Joget Asli Tetap Dinanti

18 Agustus 2013 - 08.51 WIB > Dibaca 2681 kali | Komentar
 
Jengger jolok
Jengger jolok
Jengger jolok jolok jolok dak inang
Mengkodok itik inang
Mengkodok ayam
Dapat kawan cantik inang
Tak tidou malam


Laporan FEDLI AZIS, Kepulauan Meranti

BEGITULAH bait demi bait lirik dari lagu andalan kelompok Joget Asli Senandung Malam. Lagu yang bertemakan gurau senda ini menjadi favorit penonton yang hadir pada helat Hiburan Lebaran Tempo Doeloe yang ditaja pemuda desa Sejangat, Kecamatan Bukit Batu-Bengkalis pada (11/8). Kontan saja, begitu lagu yang berjudul Jengger Jolok tersebut dilantunkan, beberapa dari penonton yang terdiri dari anak muda bahkan orang tua, ikut turun ngebeng bersama penari atau anak panggung yang memang personil dari kelompok Senandung Malam.

Di atas panggung berukuran sekitar 4X4 meter itu, mereka menari sesuka hati dengan iringan rentak joget penghibur hati. Panggung sederhana yang sengaja ditegakkan di tanah kosong di mana kiri dan kanannya kebun salah seorang warga. Di tepi kiri dan kanan panggung tampak pula pohon pisang dan beberapa tumbuhan kebun lainnya. Semua itu menambah keasrian suasana acara joget tersebut layaknya bersettingkan masa dulu.

Lalu masing-masing dari penonton yang naik ke atas panggung, secara spontan memilih pasangan penarinya. Penari atau anak panggung yang memang bertugas melayani setiap penonton yang ikut menari dengan senang hati pula menyambut dengan senyuman dari pasangannya. Sementara penyanyi dengan suara khas melengkingnya terus menandungkan bait demi bait lagu sambil sesekali tersenyum bahkan tertawa melihat gelagat para penonton yang ikut menari bersama.

Tak ketinggalan juga penonton yang menyaksikan dari bawah panggung juga ikut tersenyum dan tertawa menyaksikan kerenah dan lengak-lenggok para penari di atas panggung. Meskipun tidak mau atau enggan ikut menari namun terlihat dari beberapa penonton yang kakinya ikut bergoyang mengikuti tempo lagu joget yang nonstop dimainkan para pelaku joget yang berasal dari Tanjung Padang-Meranti tersebut. Diantara nyanyian dan senandung, terdengar pula kicau MC yang menambah kegairahan para penari yang sudah terlena di atas panggung. Ewah... ewaah..!

Kelompok joget asli Senandung Malam terdiri dari sembilan orang. Mereka semua merupakan suku asli atau suku akit yang bermastautin di desa Tanjung Padang Kabupaten Kepulauan Meranti. Kelompok ini menurut pengakuan Okoun selaku penyanyi sekaligus pimpinan grup baru dua tahun ini berdiri dan memulai bermain joget. Sudah lama sekali kami tak pernah berjoget, terakhir saya menyanyi joget saat berumur 15 tahun mengikuti nenek saya dan kelompoknya berjoget, terang perempuan yang sudah berumur 52 tahun tersebut.

Dikisahkannya, awal mula memulai kembali berjoget disebabkan suatu hari Okoun pergi ke kampung seberang yakni desa Lalang Kecamatan Sungai Apit. Tatkala itu ia melihat kelompok joget di sana sedang bermain joget. Dalam kesempatan itu ia meminta izin untuk menyanyikan dua buah lagu. Seingat saya, dua buah lagu itu adalah Damak dan Gunung Banang, kenangnya. Setelah selesai bernyanyi disebutkan Okoun ternyata banyak yang memuji suara khas melengkingnya itu. Salah seorang dari mereka yang dia lupa namanya mengatakan supaya Okoun menghidupkan kembali kelompok joget di kampungnya yang pada era 60-70an sangat populer.

Berbekal semangat dan panggilan jiwa, sekembalinya ke kampung, Okoun perempuan yang keturunan asli akit itu pun mengumpulkan beberapa orang kampung yang hendak dan punya niat yang sama dengannya. Dan dengan sedikit modal yang dimilikinya, mulailah ia membeli perlengkapan yang diperlukan, mulai dari alat musik dan pakaian. Semuanya pakai modal saya sendiri, tak ada seperak pun bantuan dari pemerintah hingga sampailah ke detik ini, kenangnya.

