Ghazali Tak Balek Kampung

4 Agustus 2013 - 09.13 WIB > Dibaca 1338 kali | Komentar
 
Ghazali Tak Balek Kampung
Belum lama ini saya kebetulan berjumpa dengan mahasiswa Vietnam yang sedang belajar di UIN Suska, namanya Ghazali, di kampungnya (Vietnam) kalau Hari Raya Idul Fitri, orang-orang yang  merantau pun pulang. Layaknya di Indonesia, orang Champa (Melayu Vietnam) mereka juga menggelar acara silaturahmi setelah salat Idul Fitri. Makanan yang tersedia pun beragam, anak-anak mengenakan baju baru. Tapi Idul Fitri tahun ini Ghazali tidak bisa pulang kampung. Wajahnya terlihat lesu, mengingat orang tuanya di kampung nan jauh di Negeri Champa.

Ghazali adalah salah satu umat Islam yang rindu akan kampung halaman saat Hari Raya Idul  Fitri. Tradisi pulang kampung di saat Idul Fitri bukan hanya milik Indonesia, atau Riau  khususnya, tetapi juga umat Islam lainnya di belahan dunia ini. Cuma bentuknya yang  berbeda. Kalau di Malaysia, tidak terjadi desak-desakan di pelabuhan, berebut tiket kereta api, berebut tiket bus, bahkan ada yang mengendarai sepeda motor sampai lintas provinsi, seperti kita saksikan saat menjelang hari raya di lintas Barat (balek kampung ke Sumbar), lintas Utara (balek kampung ke Sumut), lintas Timur (balek kampung ke Jambi). Itulah fenomena balek kampung, kalau di Jakarta istilahnya Mudik, artinya pulang ke udik (kampung).

Bagaimana rasanya kalau mendengar suara takbir pada malam Idul Fitri sementara diri kita jauh keluarga di kampung. Sedih rasanya. Suara takbir mengumandang diiringi beduk membuat orang yang jauh dari kampung nekad pulang kampung walau hanya menggunakan sepeda motor menempuh ratusan kilometer. Yang penting sampai kampung, tanpa melihat risikonya.

Mengapa suara takbir hari raya membuat kita rindu orang tua, rindu abang, kakak, adik, anak, tetangga, orang-orang di kampung? Sebab dalam alunan takbir itu mengagungkan kebesaran Allah. Diucapkan berulang-ulang. Bahasanya sederhana. Dan kita pernah mengucapkan ketika kecil dulu, dan bahkan kita ulang lagi saat ini. Suara takbir itu pun pernah kita dengarkan langsung dari emak dan abah kita di kampung, walau dulu tidak menggunakan mikropon.

Suara takbir itu juga pernah kita ucapkan di saat kita belum mengenal dunia luar yang luas, yang penuh tantangan.

Suara takbir itu pernah kita ucapkan ketika pikiran kita belum dicekoki oleh beban hidup yang berat dan penuh tantangan.

Suara takbir itu yang pertama kali duduk di pikiran kita ketika kita masih bersih. Ungkapannya indah, dan membuat hati jadi tenang.

Suara takbir itu pernah kita dengarkan dari jamaah di kampung yang sederhana, di masjid atau musala yang dibangun dari kayu dan berlampukan colok.

Suara takbir itu dulu pernah kita ucapkan bersama-sama teman-teman sebaya dengan hati yang ikhlas, walau dengan penuh canda tawa rasa riang menyambut Idul Fitri.

Suara takbir itu kembali kita dengar di saat kita sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah merasakannya lagi suasana itu. Maka wajar, saat mendengarkan suara takbir itu, mata kita pun tak menahan tangis.

Kita berusaha tegar, untuk tidak cengeng. Tapi, suara takbir itu begitu besar muatannya. Tapi bukankah Rasulullah juga pernah menangis, dan pemimpim besar di dunia pun pernah menangis. Menangis itu bagian dari kekuatan, yang menunjukkan bahwa seseorang itu mesih memiliki keseimbangan antara logika dan rasa.

Maka wajarlah kalau kita tidak mampu menahan rindu. Rindu masakan ketupak emak di kampung. Rindu bersalaman dengan emak dan abah saat bermaaf-maafan, bahkan kadang disertai tangis. Rindu dengan teman-teman di kampung, apa kabar mereka?

Semua terangkum dalam satu hari, yang disebut hari raya Idul Fitri. Kalau di Arab disebut dengan Idul Mubarak, di Indonesia ada yang menyebut lebaran atau hari raya Ketupat (Hari Raya Qurban untuk Idul Adha) dan masih banyak sebutan lainnya.

Setiap orang memiliki kesan tersendiri dengan hari raya Idul Fitri, namun umumnya kesan yang kuat adalah kesan berhari raya saat kecil bersama keluarga di kampung. Kesan ini sulit  dihilangkan dalam pikiran, karena suara takbir itu setiap tahun berulang lagi dan mengingatkan masa lalu yang indah, masa lalu yang sederhana bahkan bisa dikatakan kekurangan, tapi nyaman, lucu dan sebagainya. Maka wajar jika Ghazali, anak Melayu dari Negeri Champa itu, menangis rindu akan emak abahnya di negeri nan jauh di sana. Sebab kita yang hanya berjarak beberapa kabupaten dan provinsi saja ingin balek kampung, apalagi Ghazali.***


Jarir Amrun
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us