Ramuan Air Mandi Belimau Melayu Asli

14 Juli 2013 - 07.05 WIB > Dibaca 3223 kali | Komentar
 
Sudah menjadi tradisi zaman berzaman, menyambut tibanya tamu keagungan, bulan suci Ramadan, masyarakat Riau melakukan tradisi mandi petang belimau atau di beberapa daerah ada yang menyebutnya balimau kasai, petang megang, mandi air pecung. Yang jelasnya, kesemua itu merupakan bentuk kegembiraan menyambut bulan yang penuh berkah sekaligus berniat mensucikan diri lahir dan bathin.

Air yang diramu khusus untuk mandi belimau ternyata sejak dari dahulu kala sudah ditentukan bahan-bahannya oleh orang bijak pandai dan kaum ulama. Hal ini yang ditegaskan Hj Hasnah (80) Kami sudah ditunjuk ajarkan oleh orang-orang tua dahulu bahannya. Hingga sampai saat ini tak berubah-berubah, katanya kepada Riau Pos, saat ditemui di kediamannya, Selasa (9/7).

Hasnah yang setiap harinya membuka usaha tenun menjelaskan, bahan-bahan untuk membuat air belimau tersebut antara lain, daun pandan wangi, daun serai wangi, mayang pinang, daun limau, daun soman, daun nilam, daun mentimun, akar siak-siak, daun limau purut beserta buah limau perut. Diakuinya juga untuk mencari daun-daun tersebut sangatlah susah zaman sekarang apalagi akar siak-siak yang tumbuhnya di dalam hutan.

Kalau dulu senang mencarinya, di tiap-tiap rumah ada menanam, kenang Hasnah, tokoh perempuan yang semasa mudanya ikut mengharumkan Tanjung Rhu dari berbagai kegiatan budaya yang pernah digelutinya.

Daun dan ramuan yang telah dipilih sejak dahulu itu, menurut pengakuan Hasnah dipilih oleh orang-orang bijak dan kaum ulama karena aromanya harum. Islam amat menyenangi sesuatu yang bersih dan harum. Maka kegembiraan kita sebagai umat Islam dalam menyambut bulan kesucian dan penuh keagungan tersebut, salah satunya membersihkan diri, dengan harum-haruman dalam artian bersih diri secara lahir dan bathin. Begitulah kira-kira hajat atau maksud dari tradisi mandi belimau menurut Hasnah.

Dijelaskan lebih jauh olehnya, setelah bahan terkumpul barulah kemudian dicuci agar tidak menimbulkan gatal atau miang pada tubuh. Dan selanjutnya direbuslah seluruh daun-daun yang terkumpul itu ke dalam wadah kecuali daun dan buah limau perut karena keduanya itu dimasukkan setelah air melegak agar aromanya lebih terhidu Dimasak di dalam dandang, atau tempat besarlah katanya sambil menunjukkan wadah yang ia gunakan untuk merebus ramuan tersebut.

Proses perebusan kesemua ramuan tersebut hingga sampailah air benar-benar mendidih atau diperkirakan saja aroma atau sari pati dari daun tersebut bersebati dengan air. Bisa 3 atau 4 jamlah, kalau air kering, masukkan lagi secukupnya, tergantung seberapa perlunya kita, papar Hasnah kemudian. Bagi sebagian orang, biasanya air limau yang sudah direbus disaring lagi dengan menggunakan penyaring untuk menghindari serbuk-serbuk daun lekat di rambut.

Sebelum air belimau digunakan untuk mandi masih ada lagi campuran yang biasa dilakukan orang-orang terdahulu yang menurut Hasnah sekarang jarang dilakukan orang. Yakni membubuhkan bedak sejuk dan air wangi dari air mata duyung ke dalam air belimau yang sudah direbus tersebut. Tetapi air mata duyung yang dijual sekarang sudah tidak asli lagi, makanya mungkin tak ada orang melakukan hal itu,tambahnya.