Yang menjadi persoalan pada waktu itu adalah pemain biola. Kalau penari dan pemain gendang bisalah dicari, tutur Okoun yang ketika ditemui sedang asik memakan sirih. Tapi kemudian ia tak berputus asa, keinginannya untuk melanjutkan kegiatan yang pernah dilakukan neneknya dulu sudah menggebu-gebu. Akhirnya dijumpainyalah orang tua yang dulunya pernah bergabung dengan salah satu kelompok joget yang pernah ada di kampungnya. Orang tua yang ditemui itu sudah berusia 80 tahun, namanya Kiloh.

Kiloh belajar biola secara otodidak. Yang penting ikut saja lagu yang dinyanyikan sebab biola ni sama dengan suara, ada lembut ada kerasnya. Kami di kampung tak ada pelatih jadi bermain dengan hati sajalah, ucap orang tua tersebut.

Kiloh juga mengakui, awalnya agak susah tetapi kemudian setelah keseringan bermain dan secara naluri ia pun hafal setiap lagu yang dinyanyikan, jadi dia hanya mengikuti irama lagu saja. Bayangkan sajalah, kadang kami main joget dari jam 8 sampai tengah malam, satu malam tu kami kadang sampai 60 lagu, macam mana tak hafal, ucapnya.

Sejak diaktifkan kembali, Grup joget Senandung Malam ini sudah tampil di mana-mana baik di Kabupten Meranti, Bengkalis bahkan sampai ke Pekanbaru. Disebutkan Okoun, ketua grup ini mereka selalu tampil di acara nikah kawin, sunat, kekah, halal bihalal dna lain-lain. dan bisanya mereka memasang target harga berkisar Rp2.500.000 sampai Rp3 juta.

Tengok yang ngundang, kadang ada juga yang bayar lebih, apalagi yang mengundang itu pejabat, kata Okoun tersenyum yang kemudian menampakkan seleret gigi depan yang ternyata ada duabatangnya merupakan gigi emas.

Terkait dengan persiapan mereka sebelum bermain joget,dijelaskan Okoun, mereka tak pernah latihan kecuali awal terbentuknya dulu. Karena memang diakuinya mereka sudah sehati secara emosional. Kalau awal-awal dulu, kita sibuk latihan sambil mengingat dan mengahafal lagu-lagu joget Melayu yang pernah populer seperti Tabik, Tanjong Katong, Serampang Laot, Damak, Ke Binaria, Baju Merah dan lain-lainnya.

Ditambahkan Okoun, apalagi kalau untuk tampilan bebas seperti malam itu. Bebas yang dimaksudkan adalah main joget sebagai hiburan belaka di mana setiap penonton boleh naik ikut menari. Tetapi jikalau permintaannya untuk tampil sebagai persembahan, mereka terlebih dahulu latihan terutama untuk melatih gerakan penari. Persembahan biasanya diminta tampil tiga lagu, dan tak ada penonton yang ikut menari jadi gerakan penari saya harus ditata sedikitlah, ujarnya.

Di samping sebagai pelaku joget, dalam keseharian mereka bekerja layaknya orang akit lainnya yang ada di Tanjung Padang.

Wardi sebagai pemukul gong atau tetawak bekerja membuat atap rumbia sebagai mata pencahariannya sehari-hari. Begitu juga dengan Jumat, pamain gebano satu dan Apeng, pemain Gebano uda. Tak da kerja tetap lainnya selain buat atap itulah, walaupun kadang kami ke laut cari ikan dan sedikit berkebun untuk keperluan sehari-hari, ucap Wardi yang kemudian diamini kawan lainnya.

Berbeda dengan Kiloh, pemain biola itu, dengan usianya yang sudah merangkak senja, tak ada pekerjaan lain selain sebagai pemain dalam kelompok joget asli Senandung Malam.

Sedangkan Okoun selaku ketua, beliau memang tak ada kerja. Beliau lebih sering berjalan-jalan ke luar kota untuk mencari orderan kelompok jogetnya. Kadang saya ke Selat Panjang, ke Pekan dan ke Batam, ucapnya.

Sementara itu, para penari perempuan yang rata-rata berumur belasan tahun itu tidak pernah mengecap sekolah. Mereka hari-harinya membantu orang tua, di dapur atau di kebun. Macam mana nak sekolah, nanti tak bisa ikut main joget kalau ada undangan ke luar kota macam ini, sela Okoun pula.

