Depan >> Opini >> Opini >>

Syahrul Akmal Latif

Radikalisme dan Teror Bom

11 Juli 2011 - 05.38 WIB > Dibaca 953 kali | Komentar
 

TAK seorang pun terlahir untuk menjadi budak. Tak seorang pun berusaha untuk mengalami ketidakadilan, penghinaan dan ketidakberdayaan (restrictions). Manusia yang hidup dalam kondisi sub-human sama dengan hewan —seekor atau keledai yang berkubang dalam lumpur. Saat ini egoisme segelintir (previledged) mengiring umat manusia yang tak terhitung jumlahnya ke kondisi sub-human ini, sehingga mereka mengalami ketidakberdayaan, penistaan dan ketidakadilan, tanpa kepastian masa depan, tanpa harapan. Kondisi mereka adalah kondisi para budak. Kekerasan yang dimapankan ini, yakni kekerasan nomor satu, memancing kekerasan nomor dua berupa pemberontakan.

Tentu saja dalam kekerasan nomor dua ini terdapat berbagai variasi, perbedaan tingkatan dan nuansa dari benua ke benua, negara ke negara dan kota ke kota, tetapi pada umumnya di dunia ketiga dewasa ini, mata kaum tertindas sudah mulai terbuka. Kaum penguasa dan kaum yang diuntungkan (previledged) diingatkan oleh kehadiran orang-orang baru yang mereka sebut elemen subversif, agitator atau komunis. Yang disebut belakangan ini kadang-kadang adalah orang-orang yang menganut salah satu ideologi ekstrim, yang berjuang demi pembebasan kaum tertindas dan memilih kekerasan bersenjata.

Para penguasa dan kaum yang diuntungkan melawan kedua kelompok di atas. Bagi mereka, orang-orang yang atas nama agama mereka berkarya demi reformasi fundamental demi perubahan dalam struktur-struktur, telah murtad dari agamanya demi politik, jatuh dalam leftisme atau sekurang-kurangnya adalah orang-orang yang tanpa sadar akan kesalahannya sedang menyiapkan jalan untuk komunisme. Terhadap dua argumen sanggahan sikap tersebut. Para pengusaha dan kaum yang diuntungkan yakin bahwa tanpa kehadiran para agitator, rakyat yang tertindas akan tetap tertutup matanya, pasif dan tidak bergerak.

Dewasa ini, dengan tersedianya semua alat transportasi dan komunikasi sosial (termasuk radio transistor) adalah aneh berpikir bahwa pertukaran ide dan penyebaran informasi dapat dicegah, dan anti komunisme yang monolitik dan obsesional menimbulkan banyak absurditas. Yang utama adalah membiarkan ketidakadilan berlanjut karena menanganinya bisa jadi membuka pintu menuju komunisme. Rakyat tertindas memperoleh kesempatan untuk melaksanakan aksi langsung, mereka terlibat dalam agitasi yang kurang lebih mendalam, menyakitkan dan berlangsung lama. Bila rakyat sudah jatuh dalam fatalisme karena habis harapannya, atau bila reaksi yang terlalu keras untuk sesaat membungkam mereka, maka kaum mudalah yang muncul.

Kaum muda tidak lagi sabar menunggu kaum yang diuntungkan melepaskan hak-hak istimewanya. Kaum muda sangat sering melihat pemerintah terlalu terikat pada kelas yang diuntungkan. Kaum muda kehilangan kepercayaan pada agama, yang menginformasikan prinsip-prinsip yang indah, tulisan-tulisan yang hebat, kesimpulan-kesimpulan yang piawai, tetapi tidak pernah memutuskan untuk menerjemahkan  prinsip-prinsip itu dalam kehidupan nyata. Karena itu kaum muda semakin banyak yang berpaling pada tindakan radikal dan kekerasan. Di beberapa tempat kaum muda adalah kekuatan idealisme, nyala api, lapar akan keadilan, haus akan otentisitas. Di tempat-tempat tertentu, dengan antusiasme yang sama, mereka mengadopsi ideologi-ideologi ekstrim dan menyiapkan perang gerilya di kota dan seluruh negeri.

Penyebab Munculnya Radikalisme
Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja, tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Di antara faktor-faktor itu adalah: Pertama, faktor-faktor sosial-politik. Gejala kekerasan agama lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaprah oleh Barat disebut sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa memburuknya posisi negara-negara muslim dalam konflik Utara-Selatan menjadi penopong utama munculnya radikalisme.

Kedua, faktor emosi keagamaan. Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut) walalupun gerakan radikalisme selalu mengibarkan bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan mati sahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.

Ketiga, faktor kultural ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatar belakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asy’ari bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai anti tesa terhadap budaya sekularisme. Budaya barat merupakan sumber sekularisme yang dianggap sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bumi. Sedangkan fakta sejarah memperlihatkan adanya dominasi barat dari berbagai aspeknya atas negeri-negeri dan budaya muslim.

Keempat, faktor ideologis anti westernisme. Westernisme merupakan suatu pemikiran yang membahayakan muslim dalam mengapplikasikan syariat Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus dihancurkan demi penegakan syariat Islam. Walaupun motivasi dan gerakan anti Barat tidak bisa disalahkan dengan alasan keyakinan keagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikalisme justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban.

Kelima, faktor kebijakan pemerintah. Ketidakmampuan pemerintah di negara-negara Islam untuk bertindak memperbaiki situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagian umat Islam disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari negera-negara besar. Dalam hal ini elit-elit pemerintah di negeri-negeri muslim belum atau kurang dapat mencari akar yang menjadi penyebab munculnya tindak kekerasan (radikalisme) sehingga tidak dapat mengatasi problematika sosial yang dihadapi umat.

Di samping itu, faktor media massa (pers) barat yang selalu memojokkan umat Islam juga menjadi faktor munculnya reaksi dengan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Propaganda-propaganda lewat pers memang memiliki kekuatan dahsyat dan sangat sulit untuk ditangkis sehingga sebagian kelompok ekstrim yaitu perilaku radikal sebagai reaksi atas apa yang ditimpakan kepada komunitas muslim.Nauzubillah. ***

Syahrul Akmal Latif
Ketua Jurusan Kriminologi UIR, Jebolan Program S3 UKM Malaysia.
KOMENTAR
Terbaru
Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam
Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk
Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 WIB

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 WIB

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 WIB

Follow Us