Jung Diminati Zaman Berzaman

1 September 2013 - 08.36 WIB > Dibaca 1311 kali | Komentar
 
Tak peduli berpanas, biar berbasah-basahan, penat badan pun tak jadi masalah, bahkan sudah putih janggut, bertempah pula membawa cucu untuk melibatkan diri dalam permainan lomba Jung. Inilah sebuah permainan tradisional rakyat Bengkalis yang bertahan zaman berzaman.

Laporan FEDLI AZIS, Bengkalis

LOMBA Jung adalah permainan tradisional rakyat Bengkalis yang sudah ada sejak lama. Permainan ini pada masa lalu sama populernya dengan permainan gasing, sepak raga (takraw, red) dan layang-layang. Permainan ini sememang sudah ada dari zaman datuk nenek moyang kami dahulu lagi, papar Umar salah seorang peserta kepada Riau Pos di sela-sela persiapan jelang pertandingan.

Jung merupakan perahu kecil yang berukuran 1 meter 80 centimeter. Ukuran ini pun disebut Jung Panjang. Ada juga jung dengan ukuran yang lebih pendek, yakni 1 meter 50 centimeter dan 1 meter 30 centimeter. Kedua jung ini disebut jung pendek. Jung panjang itu lebih laju ketimbang jung pendek. Bentuk sama hanya ukurannya saja yang berbeda, jelas Umar.

Buchari yang juga merupakan salah seorang peserta menjelaskan secara rinci bagian-bagian dari jung. Sembari menunjukkan satu persatu bagian itu, dia mulai menjelaskan nama-nama dari bagian serta fungsinya. Kayu yang digunakan untuk membuat jung dari kayu pulai karena menurutnya, hanya kayu pulai yang agak lembut dan tidak liat sehingga mudah untuk membentuknya. Pembuatan jung ini agak memakan waktu sedikit, ujar Buchari.

Setelah mendapatkan kayu yang akan gunakan, langkah pertama yang harus dilakukan mengeringkannya sekitar satu pekan. Barulah kemudian kayu tersebut dapat dibentuk sesuai dengan keinginan sang pembuat. Pada proses pengukiran bentuk ini disebutkan Buchari paling cepat menghabiskan waktu 15 hari.

Selanjutnya jung yang sudah selesai dibentuk, di ampalas sehalus mungkin. Ini juga menghabiskan waktu karena pekerjaan mengamplas itu berkali-kali sampai jung benar-benar halus dan licin, ucap lelaki yang sehari-harinya bekerja sebagai petani dan nelayan.  
Setelah itu agar jung tampak lebih menarik, di cat sesuai dengan selera masing-masing. Jung juga memiliki beberapa bagian lainnya yang berfungsi sebagai penyeimbang, seperti yang dijelaskan Buchari. Diantaranya ada yang disebut Anak Patil. Anak Patil tersebut bentuknya juga seperti jung namun lebih kecil dengan ukuran jung dibagi tiga. Sebagai pengiring dan penyeimbang, posisi anak patil tersebut terletak di sebelah kiri jung yang dihubungkan oleh gando patil.

Gando Patil yang ukurannya harus pula sama panjang dengan jung berfungsi sebagai penghubung. Pangkalnya dilekatkan di pertengahan badan jung dan ujungnya melekat pada pertengahan badan anak patil. Ukuran gando patil tidak boleh lebih atau kurang dari ukuran jung karena fungsinya juga sebagai penyeimbang, jelas Buchari.

Bagian berikutnya ada yang disebut tali temberang atau tali suai. Tali temali tersebut ada yang menghubungkan tiang layar ke gando patil. Selebihnya terhubung pada layar sekaligus membentuk layar. Kain layar itu sendiri berukuran dua meter yang dipotong songsang atau menyerong membentuk segi tiga. Jenis kainnya harus parasut karena kalaupun terkena air, ia tidak basah dan menjadi berat, kata Buchari.

