Pemimpin

8 September 2013 - 07.57 WIB > Dibaca 1542 kali | Komentar
 
Pemimpin
Gema Setara
Helat demokrasi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau (Pilgubri) 2013-2018 baru saja usai dalam hitungan hari. Alhamdulillah tahapan-tahapan pelaksanaan Pilgubri di Riau berjalan dengan baik. Hasilnya pun sudah sama-sama diketahui walau hasil final siapa yang bakal menjadi teraju di negeri ini masih harus menunggu keputusan atau penghitungan manual yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau pada 13-14 September mendatang.

Tepatnya Rabu (4/9) kemarin jutaan masyarakat Riau diberbagai pelosok menyalurkan hak suaranya. Ada lima kandidat yang bertarung masing-masing Drs H Herman Abdullah MM-dr H Agus Widayat, H Annas Maamun-Arsyadjuliandi Rahman, Ir H Lukman Eddy-H Suryadi Khusaini, Drs H Achmad-Drs H Masrul Kasmy dan pasangan H Jon Erizal-Drs H Raja Mambang Mit.

Masyarakat harus menunggu keputusan dari KPU terkait hasil akhir siapa yang bakal menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Riau atau apakah Pilgubri ini akan berlangsung dua putaran. Masing-masing kandidat menyatakan merekalah yang berhasil meraih suara terbanyak. Hanya pasangan H Jon Erizal-Drs H Raja Mambang Mit yang tidak mengklaim kemenangan mereka, keduanya menyatakan menunggu keputusan dari KPU.

Dalam Pilgubri 2013-2018 ini memang tidak ada lembaga survey independen yang melakukan hitung cepat (quick qount), KPU Riau sengaja melakukan hal itu. Ketua KPU Riau Ir H Tengku Eddy Sabli mengungkapkan soal tidak adanya hitung cepat ini karena memang dasar hukumnya tidak ada. Karena landasan hukumnya tidak ada, maka KPU tidak menyelenggarakannya. Baik undang-undang atau peraturan KPU, tak mengatur dan mewajibkan menyelenggara hitung cepat dalam Pilgubri.

Karena tidak adanya hitung cepat itu berakibat pada kebingungan masyarakat. Mereka tidak mengetahui secara cepat siapa gubernur dan wakil gubernur untuk periode lima tahun mendatang. Kondisi ini tentu sangat disayangkan, diera globalisasi dan di zaman serba canggih seperti saat ini hasil suatu keputusan yang harusnya bisa diketahui hari itu juga ternyata baru bisa diketahui seminggu ke depan.

Namun, jika ditelisik dan dilihat dari data-data yang diekpose oleh sejumlah media massa pemenangnya sebenarnya adalah mereka yang memang tidak menyalurkan hak politiknya atau atau mereka yang mengambil sikap golput. Hampir separuh masyarakat mengambil sikap itu. Kita dan siapa saja harus menghormati keputusan itu, sebab golput itupun sebuah pilihan dan hak siapa saja yang memiliki hak suara.

Soal akan banyaknya masyarakat yang akan mengambil sikap golput inipun sangat dirunsingkan oleh Ketua KPU Riau. Akan tetapi KPU tidak bisa berbuat banyak, karena golput pun sebuah pilihan yang harus dihormati oleh siapapun. Akan tetapi seelok dan semolek mungkin masyarakat tidak bersikap golput akan tetapi bersikap untuk memilih calon yang bertarung dalam Pilgubri.

Data yang ada menunjukkan pada Pemilukada sebelumnya dari catatan KPU hampir 48 persen dari 3,2 juta pemilih masyarakat mengambil sikap golput alias tidak memilih. Tapi sekali lagi, siapapun tidak bisa berbuat apapun sebab Golput itu sebuah pilihan untuk tidak memilih siapapun yang dicalonkan.

Namun terlepas dari itu semua, seluruh rakyat Riau patut bersyukur atas terselenggaranya Pilgubri ini dengan baik. Siapapun nanti yang didaulat menjadi tampuk pemimpin negeri ini harus betul-betul berniat baik menjalankan amanah rakyat. Janji-janji yang pernah diucapkan dihadapan rakyat saat kampanye haruslah dilaksanakan. Ingatlah bahwa janji itu adalah hutang, karenanya dia harus ditepati dan dilaksanakan.

Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemimpin baru nanti. Sektor pendidikan, kemiskinan, kesehatan, persoalan infrasruktur  jalan yang masih hancur lebur di berbagai pelosok negeri, persoalan lingkungan seperti asap yang menjadi rutinitas tahunan, banjir yang kadang-kadang merenggut korban jiwa dan yang menjadi persoalan utama di tengah masyarakat saat ini adalah soal listrik.

Diceruk-ceruk kampung dan pelosok dusun di negeri ini masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah atau sekolah yang hanya memiliki beberapa orang guru saja, begitu juga dengan gedung-gedung sekolah yang tidak layak pakai. Ini tentunya harus menjadi perhatian pemimpin ke depan. Jangan sampai terbersit di hati nak membalas dendam dengan tidak memperhatikan berbagai keperluan dasar masyarakat tempatan. 

Jika ini terjadi, Anda rasanya belum layak dikatakan sebagai pemimpin, Anda hanya seorang pecundang yang kebetulan diamanahkan menjadi pemimpin. Seorang  pemimpin harus bersikap adil pada siapa saja, tidak pandang bulu, tidak berkata ini dulu dia memilih si A dan ini dulu memilih si B.

Jadilah pemimpin seperti Umar bin Khattab atau setidak-tidak jikalau tidak bisa menyamakan diri dengan Umar bin Khattab berbuatlah untuk kebaikan di serata negeri, baktikanlah diri untuk negeri, amanahlah terhadap pekerjaan yang dipercayakan. Janganlah berkhianat kepada rakyat kira nestapa padahnya.

barang siapa khianat akan dirinya
apalagi kepada lainnya
kepada dirinya ia aniaya
orang itu jangan engkau percaya
lidah suka membenarkan dirinya
daripada yang lain dapat kesalahannya
daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datangnya khabar
orang yang suka menampakkan jasa
setengah daripada syirik mengaku kuasa
kejahatan diri sembunyikan
kebajikan diri diamkan
keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka


(Gurindam 12 Fasal 8)


Gema Setara Yavis
Redaktur
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us