Hari Istimewa

Peringatan Hari Puisi Indonesia

28 Juli 2013 - 07.24 WIB > Dibaca 841 kali | Komentar
 
Peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI), Jumat (26/7) malam begitu istimewa. Perayaan hari besar seniman di tahun pertama itu bertepatan pada 17 Ramadan 1434 H. Pada hari itu pula diturunkannya Alquran kepada Rasulullah Nabi Besar Muhammad SAW diawali dengan surah Iqra serta hari lahir Bapak Puisi Indonesia Chairil Anwar (26 Juli 1922 - 28 April 1949).  

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

MOMEN istimewa yang dirayakan Dewan Kesenian Riau (DKR) diberi tajuk Buka Bersama dan Tadarus Puisi. Sebuah helat yang dirayakan seniman/budayawan secara serentak diberbagai daerah, termasuk Riau. Lebih istimewa lagi, Riau menjadi tempat digagas sekaligus dilaksanakannya deklarasi Hari Puisi Indonesia pada 22 November 2012 silam. Karenanya, DKR sebagai salah satu penggagas merasa perlu menggelorakan hari penting itu dengan kegiatan yang berkaitkelindan dengan puisi dan puisi.

Perayaan tahun pertama HPI itu dilaksanakan di auditorium DKR dan dihadiri puluhan seniman/budayawan tua maupun muda (sastrawan). Selain itu juga dihadiri seratusan seniman dari berbagai percabangan seni, pelajar serta mahasiswa. Mereka saling unjuk kebolehan, membaca sajak dengan ciri khas masing-masing. Benar-benar mengkayang  puisi, baik pembacaan, musikalisasi puisi maupun visualisasi puisi. Hanya puisi dan puisi...

Sebagai negeri kata-kata dan tempat digagas serta dilaksanakannya deklarasi Hari Puisi Indonesia, kita perlu menggelorakan perayaan penting ini selama lima tahun ke depan. Tahun pertama HPI kali ini benar-benar jatuh pada hari yang istimewa. Kita patut berbangga dan merayakannya setiap tahun, ungkap Ketua Umum DKR Kazzaini Ks dalam sambutannya.

Dijelaskan Kazzaini, pada hari yang sama di berbagai daerah dilaksanakan helat serupa dengan nama dan tajuk masing-masing. Sumatera Barat misalnya, memberi tajuk Sahur Puisi, di Jakarta dengan Pekan Hari Puisi Indonesia dan lainnya. Dikatakan Kazzaini, seniman patut berbangga karena saat ini seniman/budayawan Indonesia sudah memiliki hari besarnya sendiri. Helat ini diharapkan menjadi pembangkit kreativitas seni bagi para seniman untuk menghasilkan karya-karya yang unggul.

Tadarus Puisi sendiri merupakan tradisi seniman Riau yang dimulai almarhum Dasry al Mubari dan kawan-kawan dan terus bergulir hingga hari ini setiap ramadan. Diharapkan perayaan hari besar seniman ini tidak hanya slogan belaka, tambah Kazzaini yang juga membacakan karya puisinya.

Pembaca sajak di malam HPI itu antara lain Dang Mawar, Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Yoserizal Zen, Raja Isyam Azwar, Kazzaini Ks, Suharyoto Sastro Suwitnyo dan Hukmi, Adimir, Jefri al Malay, Kunni Masrohanti, Dewi Mulkhaidah Ningsih, Herlela Ningsih, Ekky Gurin Andika, Khairani, M Fikri, Amesa Aryana, Murdok, Eriyanto Hadi, Hirvan Nur, Wahyu Muali Bone dan banyak lagi. Tampil pula Matrock dengan karya musikalisasi puisi karya sastrawan Riau Taufik Ikram Jamil dan Rida K Liamsi. Di sambung dengan visualisasi puisi oleh Hang Kafrawi, Monda Gianes, Deni Afriadi dan Kabut Azis.  

Sastrawan Riau Taufik Ikram Jamil yang juga mantan Ketua Umum DKR menyebut, keistimewaan-keistimewaan perayaan Hari Puisi Indonesia yang pertama ini mengingatkan seniman untuk berkarya dan berkarya. Sebuah karya akan menjadi besar jika semakin banyak dibaca sama halnya dengan kitab suci. Jika karya itu tidak pernah dibacakan maka sulit akan besar.
    