Ditambahkannya kalau orang tua dahulu mereka mempergunakan plastik sebagai kain layar karena susah untuk mendapatkan kain parasut seperti sekarang ini. Layar sebagai penyeimbang memiliki peran penting karena juga berfungsi untuk menentukan kelajuan dari jung yang dibuat. Angin yang datang itu kan langsung menghantam layar dan hal itulah yang membuat jung bergerak, katanya lagi.

Ada lagi yang namanya bam layar yaitu kayu kecil yang terletak di bawah layar bagian belakang, direkatkan ke kain layar sebagai pengembang layar. Kayu untuk menegakkan layar disebut andang-andang layar atau tiang layar terdapat di tengah-tengah badan jung yang berdiri tegak. Jadi intinya, seluruh bagian dari jung harus diukur dengan teliti karena akan berpengaruh terhadap kelajuan jung itu sendiri, jelas Buchari.

Sebanyak 142 jung sudah berjejer di sepanjang tebing laut Selat Baru, Kabupaten Bengkalis pada Sabtu (24/8). Jung dengan aneka warna tersebut siap-siap untuk dilepaskan ke laut dalam rangka perlombaan Jung bersempena Hut ke-68 RI tajaan Disbudparpora Kabupaten Bengkalis.

Sebagai sebuah identitas, setiap jung diberi nama oleh yang empunya jung. Selain itu diakui Buchari, penamaan tersebut juga dijadikan sebagai sugesti dan penyemangat dalam perlombaan yang akan diikuti. Ada keunikan tersendiri dari nama-nama jung tersebut karena menggunakan kata-kata yang hampir jarang terdengar saat ini atau bahkan gabungan dari beberapa kata yang bermakna menggelikan hati. Seperti Tedung Tebu, Raja Mura, Gulung Ikal, Angka Song Sang, Kiong Mas, Raja Manau, Panglimo Itam, Anak Cicak, Teritip Pantai dan lain-lain. Nama yang dibuat tu untuk penyemangat saja, kata Buchari.

Matahari hampir saja tegak di atas kepala ketika perlombaan permainan Jung dimulai. Namun sebelum itu, para peserta atau team yang terdiri dari dua orang yakni pelepas jung dan penangkap jung diperbolehkan untuk mencoba atau menguji jung-nya masing-masing. Tak ayal lagi, tumpahlah para pemain jung di laut Selat Baru beserta aneka warna-warni jung yang telah mereka buat sesuai dengan kehendak mereka. Ratusan orang-orang yang terdiri dari tua dan muda itu terendam air laut hampir sepinggang. Mereka berkejar-kejaran, tertawa, bergurau senda, terpekik-pingkau dalam proses uji coba perlombaan Jung tersebut. Siapapun yang melihatnya pastilah akan setuju ada nuansa semangat kebersamaan, kekeluargaan serta perjuangan di sana.

Kepuasan dan lancarnya jalan permainan tradisional yang satu ini sangatlah tergantung kepada alam yakni arah dan  kekuatan angin. Semakin kencang angin bertiup, semakin laju pula luncuran jung setelah dilepas. Buchari menjelaskan perlombaan jung yang ditaja di Selat Baru tersebut sangat mengharapkan angin dari laut atau angin utara.

Begitu lomba jung dimulai, seluruh peserta sudah turun semua ke laut. Dikarenakan ramainya peserta, maka lomba dilaksanakan dengan membagi beberapa sesi. Satu sesi terdiri dari 15 orang. Dari 15 itu nantinya akan diambil tiga sebagai pemenang sesi yang kemudian akan diadu lagi dengan pemenang sesi berikutnya.

