Kearifan Lokal Vs Globalisasi

14 Juli 2013 - 08.09 WIB > Dibaca 4136 kali | Komentar
 
Kearifan Lokal Vs Globalisasi
Riau memiliki banyak kearifan lokal yang penting dalam menjaga keseimbangan budaya, peradaban, dan  alam. Kearifan-kearifan lokal itu kadang lebih kuat mengakar dalam masyarakat tempatan dibanding aturan perundangan sekali pun. Sebab, kearifan lokal disarikan dari semangat hidup, jiwa masyarakat, yang darinya muncul kesadaran kolektif untuk ditaati dan diamalkan sebaik-baiknya. Tidak sedikit masyarakat yang enggan jika dihukum negara, tapi begitu taat ketika dihukum dan diselesaikan secara adat, ketika dua hukum (adat dan negara) ini bersinggungan satu sama lain.

Di sisi lain, manusia era modern tak dapat lepas dari fenomena kehidupan lainnya, bernama globalisasi. Secara umum, kearifan lokal seakan berbanding terbalik dengan fenomena globalisasi yang kini makin tak terbendung. Di tengah kehidupan yang sudah mengglobal, ketika setiap inci dari peta bumi ini sudah bisa dijelajahi dengan sebuah perangkat elektronik di genggaman, ketika nilai kehidupan manusia nyaris tak berbatas Timur dan Barat, masih pentingkah kearifan lokal? Pertanyaan ini tentu menggelitik akal dan nurani.

Dalam kenyataannya, globalisasi memang sudah memasuki kamar tidur anak-anak manusia, merasuki alam sadar, bahkan alam bawah sadar mereka. Remaja-remaja kota sudah begitu paham dan hapal lagu-lagu Super Junior atau Psy dengan Gangnam Stlye-nya dibanding tradisi lokalnya. Anak-anak di desa bahkan sudah kenal dan hapal betul dengan tingkah polah, karakter dan kelucuan Sponge Bob dan Patrick dibanding cerita lokal dari datuknya. Bahkan dalam igauan-igauan tidur mereka, Sponge Bob akan lebih menggaung dari pada cerita rakyat macam Legenda Putri Tujuh.

Dalam keseharian, globalisasi merambah kehidupan kita tanpa ampun. Mulai dari sandal di kaki, hingga topi di kepala adalah produk globalisasi. Seakan-akan manusia lokal, siapa pun itu, tak akan dapat lepas dari apa yang disebut sebagai globalisasi. Mulai dari kendaraan yang dipakai, mesin pompong nelayan di pedalaman hingga pisau penarah karet rakyat adalah produk globalisasi. Lalu di manakah lagi tersisa kearifan lokal kita dalam kehidupan?

Kearifan lokal adalah tata nilai yang sebenarnya dapat menahan, bahkan di satu sisi, menembus globalisasi. Kearifan lokal adalah benteng tanpa wujud yang menjaga kita tetap sebagai orang Riau, orang Indonesia, yang membedakan kita dengan masyarakat dunia lainnya. Globalisasi memang dapat menembus semua lokalitas tanpa ampun. Tapi kearifan lokal yang menjadi sebuah kebijakan (wisdom) adalah filter yang menjadikan globalisasi itu tak sepenuhnya merajalela menguasai tiap jengkal kehidupan masyarakat lokal, yang menyadari lokalitasnya.

Dalam kaitannya dengan alam dan kelestariannya, beberapa puak di Riau memiliki kearifan lokal yang ternyata ampuh dalam menghadapi hantaman globalisasi. Dalam hal hutan, Riau sesungguhnya sudah luluh lantak oleh perusahaan global yang menjadikan kayu-kayu di Riau sebagai bubur kertas untuk diekspor ke bagian mana pun di bumi ini. Tapi beberapa kearifan lokal memberikan perspektif yang elegan soal kelestarian hutan dan alam ini.

Di sejumlah tempat, Riau memiliki hutan larangan, yang sangat pantang ditebang dan dialihfungsikan. Sebutlah misalnya, hutan larangan Rumbio atau hutan larangan Buluh Cina. Dalam peta yang dibuat pemerintah, kedua hutan larangan adat ini tidak termasuk ke dalam hutan lindung, suaka atau cagar alam.