Demikianlah beberapa ramuan untuk membuat air mandi belimau atau air pecung yang digunakan masyarakat Riau dahulunya hingga sampai saat ini pada tradisi petang megang dalam menyambut bulan suci Ramadan. hal serupa juga dipaparkan Jariah (70) yang juga tinggal di kecamatan yang sama. Jariah yang biasa dipanggil sehari-hari Atok Lombo ini menyebutkan bahan-bahan untuk mandi belimau itu sudah diajarkan dari dulunya. Inilah Bahan yang sebetul-betulnya yang dibuat orang Melayu dahulu, kata Jariah  sambil menunjukkan satu per satu daun yang digunakan untuk membuat air belimau.

Lebih jauh Jariah menyayangkan orang-orang sekarang membuat air belimau tersebut sekehendak hati saja. Lalu dicontohkan olehnya, kebanyakan orang sekarang ini menggunakan air mandi biasa yang kemudian cukup dicampur dengan bunga-bunga wangi yang banyak dijual di tepi jalan. Yang parahnya lagi air bunga yang dijual itu adalah air yang digunakan untuk ziarah kubur. Itu yang menyalah tu, katanya tegas.

Persoalannya bukan sekedar harum-haruman saja tetapi dijelaskan Jariah kesemua bahan yang telah ditentukan semenjak dahulu itu tentulah telah lengkap syaratnya. Tapi ambo tak pula tahu apa manfaat dari daun-daun pilihan itu yang jelas, itulah yang diajarkan datuk nenek kami dahulu dan itu pula yang kami turunkan kepada anak cucu kami sampai kini, tambah Jariah yang kemudian dibenarkan anaknya, Yusni (40).

Yusni mengakui barangkali bahan untuk ramuan air belimau itu agak sulit dicari sekarang ini tetapi sebenarnya kalau memang berniat untuk mencarinya, hal itu tidaklah terlalu sulit. Dicontohkan beliau keluarga dan beberapa tetangganya yang pada akhirnya dapat juga menemukan bahan tersebut. Cuma orang sekarang kan mahunya yang mudah dan instan jadi apa yang nampak terjual, itulah yang dibelinya, ucap Yusni.

Tata Cara Mandi Belimau
Setelah air rebusan selesai barulah kemudian air tersebut siap digunakan untuk mandi belimau. Adapun tata cara mandi belimau itu seperti yang dijelaskan Hj Hasnah maupun Jariah tidak ada prosesi khusus. Samalah halnya seperti mandi biasa. Hanya saja, awalnya bersihkan badan terlebih dahulu dengan menggunakan sabun mandi, bersampo setelah itu barulah kemudian dibilas dengan air pecung atau air belimau tersebut.

Namun sebelum air pecung disiram ke seluruh bandan, sebaiknya pasang niat masing-masing berkaitan dengan tekad diri sendiri dalam rangka menyambut dan menjalani puasa nantinya. Begitulah yang dipaparkan Jariah beserta anaknya ketika ditanyakan mengenai tata cara mandi belimau.

Setelah air belimau tu disiram ke badan, tak usah dibilas pakai air biasa lagi. Biarkan aroma harum itu menyatu dengan badan kita, tambah Jariah karena menurutnya ada pula orang melakukan demikian sehingga harum dari ramuan daun-daun tersebut tidak lekat di badan. Kalau sudah macam itu, samalah dengan mandi air biasa, ungkapnya.

Sementara itu, Hj Hasnah juga menyampaikan hal serupa tetapi kemudian beliau menambahkan mengenai tempat mandi. Kalau pada masa dahulunya, hampir semua orang di pinggiran sungai siak ini melakukan mandi belimau itu di tepian sungai. Tetapi sekarang kebanyakan orang tua cukup melakukannya di rumah saja.

Dahulu masing-masing rumah punya jamban sendiri-sendiri di sungai Siak itu, disanalah mereka bersama-sama mandi belimau dengan suka citanya, kenang Hasnah sambil jarinya menunjukkan arah sungai Siak.

Setelah mandi, barulah sanak keluarga beserta tetangga dekat bersalam-salaman, memohon ampun sesamanya atas dosa yang barangkali pernah dilakukan baik sengaja atau pun tidak. Itulah yang dimaksudkan mensucikan diri lahir dan bathin, tambah Hasnah.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Selasa, 13 November 2018 - 16:56 wib

Terkait Kasus Century, Miranda Diperiksa KPK

Follow Us