Dari Pentas Opera Primadona

Bukan Kejutan Biasa

8 September 2013 - 07.37 WIB > Dibaca 896 kali | Komentar
 
Pementasan karya berjudul Opera Primadona suguhan Teater Selembayung Riau, menjadi penting dalam perjalanan dunia teater Riau. Selain mendapat apresiasi dari 1600-an apresiator, ternyata pementasan ini menjadi karya berdurasi terpanjang dan termahal selama 17 tahun usia komunitas tersebut.

Laporan ERWAN SANI, Pekanbaru

TEATER merupakan salah satu dari percabangan seni di mana media ekpresinya dengan menggunakan gerak, dialog dan laku. Namun proses dalam berteater tidak hanya bagaimana berlakon dengan baik akan tetapi teater juga memiliki fungsi sebagai media edukasi karena teater adalah kehidupan itu sendiri.

Naskah lakon Opera Primadona selesai sudah dipentaskan oleh komunitas Teater Selembayung. Pementasan yang berlangsung tiga malam berturut-turut pada 29-31 Agustus 2013 di Anjung Seni Idrus Tintin itu merupakan pertunjukan dengan durasi terpanjang dari produksi Teater Selembayung sepanjang 17 tahun ini. Dengan durasi tiga jam pementasan tersebut menjadi sebuah tantangan bagi Teater Selembayung untuk lebih menunjukkan eksistensinya dalam dunia perteateran.

Naskah lakon karya Nano Riantiarno (Teater Koma) itu mengisahkan tentang cerita di balik persaingan. Peristiwa yang terjadi di saat, dan setelah tepukan gemuruh para penonton yang takjub serta tercerahkan usai menonton pertunjukan sandiwara. Kisah ini menjadi menarik karena jarang diangkat di ruang publik, ucap Fedli Azis selaku sutradara.

Pertunjukan dimulai dengan sebuah nyanyian yang dilantunkan oleh salah seorang aktris Ririn Jauharaini. Ia melantunkan sebuah lagu dengan nuansa 60-an. Lagu yang dibawakan menjadi pembuka cerita karena bait demi baitnya menceritakan tentang sosok Seroja sebagai tokoh utama di dalam cerita.

Begitu selesai lagu dilantunkan, layar pun terangkat ke atas, tampaklah dua orang tokoh tua yang sedang berada di dalam kamar tidur. Kedua tokoh tua, lelaki dan perempuan tersebut Seroja diperankan Chairanny Putri dan Atan Sengat diperankan M Fikri Satria Kamal. Kedua tokoh tua yang hidup sebagai suami-istri itu memulai cerita dengan mengingat kenangan masa mudanya. Seroja dengan segepok surat penggemar masa lalunya selalu hanyut akan kenangan. Kenangan sewaktu dia masih menjadi primadona dalam sebuah kelompok opera. Diantara serakan surat yang terus dibaca itu ada sebuah surat yang berasal dari mantan kekasihnya, Megat Sejagat. Hal itu pulalah yang membuat Atan Sengat, suami Seroja yang sah merasa cemburu. Demikianlah, adegan pertama sebagai pembuka cerita.

Adegan berikutnya, merupakan kisah flash back. Kisah di mana Seroja muda, ketika gadis kampung itu menjadi primadona dan menjadi rebutan dalam grup sandiwara Miss Kecubung maupun grup-grup sandiwara saingannya. Megat Sejagat selaku salah seorang aktor di grup Miss Kecubung, Rojali selaku sutradara dan termasuklah Atan Sengat yang sewaktu muda juga merupakan aktor di dalam grup sandiwara itu. Ketiga lelaki ini bersama lelaki hidung belang lainnya melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta suci dari Seroja.

