Pesta Kesenian Bali 2013

Praaak... Mayangpun Terburai

21 Juli 2013 - 09.21 WIB > Dibaca 2096 kali | Komentar
 
Selain mempersembahkan beberapa karya tari dan musik, grup kesenian yang diusung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau, juga mempersembahkan salah satu karya tari lagi berjudul Rentak Bulian. Tarian pengobatan yang diangkat dari tradisi Suku Talang Mamak, suku anak dalam yang tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu.

Laporan FEDLI AZIS, Denpasar

TIGA penari masuk dan berjalan beriring menuju bagian depan panggung. Ketiganya -satu perempuan dan dua lelaki- itu memberi hormat pada penonton. Perempuan pembawa mayang, berdiri selangkah di depan dua lelaki untuk meletakkan putik kelapa yang masih terbungkus pelepah dengan hati-hati. Setelah yakin dengan tugasnya, ketiganya kembali ke belakang panggung untuk segera memulai.

Suara tetawak (gong, red) yang ditingkahi calempong menjadi pembuka tarian. Beberapa detik saja, tiga penari tadi kembali masuk ke panggung dengan lima penari lainnya, tiga lelaki dan lima perempuan, melompat-lompat ringan dan mengepakkan tangan seperti burung yang sedang terbang ke angkasa. Mereka melakukan gerakan itu secara bersamaan sembari memutari panggung dari kanan ke kiri. Terlihat kompak. Mereka saling memegang pinggang orang di depannya dan gerakan itu menjadi simbol kebersamaan yang tak putus satu sama lainnya.

Spirit kebersamaan tidak hanya keluar dari perpaduan alat musik, teriakan aaa... aaa... aaa... menciptakan nuansa magis khas orang pedalaman. Komposisi gerak yang dicipta tidak jauh keluar dari aslinya -tata cara pengobatan ala suku Talang Mamak- tidak melunturkan kesakralannya. Sepasang penari berlari-lari kecil menuju mayang tadi. Sang lelaki meraih mayang itu dan menghempaskannya ke lantai hingga mayang itu terburai ke mana-mana. Teriakan lelaki, yang bertindak sebaik bomo (dukun, red) membuat tarian  itu kian berpacu dan semakin cepat. Mereka terus saja bergerak ke kiri dan kanan. Membuat komposisi melingkar dan kembali ke posisi semula hingga tarian itu berakhir.

Menurut beberapa sumber tertulis, wadian atau balian atau belian merupakan upacara pengobatan suku Dayak Bawo, Dusun, Maanyan, Lawangan, Benuaq dan Bukit. Suku-suku serumpun ini hidup bertetangga di sekitar wilayah yang berbatasan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Sedangkan pada Suku Melayu pedalaman (Suku Melayu Petalangan/Suku Talang Mamak) disebut bulian. Bulian dipakai adalah sebutan untuk orang yang mengobati (tabib atau bomo) dalam upacara pengobatan tradisional. Namun seiring perjalanan waktu, tata cara pengobatan itu dikembangkan seniman menjadi atraksi budaya atau kesenian sebagai karya baru. Salah satunya tarian Rentak Bulian yang dicipta seniman Riau Wasnury Marza sejak 1970-an silam dan bertahan hingga hari ini.

Tarian Rentak Bulian yang disuguhkan grup Tameng Sari Cance Company ini merupakan karya seniman terbaik Riau Wasnury Marza. Karya ini cukup populer di Riau namun tidak banyak yang mengetahui siapa penciptanya. Saya kira ini karya tari terbaik yang kreasikan secara apik dari tata cara pengobatan atau ritual Suku Talang Mamak. Karenanya, kami memilih tari ini untuk ditampilkan di helat ini, ungkap Kabid Pengembangan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau Helmiwaty Kadir, usai persembahan budaya Riau pada Pesta Kesenian Bali, Kamis (4/7) di Taman Budaya Bali.

Dijelaskannya, pemerintah daerah melalui Budpar Riau, saat ini sedang mempersiapkan draf untuk mematenkan tarian Rentak Bulian dan beberapa sastra lisan sebagai kekayaan Melayu. Jika tidak sekarang, maka kekayaan tersebut dikhawatirkan akan diklaim daerah atau negara lain seperti tradisi dan kesenian lainnya. Untuk itu kami perlu mendapat dukungan semua pihak, selain pemerintah daerah dan pusat, tentu saja seniman dan budayawan, tambah Emy Kadir, sapaan Helmiwaty Kadir meyakinkan.

Harus Serius
Kepala Dinas Budpar Riau Said Syarifuddin yang ikut bersama rombongan mengaku bangga pada atraksi budaya Melayu Riau di Pesta Kesenian Bali tersebut. Kegembiraan itu tidak saja ditujukannya pada Tameng Sari Cance Company sebagai grup yang mereka usung ke Denpasar, juga atas apresiasi masyarakat Bali dan turis manca negara. Kenapa tidak, meski persembahan Riau digelar pukul 11.00 WIT (pagi), namun mereka (penikmat, red) cukup ramai dan antusias menyaksikannya.

Saya kira, semuanya maksimal. Tidak hanya grup yang tampil, bahkan penonton juga antusias meski persembahan dilaksanakan pada jam kerja. Saya salut dan berbangga atas kondisi di sini, katanya.

Ditanya soal sumber daya manusia (SDA) Riau dalam bidang seni pertunjukan, Said Syarifuddin menyebut, potensi seniman di tanah Melayu satu ini tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Hal yang paling menggembirakan, ungkap Said, pelaku seni yang muda-muda di Riau, baik di Pekanbaru maupun kabupaten/kota terlihat mengalami perkembangan yang menggembirakan. Bahkan spirit generasi muda menciptakan karya-karya baru yang berakar dari tradisi Melayu cukup banyak.

Ini menjadi ciri khas kita. Bayangkan saja, anak-anak muda di Riau lebih tertarik mencipta tanpa meninggalkan tradisinya. Karena itu, pemerintah daerah, melalui Budpar Riau dan pihak lain seperti Dewan Kesenian Riau (DKR) juga terpacu untuk menyemangati mereka dengan melaksanakan program-program pendukung, salah satunya, menampilkan karya mereka di helat serupa ini.

Ditambahkannya, ke depan, pihaknya juga akan melaksanakan program yang menyentuh langsung pelaku seni, maupun anak-anak yang berminat dalam bidang seni dengan menggelar lomba-lomba dan pembinaan ke seluruh kabupaten/kota.

Pihaknya mengharapkan semua pihak ikut bersama-sama, baik pemerintah, pihak swasta, budayawan dan seniman mewujudkan harapan tersebut. Meski Said sendiri agak menyayangkan masih minimnya kucuran dana dalam pengembangan seni dan budaya tahun ini. Tahun ini, pemerintah hanya mengucurkan dana untuk kebudayaan sebesar 0,39 persen  dari APBD Riau. Jumlah tersebut tentu tidak akan mencukupi. Tahun ini, dana untuk kebudayaan terlalu minim dan kami hanya melakukan aktivitas yang memungkinkan saja, ulasnya panjang lebar.***

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us