Mutiara dalam Diri Manusia

18 Agustus 2013 - 09.31 WIB > Dibaca 1108 kali | Komentar
 
Mutiara dalam Diri Manusia
Dahulu, di ujung sebuah desa hiduplah seorang pertapa dengan sepuluh muridnya, tulis Prof sastra Ingris Eknath Easwaran asal India dalam sebuah bukunya. Pertapa itu amat dihormati di seluruh desa tersebut. Hingga suatu hari seorang gadis desa menuduhnya telah bermaksiat dengan dirinya. Kontan warga desa gempar. Warga datang beramai-ramai. Sang pertapa dicacimaki dan dianiaya berat. Padepokannya dihancurkan dan dibakar. Nama baik dan reputasinya hancur. Murid-muridnya pergi meninggalkan dirinya.

Ia lalu jadi sebatangkara. Pertapa itu melanjutkan hidupnya dengan mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya di pasar. Dia tetap ramah dan tersenyum pada penduduk di desa itu meski semua orang mencibirnya. Tidak tergores dendam dan kebencian di hatinya meski dia tak diberi kesempatan membela diri ketika itu. Hingga akhirnya sang gadis tak tahan melihat hal itu dan menyampaikan pengakuan yang sebenarnya. Ia telah dibayar oleh seseorang di desa itu agar membuat pengakuan palsu atas kejahatan yang tidak pernah dilakukan oleh si pertapa.

Penduduk desa kaget. Lalu beramai-ramai datang ke gubuk si pertapa minta maaf.  Si pertapa tidak berubah. Ia tetap ramah menerima permintaan maaf itu. Wargapun kembali membangun padepokan yang telah hancur itu. Kesepuluh muridnya datang lagi setelah mendengar kenyataan itu. Murid-muridnya heran lalu bertanya mengapa dia terlihat tetap bahagia ketika dapat ujian maupun ketika dapat nikmat.  Ia lalu berkata. “Pandangan manusia terhadap kita akan berubah-ubah. Hanya pandangan Tuhan yang tidak berubah terhadap kita karena DIA lah yang paling tahu siapa kita sebenarnya,” ujar si pertapa.

Prof Eknath kemudian mengulas bahwa itulah sikap hidup orang yang memiliki mutiara dalam dirinya. Mutiara itu adalah ketulusan.  Sebuah keyakinan yang dalam dan tulus kepada Tuhan. Bahwa lebih baik menjaga pandangan Tuhan terhadap kita dari pada menjaga pandangan manusia terhadap kita. Sebab mata  manusia mungkin bisa dibohongi.  Boleh jadi kita dihormati oleh manusia tetapi hina di mata Tuhan. Atau sebaliknya, boleh jadi seseorang  hina di mata manusia tetapi mulia di mata Tuhan.

Mata manusia memang cenderung memuliakan kebendaan. Dunia menghormati pemilik emas, perak, kemashyuran dan kekuasaan tanpa peduli darimanapun hal itu mereka dapatkan. Kecendrungan itu, kata Prof Eknath, didorong oleh nafsu. Ada banyak nafsu dalam diri kita yang mengungkapkan dirinya hampir di setiap kesempatan.  Apakah itu dalam kesempatan kampanye, pergaulan sosial,  ceramah, pidato, baliho-baliho,  sikap dan gerak-gerik, perkataan dan perbuatan yang kita lakukan.

Juga ketika memberi bantuan sosial untuk rumah ibadah, orang miskin, korban bencana  dan lainnya. Perbuatan baik dan amal ibadah pun bisa dikotori kepentingan nafsu dan mencari pandangan manusia. Alquran mengingatkan kita bahwa amal yang dikotori nafsu ini kelak di hari kiamat akan ditiup seperti debu yang berterbangan alias tidak bermanfaat bagi pelakunya. Nafsu kerap menutupi wajah kita yang sesungguhnya. Hanya dengan menjauhinya kita dapat melihat diri kita yang sebenarnya.

Diri kita yang sebenarnya adalah fitrah (suci) pada mulanya. Namun nafsu kemudian mengotorinya. Permusuhan, kebencian, kemarahan, kedengkian adalah produk-produk batin yang didorong oleh nafsu. Meminta maaf, memberi maaf, mengasihi dan menolong adalah sifat-sifat batin yang didorong oleh ketulusan (keikhlasan). Idul Fitri adalah sebuah makna kembali ke fitrah yang merupakan mutiara diri kita. Kita hanya bisa kembali ke fitrah bila kekotoran batin telah dibersihkan dengan tobat dan bermaaf-maafan.

Di hari baik bulan baik ini mari kita saling bermaaf-maafan dengan hati yang tulus. Sebagai manusia siapapun kita tak sepi dari dosa dan kesalahan. Ulurkan tangan sebagai permintaan maaf kepada sesama. Jabatlah tangan yang terulur agar dosa antara sesama kita berguguran pula. Kita isi kemerdekaan negeri ke-68 dengan kebaikan. Mari merdekakan diri dari  belenggu nafsu egoisme  dan keserakahan. Semoga***


Helfizon Assyafei
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us