Selain itu kisah lakon Opera Primadona dipertajam dengan konflik di mana sewaktu Seroja berada di puncak kesuksesan dan ketenarannya, Miss Kecubung, istri Rojali yang diperankan Mimi Suryani berusaha menghalang-halangi hal itu dengan berbagai cara karena Miss Kecubung merasa cemburu dan sakit hati, keberadaan Seroja membuat posisinya sebagai primadona tersingkirkan, jadilah dia mantan primadona di kelompok sandiwaranya sendiri.

Miss Kecubung tidak peduli, meskipun dirinya sudah termakan usia, dia tetap berniat merebut posisinya kembali. Berbagai trik dan intrik dilakukan bahkan sampai menyewa seorang bomo (dukun, red) untuk menjatuhkan Seroja. Dalam kisah itu juga tampak prilaku Miss Kecubung yang merupakan tokoh antagonis memiliki sikap dan tabiat buruk. Dia terus saja memperbarui susuk dan guna-guna untuk mencapai tujuan busuknya, namun pada akhirnya Miss Kecubung terlempar jauh ke dalam lumpur kenistaannya sendiri.

Sementara itu, kisah cinta yang berbelit-belit, menggairahkan di satu sisi dan memuakkan di  sisi lainnya menjadi bumbu yang menarik pula untuk disimak. Hanya orang yang memiliki kesabaran dan kesetiaanlah yang keluar sebagai pemenang. Rojali yang diperankan oleh Sujarhadi akhirnya meninggal dalam keterpurukannya sebagai orang yang gagal baik selaku sutradara maupun suami.

Begitu juga Megat yang diperankan Ekky Gurin Andika, pun meninggal dalam dunia gemerlapnya sebagai lelaki playboy. Sementara itu, lelaki lainnya yang turut dalam kancah merebut cinta Seroja seperti Haryo, Godam dan Astuman mengalah lalu pergi entah ke mana. Tinggallah Atan Sengat dengan tetap berbekalkan kesetiaan dan kesabaran yang menggunung meraih piala cinta dari Seroja meskipun didapatnya dengan melewati berpuluh-puluh tahun lamanya ketika usia sudah beranjak senja.

Naskah lakon yang menggunakan alur bolak balik itu, ditutup oleh Fedli dengan sangat mengesankan. Adegan terakhir yang kembali ke masa di mana Seroja dan Atan Sengat sudah tua terangkai dalam melankolis dan romantisme kehidupan. Seroja yang cintanya selama ini hanyalah untuk megat, akhirnya dapat dimiliki oleh Atan Sengat seutuhnya. Fedli menutup pementasannya melalui laku kedua aktor tersebut memadu asmara yang disimbolisasikan ketika Atan Sengat dan Seroja bersama-sama menghembus lilin yang ada di atas meja, dan akhirnya black out.

Supaya garapan Opera Primadona dipergelarkan menarik dan memikat, Fedli menyebutkan berbagai upaya telah dilakukan. Ia menyebutkan misalnya bagaimana unsur tarian dan nyanyian menjadi pilihan untuk mengisi celah-celah dari setiap adegan. Tak hanya itu, Fedli juga menambahkan musik dalam pementasan Opera Primadona ini tidak hanya berfungsi membangun suasana akan tetapi, banyak dialog-dialog yang kemudian harus dinyanyikan oleh aktor sembari membuat gerakan-gerakan tari. Ya... durasi pementasannya kan panjang, jadi saya berusaha untuk tetap menjaga tempo permainan. Selain memasukkan unsur-unsur komedi di dalam cerita, musik juga sangat membantu dalam hal menjaga tempo permainan. Dan terlebih lagi, keberlangsungan pertunjukan ini karena adanya kerja sama antara sutradara, aktor, penata panggung, penata musik, make up dan kostum dan seterusnya, papar Fedli.

Kazzaini Ks selaku Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR) menyebutkan Teater Selembayung menampilkan sesuatu yang surprise, menampilkan pertunjukan dengan durasi yang panjang namun tetap membuat penonton tidak ingin beranjak dari tempat duduknya. Saya sangat beruntung berkesempatan menonton pertunjukan ini karena menurut saya ini bukan pertunjukan biasa, ujar Kazzaini.

