabupaten Kampar, petang megang dikenal dengan nama belimau bekasai. Masyarakat bergembira, bersama-sama turun ke tepian Sungai Kampar. Selain berhibur juga ada acara-acara keagamaan sekaligus silaturrahim dan juga ada pemberian santunan anak yatim serta permainan rakyat. Petang itu, tepian sungai jadi lautan manusia, bergembira menyambut datangnya bulan puasa.

Tak jauh beda, di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) pun tradisi serupa, petang belimau bekasai, dihelat. Masyarakat beramai-ramai datang ke tepian Sungai Kuantan untuk turut serta. Selain mandi belimau bekasai, bertemu sanak keluarga, bergembira dan saling tegur sapa, membuat helat ini selalu ramai diikuti tiap tahun.

Tradisi petang megang atau belimau bekasai, secara umum memanglah tidak menyalahi aturan agama. Bahkan, hakikat mandi petang megang atau belimau bekasai justru baik, yakni untuk membersihkan diri dan bergembira jelang datangnya bulan suci Ramadan. Hakikat mandi di petang itu, selain membersihkan lahir juga batin, sebelum berpuasa. Begitu juga dengan anjuran lain kepada umat Islam, salah satunya adalah bergembira menyambut datangnya bulan yang agung ini, hanya satu bulan dalam setahun.

Hanya saja, makin hari lama kelamaan tradisi helat petang megang atau mandi belimau bekasai ini semakin lari dari hakikat sebenarnya. Kecenderungan yang jelas-jelas nampak di depan mata, rangkaian helat tersebut justru malah menyalahi, baik dilihat dari sisi agama maupun dari sisi ada istiadat yang ada di masyarakat. Meski mungkin, tidak semua rangkaian helat yang menyalahi, tetapi sisi negatif tersebut justru membuat tradisi ini semakin patut dicermati bahkan dikritisi.

Salah satu yang tidak patut, misalnya, saat mandi belimau bekasai, banyak muda-mudi yang berkumpul di tepian sungai umumnya bukan muhrim, tetapi dengan terbuka dan jelas-jelas mereka bisa mandi bersama, di tempat yang sama. Ini, tentu saja tidak hanya menyalahi aturan adat istiadat, tetapi lebih dari itu, sudah menyimpang dari aturan agama.

Yang membuat miris, di tempat itu juga terkadang berkumpul pula para tokoh-tokoh masyarakat dan orang-orang yang dituakan. Namun anehnya, perbuatan-perbuatan yang menyalahi seperti tadi bukannya dilarang tetapi malah ditradisikan turun temurun setiap tahunnya. Apakah kondisi seperti ini bukannya menyalahi dan patut sama-sama diperbaiki?

Selain itu, lamanya pelaksanaan helat ini tak jarang menyebabkan semua yang ikut serta jadi lupa waktu salat. Dua waktu salat yang berdekatan saat helat ini berlangsung, yakni Salat Ashar dan Magrib, yang dilanjutkan dengan Salat Isya dan Salah Sunat Tarawih serta Witir malam pertama Ramadan.

Nah, akibat dari pelaksanaan helat petang megang dan mandi belima bekasai yang terlalu lama, kewajiban melaksanakan salat justru terlupakan. Padahal, semua bergembira untuk menyambut datangnya bulan Ramadan, tetapi begitu Ramadan datang saat azan Magrib berkumandang, justru masih banyak yang berada di tepian sungai maupun mandi di sungai. Kalau sudah begini, apakah bukan menyalahi namanya?

Maka dari itu, tradisi petang megang atau mandi belimau bekasai hendaknya dikembalikan kepada hakikatnya yang benar. Jangan sampai niat baik untuk bergembira dan membersihkan diri menyambut datangnya bulan Ramadan, justru yang terjadi sebaliknya. Bila dampak negatif (baca: mudharat) dari helat ini lebih besar dari positifnya (baca: manfaat), tentu saja tradisi ini tidak lagi patut ditradisikan. Semoga bermanfaat.***


Khairul Amri
Pemimpin Redaksi Xpresi  Magazine
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us