Berkaitan dengan keberadaan joget asli ini, Aki Man alias Ali Baba (65), seniman kampung yang mengaku sewaktu muda adalah penggila joget menyebutkan joget dahulu macam berhantu. Banyak sekali anak-anak muda jaman dulu berhabis duit demi bisa untuk turun ngebeng. Bahkan menurut Ali Baba, gara-gara joget ini, banyak pula keluarga yang berantakan dan bercerai berai. Dulu tu kalau dah terdengar gong dari kelompok joget, semua pekerjaan akan ditinggalkan demi berjoget. Bertukang, tinggal alat tukang, Nelayan tinggal kayuh dan sampan, anak istri pandai-pandailah sendiri demi main joget. Makanya banyak istri yang marah karena tak hanya buang duit tapi juga adapula yang main kayu tiga dengan penari atau anak panggung, kenang Ali Baba yang merupakan penyanyi handal di kampung Sejangat.

Dikisahkan juga Ali Baba, joget dahulu tak sama dengan sekarang terkait dengan bayaran. Kalau dulu tak ada istilah carteran atau dibayar atas tampilan mereka seperti hari ini. Dulunya grup joget buka laman sendiri, kadang mereka menetap hampir satu bulan di suatu desa kemudian barulah ke desa lainnya. Sebagai penonton yang hendak menari harus membeli karcis dari penyelenggara mereka. Jadi yang tak ada karcis tak boleh ngebeing, katanya. Dan hal ini jugalah kemudian diakui Ali Baba yang menyebabkan kadangkala terjadi perkelahian antara sesama penonton yang tidak kebagian tiket.

Memang pada tahun 60-70 an dulu kesenian joget ini begitu populer, hal itu menurut Ali Baba karena tak ada hiburan lain. Jangankan televisi, Radio saja hanya beberapa buah yang dimiliki warga. Sehingga tak heran apabila ada joget, hampir tiap-tiap warga terutama lelaki pergi bermain joget.

Terlepas dari semua itu, Ali Baba mengacungkan jempol kepada grup joget asli Senandung Malam karena menurutnya mereka yang notabene adalah suku Akit mau melestarikan kesenian Melayu dengan kondisi mereka yang serba kekurangan. Dan terkait dengan kegiatan yang ditaja anak muda desa Sejangat ini, selaku orang tua, Ali Baba serasa ditarik ke jaman dahulu sewaktu masih muda. Acara joget malam ini bagi kami yang sudah tua semacam diajak bernostalgia ke masa-masa dulunya, ucapnya puas.

Senada dengan itu, selaku penggagas acara Hiburan Lebaran Tempo Doeloe, Datuk Indra Abdurrab menyebutkan satu-satunya tujuan dilaksanakan acara tersebut adalah khusus memberi hiburan kepada orang-orang tua karena menurut beliau, selama ini jikalau pas hari raya, hiburan hanya untuk anak muda seperti band atau orgen tunggal. Jadi kali ini kita suguhkan musik Melayu asli yang sengaja saya undang dari Seberang untuk menghibur masyarakat terutama orang tua-tua, jelasnya.

Indra Abdurrab adalah anak jati Bengkalis yang sudah resmi mendapat gelar Datuk dari sultan Pahang-Malaysia atas prestasinya di bidang musik. Beliau memang sudah belasan tahun merantau di negeri jiran tersebut dan kini sudah menjadi warga tetap di sana. Tapi yang namanya kampung kelahiran tetap lekat di hati, ucap Datuk Indra Abdurrab mengakhiri.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 22 November 2018 - 11:30 wib

Berkas Pengedar 4 Kg Sabu Disiapkan

Kamis, 22 November 2018 - 11:15 wib

Plafon Kantor Distankan Inhu Ambruk

Kamis, 22 November 2018 - 11:01 wib

Bupati dan Wakil Bupati Inhil Resmi Dilantik

Kamis, 22 November 2018 - 11:00 wib

Bupati dan Wakil Bupati Inhil Resmi Dilantik

Kamis, 22 November 2018 - 11:00 wib

23 KK Harus Mengungsi

Kamis, 22 November 2018 - 10:45 wib

Pesta Narkoba, Oknum Personel Polres Dumai Terancam Dipecat

Kamis, 22 November 2018 - 10:30 wib

Camat Harus Cepat Kuasai Wilayah

Kamis, 22 November 2018 - 10:15 wib

Kapolsek Bakar PETI di Kebun Pemda

Follow Us