Memang ditambahkan Kazzaini opera atau teater bangsawan bukanlah sesuatu yang asing di negeri Melayu, teater-teater tradisi yang dimiliki Riau rata-rata dimainkan dengan melibatkan tarian dan nyanyian. Menempatkan musiknya pas sekali, sehingga kita benar-benar larut dalam kisah yang disuguhkan, tambah Kazzaini.

Senada dengan itu seorang sastrawan Riau, Fakhrunas MA Jabbar menyebutkan, apa yang dilakukan Teater Selembayung sebuah kejutan besar. Ternyata seniman teater di Riau mampu mengadaptasi naskah-naskah besar seperti karya Nano Riantiarno menjadi sesuatu yang berlatar belakang ke-riau-an. Apa yang dilakukan Fedli dan timnya, menurut Fakhrunas patut diberi apresiasi apalagi dengan melibatkan pemain-pemain baru yang notabene, mereka rata-rata anak sekolahan yang berpotensi. Saya berharap sanggar-sanggar teater yang berpotensi di Riau ini hendaknya mendapat perhatian dan dukungan dari institusi atau dinas terkait sehingga mereka dapat terus berkarya dengan hati demi kemajuan kesenian Riau, ucap Penyair Riau tersebut.

Keaktoran
Pemilihan naskah Opera Primadona  disebutkan Fedli  hanya untuk menantang diri melakukan sesuatu di luar kebiasaan garapan Teater Selembayung yang selama ini menggarap naskah-naskah berdurasi satu sampai dua jam saja. Tantangan lainnya adalah bagaimana meramu atau memadukan sisi keaktoran yang notabene berasal dari aktor senior Selembayung dan aktor-aktor baru dari Teater Senja SMU Negeri 5 Pekanbaru.

Upaya yang dilakukan Fedli selaku sutradara adalah dengan menempatkan para pemain pada porsi dan tempat yang tepat. Tinggal di selang-seling saja. Misalnya satu senior, dua atau tiga junior, aku Fedli.

Diakuinya, awalnya memang nampak ketara sekali perbedaan permainan antara aktor. Ekky, Mimi, Sendy al Pagari dan Aziz Fikri selaku aktor yang sudah lebih dahulu mengecap pengalaman berteater, bermain dengan leluasa, tempo terjaga, emosi stabil, aksi reaksinya hidup. Sedangkan pemain lainnya termasuk Chairanny Putri (peran Seroja), Atan Sengot, Rojali,  dan pemain-pemain lainnya bermain tidak seimbang.

Tapi kemudian disebutkan Fedli, teater itu bicara proses. Ia selaku sutradara melihat ada perkembangan dan penyesuaian dalam proses latihan hari demi hari. Para aktor pemula yang mereka rata-rata anak SMA, setiap kali latihan menunjukkan keseriusan, mau belajar, dan bertanya untuk terus memantapkan permainan akting mereka. Dengan berbagai kiat, akhirnya peran masing-masing dari aktor pun dapat mereka mainkan dengan maksimal. Hal yang saya tekankan adalah bagaimana upaya  untuk mengangkat emosi dan rasa bagi pemain agar bisa seimbang akting dan pemahamannya, jelas Fedli.

Chairanny Putri, pemeran Seroja menyebutkan, pertamanya cukup sulit karena dia mengaku selama ini hanya pernah berakting di dalam kelas dalam materi pelajaran drama. Baru pertama sekali ikut terlibat dalam garapan teater sebesar ini, ucap siswa SMAN 5 Pekanbaru tersebut.

Tapi Chairanny tak lantas berputus asa, dia mengaku terus mencoba belajar dan belatih  dari senior-senior dengan cara menerima masukan dan melakukan pencarian sendiri di luar jam latihan. Rasanya saya sudah bermain secara maksimal tapi tetap saja masih ingin lebih. Pokoknya tetap ingin jadi aktorlah, ucap gadis tersebut.