Dipaparkannya, dalam bulan ramadan ini semua kitab Allah diturunkan dan Alquran yang diturunkan diawali dengan surah iqra yang berarti bacalah. Begitu pula puisi yang harus terus dibacakan. Bahkan Khalifah Umar bin Kattab yang dikenal sebagai penyair hebat di zaman Jahiliyah masuk Islam setelah membaca surah Taha. Surah yang dibacanya dari ayat 1-5 yang dapat melembutkan hati yang keras dan sebagai doa pendinding diri itu menyentuh hatinya dan memeluk Islam pada hati itu juga dihadapan Nabi Muhammad SAW.

Maka bacalah puisi agar karya itu semakin besar. Karena surah yang pertama turun juga berarti bacalah, bacalah, ujarnya menegaskan.

Hari Besar Seniman
Hari Puisi Indonesia telah disepakati sebagai hari besar seniman di Indonesia setelah dideklarasikan di Pekanbaru, 22 November 2012 silam pada helat Pertemuan Penyair Nasional dan Deklarasi Hari Puisi Indonesia. Pemuliaan puisi sebagai salah satu karya terbaik di dunia itu ditandai dengan penandatangan plakat teks deklarasi Hari Puisi Indonesia oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri disaksikan hampir seluruh sastrawan perwakilan provinsi di Anjung Seni Idrus Tintin. Hari Puisi Indonesia diprakarsai DKR dan Yayasan Sagang dengan konseptor seperti Rida K Liamsi, Ahmadun Y Herfanda, Asrizal Nur, Jamal D Rahman, Kazzaini, Agus R Sarjono dan Maman S Mahayana.

Hari Puisi Indonesia sendiri disesuaikan dengan tanggal lahirnya Bapak Puisi Indonesia Chairil Anwar pada 26 Juli. Selain Chairil di juluki Si Binatang Jalang, dia juga dikenal sebagai penyair terkemuka Indonesia. Selain pelopor Angkatan 45 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin lalu dinobatkan HB Jassin sebagai pelopor puisi modern Indonesia. Sutadji Calzoum Bachri pada deklarasi HPI tahun lalu mengatakan, Kenapa Chairil Anwar? Karena beliau lebih populer dan total berkesenian dalam hidupnya tapi bukan pula kita mengkultuskannya sebagai dewa tapi sekadar pengingat saja.

DKR dan Yayasan Sagang akan terus merayakan hari penting ini untuk memuliakan puisi dan penyairnya, jelas Kazzaini.

Ditambahkannya, sebelum hari puncak kemarin, DKR lebih dulu menggelar helat bertajuk Kolaborasi Puisi Se Riau di Anjung Seni Idrus Tintin yang diikuti puluhan grup. Lomba tersebut juga menjadi lomba kolaborasi puisi pertama yang digelar DKR. Menariknya lomba tersebut dinilai oleh lima dewan pengamat dari lima percabangan seni seperti Syaukani al Karim (sastra), Zuarman Ahmad (musik), Musrial al Hajj (teater), Sayfmanefi Alamanda (tari) dan Dantje S Moeis (seni rupa).

Sementara itu, pemenangnya antara lain LNd Dance Theatre, Teater Matan dan Sanggar Pusaka SMKN 1 Pekanbaru (juara pertama hingga tiga) serta tujuh pemenang non peringkat seperti Latah Tuah, Rumah Sunting, Blacan Art Community, Teater Senja SMAN 5 Pekanbaru, Komunitas Ketjik dan Sanggar Keletah Budak.

Selain helat Hari Puisi Indonesia, DKR sebelumnya juga menggelar helat Kolaborasi Puisi untuk menyemangati seniman, terutama generasi muda untuk mengenal puisi secara mendalam. Kolaborasi Puisi juga menjadi jalan masuk untuk generasi muda mencintai puisi sehingga mau menulis dan membacanya, kata Sekretaris Umum DKR Eriyanto Hadi di sela-sela acara.***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 13:40 wib

Verdivir Juara I MBtech Awards 2018 di Palembang

Selasa, 25 September 2018 - 13:39 wib

Minta Tolong Dicarikan Pekerjaan

Selasa, 25 September 2018 - 13:36 wib

Suka Fajar Paparkan Ketangguhan Triton

Selasa, 25 September 2018 - 13:30 wib

Honorer Tuntut Status PNS

Selasa, 25 September 2018 - 13:15 wib

Penjualan Ritel Turun 4,13 Persen

Selasa, 25 September 2018 - 13:03 wib

Honorer K2 Desak Penangkatan menjadi PNS

Selasa, 25 September 2018 - 13:00 wib

Mahasiswa Tuntut Perjuangkan Hak Petani

Selasa, 25 September 2018 - 12:54 wib

Genjot Ekspor, LPEI Fokus Winning Commodities

Follow Us