Riuh rendah pun tak dapat dielakkan lagi begitu sesi demi sesi dimulai. Suara panita dari megaphone yang mengontrol jalannya perlombaan beserta kecipak air diselingi dengan teriakan-teriakan peserta menambah suasana menjadi seru. Dari pantauan Riau Pos, bertambah serunya acara tersebut karena jung yang sudah dilepaskan dari garis star akan melaju menuju garis finish yang berjarak sekitar 90 sampai 100 Meter. Tetapi seperti yang disampaikan Buchari, semuanya tergantung angin. Jika angin stabil bertiupnya dalam artian tidak berubah-ubah arah, maka luncuran dari jung sangatlah laju tetapi sebaliknya jika angin tidak menentu, maka tak jarang dapat dilihat jungnya tertunam ke air atau malah berhenti tiba-tiba. Tak jarang juga jung meluncur menyimpang dari tempat perlombaan, ada yang menuju ke tengah laut dan ada pula yang meluncur ke tebing pantai. Hal itu pula yang menjadi hiburan bagi penonton. Melihakt jung tertunam dan meluncur tak jelas arah, sorak sorai dan ketawa pun keluar sepontan dari mulut mereka.

Ujang (63) salah seorang penonton menyebutkan demikianlah suasana kalau sudah lomba jung. bukan hadiah itu benar yang diharapkan para peserta akan tetapi semangat dan suasana riuh rendah serta kebanggaan itulah yang tak terbayar dengan uang. Kalau jaman datuk nenek kami dulu, jung siapa yang menang itulah yang kemudian jadi bahan pembicaraan berhari-hari, ucap Ujang yang asyik duduk di sebuah warung sambil menikmati kelapa mudanya.

Diceritakan Ujang lebih jauh, permainan tradisional jung tersebut terkadang juga bisa mengambaikan pekerjaan. Karena kalau sudah ada perlombaan, sesiapa yang memang memiliki hobi bermain jung ini tahan berhabis duit, tahan bersusah payah untuk tetap bisa terlibat bermain. Kalau tak ikut main, hati tu resah tak tentu arah, ucap warga Selat Baru tersebut.

Tak hanya itu, menurut Ujang permainan tradisional ini dulunya tak sembarang pula bermainnya. Demi untuk mempertahankan gelar juara, tak jarang para peserta memakai pawang supaya jungnya dapat meluncur dengan laju dan lurus. Kalau saat ini, satu tim hanya terdiri dari dua orang kalau dahulu, ditambah sayu orang lagi yaitu pawang. Adapun posisinya tegak di tebing pantai. Sang pawang akan memantau jalannya perlombaan.seolah-olah sang pawanglah yang menggerakkan jung atau mengatur arah angin agar jung tetap berselancar dengan mulus sampai ke garis finis. Jadi kalau orang-orang tak berisi yang ikut zaman dulu tu cuma sebagai pelangkap saja karena setiap perlombaan yang ditaja, sang juara sedaya upaya akan tetap mempertahankan gelar juaranya, papar Ujang.

Sebagai penonton pun harus hati-hati, kata Ujang lagi.  Jangan sesekali melangkah jung yang belum diturunkan ke laut, biasanya ada saja bala yang didapat begitu sampai di rumah. Menurut Ujang, sebelum jung diturunkan ke laut itu biasanya menunggu pelangkah yang tepat. Tapi itu jaman dulu. Orang sekarang tak lagi macam tu, ucapnya.

Sebagai warga, Ujang berharap permainan tradisional ini hendaknya terus dilestarikan oleh pemerintah karena disamping permainan ini merupakan warisan turun temurun juga menjadi ajang silaturahmi kepada kawan-kawan yang tinggal di daerah-daerah lainnnya. Dijelaskan Ujang, beberapa tahun lalu, acara serupa ini mengundang peserta dari Kabupaten bahkan provinsi lainnya. Mulai dari Batam, Tanjung Pinang, tanjung Balai dan lain-lain. Jadi lebih terasa meriah dan suasana kebersamaannya, tuturnya mengakhiri.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Jumat, 21 September 2018 - 14:45 wib

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Follow Us