Sujarhadi yang berperan sebagai Rojali juga menyebutkan untuk terus ingin berteater. Lelaki yang mengaku baru dua kali terlibat bermain teater itu mengatakan kesulitan yang paling utama dalam pementasan Opera Primadona adalah perubahan-perubahan usia. Ia selaku Rojali, memainkan peran dalam dua usia yakni usia 20-an dan 40-an tahun.

Hal itulah yang kemudian terus dicari jalan keluarnya dengan terus berusaha melihat karakter seorang sutradara, membaca naskah-naskah yang sudah lama dan mencari karakter yang unik dan agak susah. Awak pun bermain sudah maksimal tapi rasanya tak puas-puas. Mungkin nak main lagi ni, ucap Sujarhadi.

Sementara itu, Ekky Gurin Andika yang berperan sebagai Megat Sejagat menyatakan tidak menjadi persoalan bermain dengan durasi panjang. Selaku aktor yang sudah lama berproses, ia memiliki kiat tersendiri dalam hal mencari karakter yang diperankannya. Ya, eksplorasi dan observasi yang tentunya saya lakukan terus menerus, jelasnya.

Ekky menambahkan justru yang agak berat dalam pementasan Opera Primadona adalah mencari karakter sebagai Don Juan. Megat Sejagat itu di dalam cerita sebagai tokoh yang hidupnya bergelimang dengan wanita-wanita, jantan miang alias play boy gitulah, ucap aktor muda Riau yang pernah pentas monolog dengan judul Gelombang Sunyi pada 2011 tersebut.

Monda Gianes selaku penonton menyebutkan dan mengakui lakon yang berdurasi panjang ini akan menjenuhkan untuk ditonton tapi ternyata tidak. Hal itu dikarenakan kemampuan aktornya sangat dipersiapkan. Ditambahkan Monda, walaupun kesenjangan permainan antara aktor senior (Teater Selembayung, seniman) dan aktor junior (Teater Senja, pemula) beberapa kali wujud dalam adegan-adegannya.

Tetapi itu pulalah yang saya lihat tengah diujikan oleh sutradara dalam produksi Opera Primadona ini. Perbedaan proses terbentuknya keaktoran masing-masing mereka (pemain) menjadi pencapaian watak dan kemahiran bermain yang berbeda pula, tahniah Teater Selembayung, terang Monda yang juga merupakan pelaku teater asal Sanggar Matan.

Musik
Musik dalam pementasan Opera Primadona seperti yang disampaikan Fedli sangatlah berperan aktif. Di samping menghidupkan dan membumbui suasana dari masing-masing adegan, musik juga menjadi bagian dari pertunjukan. Hal ini dapat dilihat dan didengar dari pertunjukan, sebanyak 12 lagu diciptakan sang penata musik yang diambil dari dialog-dialog aktor.

Saya mengajak Matrock, pimpinan Blacan Aromatic untuk menggarap musik di pertunjukan Opera Primadona ini, kata Fedli.

Sementara itu, Matrock menyebutkan proses pencarian dan pembuatan musik berlangsung sejak Mei 2013 lalu. Dari hasil diskusi yang panjang dengan sutradara, akhirnya Matrock dan timnya mendengarkan lagu-lagu era 60-an dan 70-an sebagai referensi. Sesuai dengan permintaan sutradara, setting cerita tahun 1960-an dan 1970-an, jadi saya mencoba menarik benang merah nuansa musik pada jaman itu, ucap Pimpinan Belacan Aromatic tersebut.

Ditambahkan Matrock, dalam proses penciptaan musik tak ada kendala yang berarti. Hanya saja menemukan kesan dan nuansa itu yang agak sulit karena diakuinya, pijakan pementasan teater Opera Primadona tersebut adalah opera di mana musik menjadi bagian yang amat penting. Saya misalnya di samping menciptakan musik suasana, kami juga harus menciptakan 12 lagu dari penggal dialog para aktor, tambahnya.