Artinya, hutan-hutan itu pada dasarnya dibolehkan negara untuk dibabat, dialihfungsikan atau dijadikan kawasan bukan hutan. Tapi kearifan lokal setempat memiliki sudut pandang yang berbeda dengan negara, sehingga hutan larangan adat itu masih tetap lestari. Kendati di sana-sini ada upaya untuk terus merusak hutan larangan adat itu, tapi sebagian besarnya tetap dijaga oleh pemangku adat setempat.

Selain hutan larangan, kearifan lokal dalam menjaga alam ini juga ada terdapat dalam kebiasaan masyarakat dalam menjaga satwa. Tak hanya satwa-satwa yang dilindungi negara, tapi juga satwa lain yang sebenarnya konsumtif, seperti ikan. Sejumlah kawasan memiliki lubuk larangan, tempat aliran air yang dilarang diambil ikannya dalam masa-masa tertentu. Ikan hanya boleh diambil ketika larangan yang disepakati sudah dicabut, dan waktu panen bersama dibuka.

Kearifan lokal ini sebenarnya sudah cukup mengglobal dan menjadi aturan baku di beberapa negara. Di Jepang, misalnya, diterapkan aturan ketat tentang moratorium penangkapan ikan di suatu kawasan laut. Moratorium itu berlaku dalam beberapa lama, hingga ikan banyak dan dewasa. Durasinya bisa dalam rentang waktu enam bulan, hingga satu tahun. Konsep seperti ini pula yang diberlakukan dan sudah menjadi kearifan lokal yang berbilang tahun dan abad di lubuk larangan Sungai Sebayang, Kampar Kiri Hulu.

Kearifan lokal masyarakat Riau memang bukan barang baru. Dalam buku Tunjuk Ajar Melayu karya budayawan Tenas Effendy disebutkan, adat hidup orang beriman, tahu menjaga laut dan hutan, tebasnya tidak menghabiskan, tebangnya tidak memusnahkan. Adat hidup memegang amanah, tahu menjaga hutan dan tanah, berladang tidak merusak hutan, berkebun tidak merusak dusun. Kalau hidup hendak selamat, peliharalah laut beserta selat. Di situ terkandung rezeki dan rahmat, di situ terkandung aneka nikmat. Apa tanda hidup beriman, tahu menjaga kampung halaman. Apa tanda hidup berilmu, memelihara alam ianya tahu.

Globalisasi memang tak dapat dicegah, karena fenomena ini sudah merasuki kehidupan kita, sekujur tubuh dan bahkan jiwa kita. Tapi kita masih bisa berdiri tegak dan menyatakan, bahwa hidup kita tak akan dapat sepenuhnya diatur oleh globalisasi. Kita masih punya rumah sendiri, tempat berpijak sendiri, tempat kita menghirup nafas dan membesarkan generasi baru. Kita masih memiliki segenap kearifan lokal yang menjadi jiwa dan semangat kehidupan. Bahkan masyarakat global seharusnya berterima kasih kepada kita yang menjaga hutan-hutan, lubuk-lubuk dan sungai, demi keseimbangan bumi dan masyarakat global pada umumnya. Kearifan lokallah yang sesungguhnya menyelamatkan masyarakat global.***


Muhammad Amin
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Rabu, 19 September 2018 - 10:50 wib

Isi Berkurang, Minta Ganti ke Pangkalan

Rabu, 19 September 2018 - 10:40 wib

Jalur Truk CPO Lumpuh

Rabu, 19 September 2018 - 10:30 wib

Simpan di Saku Celana, Pengedar Narkoba Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 10:19 wib

Sarankan Pengurangan Gaji

Rabu, 19 September 2018 - 10:16 wib

X.O Cuisine & Dim Sum Sajikan Menu yang Berbeda

Rabu, 19 September 2018 - 10:13 wib

Hotel Labersa Tawarkan Promo September Fun

Rabu, 19 September 2018 - 10:11 wib

Ramai, Pembuatan Kartu Pencaker Selesai Satu Hari

Follow Us