Sementara itu, Rino Deza Paty mengatakan musiknya jelas. Maksudnya mewakili tempat-tempat atau setting dari cerita yang disuguhkan. Hanya saja menurut Rino ada beberapa bagian yang terdengar overlap dengan dialog-dialog pemain. Tapi tak begitu kentaralah, barangkali terkait dengan keadaan gedung kita yang belum bisa maksimal untuk digunakan, jelasnya lagi.

Regenerasi
Produksi Teater Selembayung kali ini disebutkan Fedli memiliki capaian dan alasan tersendiri, terutama pemilihan kerja sama dengan siswa/i SMAN 5 Pekanbaru. Hal itu diakuinya juga sudah dipikirkan masak-masak. Adapun tujuannya jelas untuk melanjutkan regenerasi sehingga dunia akting makin diminati generasi muda.

Ditambah lagi, Teater Selembayung memang membina generasi muda dengan membentuk dua komunitas binaan, diantaranya Sanggar Keletah Budak (tingkat SD dan SMP) dan Blacan Art Community (tingkat SMA) yakni pemain Opera Primadona, selain anggota Teater Senja SMAN 5.

Dijelaskan Fedli, upaya seperti ini harus terus digalakkan dalam rangka regenarasi teater di Riau ke depannya. Fedli menyebutkan pencapaian pementasan Opera Primadona yang lainnya juga bagaimana mengupayakan penonton yang hadir tidak hanya dari kalangan orang-orang yang tahu dengan teater saja tetapi juga menggaet penonton awam untuk turut hadir bersama-sama mengapresiasikan pertunjukan teater.

Sehubungan dengan itu, Rida K Liamsi, salah seorang penyair dan budayawan Riau menyebutkan, apa yang dilakukan Teater Selembayung adalah upaya untuk mengajar dan mendidik penonton terutama generasi muda dalam hal mencintai teater.

Kemasan kisah yang dikemas secara modern, ada komedi dan tidak menanggalkan pesan cerita sesungguhnya membuat pementasan ini asyik ditonton. Selamat dan sukses Teater Selembayung, ucap Rida singkat.

Terkait dengan itu, Ekky yang sehari-hari bekerja sebagai guru di SMA Negeri 5 Pekanbaru menyebutkan, keterlibatan anak-anak SMA yang mereka semua adalah merupakan remaja memiliki dampak yang positif untuk referensi. Di samping itu, para siswa bisa mengalami secara langsung bagaimana berproses dalam seni teater. Di mana teater sebagai media edukasi dapat pula secara tidak langsung membentuk sikap dan perilaku anak-anak dalam menyikapi persoalan kehidupannya. Teater juga berpotensi bagi pelakunya untuk bisa lebih dewasa dalam menjalani hidup. Karena dalam berteater juga diajarkan bagaimana bertanggung jawab, berorganisasi, berargumentasi dan disiplin, ulasnya.

Ekky juga berharap, kalau bisa dalam dua bulan sekali harus ada pertunjukan-pertunjukan seni yang bisa diapresiasi oleh anak-anak sekolah, jadi hal itu bisa sejalan dengan materi di sekolah. Artinya mereka belajar teori dan kemudian dapat mengapresiasi langsung pertunjukan-pertunjukan seni, tegasnya.

Sementara itu, Chairanny menyatakan keterlibatannya dalam pentas Opera Primadona merupakan pengalaman berharga. Dia menjadi semakin tahu dunia seni. Selama ini, diakui Chairanny hanya bisa menonton pertunjukan seni di Anjung Seni Idrus Tintin tapi akhirnya dia bisa ikut dalam pementasa teater. Lagipula tidak semua anak sekolah mendapat kesempatan untuk bisa mengikuti pertunjukan sebesar ini, ungkapnya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us