Dari Pameran Khusus Permainan Rakyat Tradisional Riau

Mengangkat Batang Terendam

15 September 2013 - 08.07 WIB > Dibaca 2510 kali | Komentar
 
Peradaban semakin maju. Seiring dengan itu bermunculan pula permainan anak yang kian beragam. Dan tanpa disadari atau tidak membawa dampak terkikisnya permainan tradisional. Jika pun ada hanya sedikit sekali yang masih memainkannya. Apatah lagi di kota-kota. Permainan rakyat tradisional hanya menjadi sebutan dan kenangan belaka.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

UPAYA untuk menanamkan kepada generasi muda dan anak-anak  tentang perlunya pelestarian hasil peninggalan nenek moyang yang terdahulu harus dilakukan langkah yang kongkrit. Salah satunya pameran. Harapannya tentulah dapat membuka wawasan generasi akan datang tentang pentingnya penghormatan dan pelestarian.

Dalam helat pembukaan Pameran Khusus Permainan Rakyat Tradisional Riau, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau, Said Syarifudin menyebut, pada masa dahulu, anak-anak Melayu Riau mengisi kekosongan waktu, memiliki kebiasaan bermain bersama. Permainan yang dimainkan berangkat dari semangat kebersamaan dan ketajaman imajinasi. Permainan itulah yang hari ini kita kenal sebagai permainan tradisional, ucap Said Syarifuddin.

Diakuinya, ada pergeseran nilai di zaman sekarang terkait perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Anak-anak sekarang lebih cendrung mengurung diri di dalam kamar sembari mengutak-atik I Pad atau Latop. Bahkan mereka barangkali juga tak tahu seperti apa bentuk permainan tradisional tersebut, tambahnya.

Pameran yang diselenggarakan Museum Sang Nila Utama Riau, 29 Agustus hingga 7 Semptember itu bertujuan untuk mengangkat batang terendam. Hal itu dinyatakan Yoserizal Zein selaku Kepala Museum Sang Nila Utama Riau. Karenanya pameran itu diberi tema Merajut yang Kusut, Menuju Riau Tak Risau. Makna yang tertera di dalam kalimat tersebut untuk mengangkat kembali permainan rakyat tradisonal. Sehingga dapat dijadikan sebagai aset berharga dalam budaya dan tradisi yang positif. Permainan tradisonal rakyat Riau tersebut memang hampir tidak diketahui lagi oleh generasi, terutama anak-anak sekarang. Upaya kami jelas untuk tetap melestarikan budaya luhur nenek moyang kita, ucap Yoserizal.

Menurutnya, anak-anak sekarang ini tidak mengetahui begitu mengasyikkan dan menyenangkannya permainan anak-anak zaman dulu. Sayangnya anak-anak sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di luar jam belajar dengan bermain play station, game oline, dan jejaring sosial di dunia maya. Selain itu, tentu saja menghabiskan waktunya di depan televisi. Padahal berdasarkan beberapa penelitian tentang perkembangan anak menyebutkan bahwa video games dan sejenisnya, lebih banyak memiliki dampak negatif, terutama untuk sosialisasi anak.

Sementara itu, permainan tradisional rakyat mempunyai dampak positif bagi anak-anak. Dengan bermain, mereka dapat belajar berinteraksi sosial, berempati, berkerja sama dan memahami sifat rekan-rekannya. Selain itu permainan tradisional juga dapat dijadikan sebagai sarana olahraga. Bermain membuat anak bisa mengembangkan kreativitasnya dalam ide atau pelajaran, jelasnya menegaskan.

Ditambahkannya, permainan tradisional rakyat juga memberikan ruang pada anak untuk menumbuhkan kreativitasnya. Dalam hal ini, dimaksudkan memberi kesempatan pada anak untuk mewujudkan ide-ide baru, menemukan sesuatu yang baru guna membentuk cita-cita yang unik dan kreatif. Permainan yang mampu mewujudkan semua itu tentulah permainan rakyat karena kebanyakan alat permainan mutakhir bersifat otomatis sehingga anak tidak banyak bergerak hanya menekan-nekan tombol dan tidak berinteraksi dengan anak-anak lain, jelasnya.

Dalam pameran tersebut dipajang 20 permainan tradisional rakyat Riau. Beragam jenis permainan yang pamerkan tersebut diantaranya, patok lele, statak, meja pari, bakiak, adu biji buah karet atau para, buah bengkek, gasing, layang-layang, congklak, enggrang atau sitinjak atau kaki anggau dan lain sebagainya. Tiap-tiap properti permainan tersebut ditempatkan di box yang disinari lampu. Di samping pajangan properti terdapat keterangan mengenai tata cara permainannya sehingga setiap pengunjung yang rata-rata adalah siswa, mahasiswa tersebut tidak hanya melihat properti atau alat permainan tetapi juga mengetahui bagaimana cara memainkannya.

Di antara ragam permainan yang terpajang tersebut, ada satu permainan yang menurut Yoserizal merupakan permainan yang sudah lama sekali dan hampir tak ada orang yang tahu lagi permainan tersebut. Nama permainan tradisional rakyat itu adalah ligu. Berasal dari permainan tradisional rakyat Tembilahan, Indragiri Hilir. Peralatan permainan ini terbuat dari bambu sebagai pemukul dan tempurung kelapa yang dibentuk seperti gambar wajik sebagai ucak. Itulah makanya prosesi pembukaan pameran Kadis Budpar diminta memainkan ligu secara simbolis sebagai penanda resminya acara dibuka. Di samping itu, kononnya permainan ligu ini adalah cikal bakal permainan golf, paparnya.

Ligu dimainkan dua orang atau dua kelompok. Biasanya di mainkan di pekarangan rumah. Permainan ini dimulai dengan membuat garis kira-kira satu meter kemudian ditegakkan ligu di garis itu berjejer. Sementara itu pemain yang terdiri dari dua orang atau dua kelompok berkumpul untuk melakukan amplong dengan menggunakan telapak tangan dalam rangka menentukan pemenangnya. Bila dinyatakan kalah, maka ligunya ditempatkan di posisi yang telah ditentukan dan yang menang, dialah yang pertama sekali memukul. Si pemukul kemudian menggunakan ligunya lalu dipukul dengan alat pemukul ke arah ligu lawan yang telah diletakkan tadi. Jika mengena ligu lawan tersebut maka si pemukul akan mendapat poin (bintang). Jika tidak mengena maka posisi ditukar antara si pemenang (si pemukul) dan yang kalah, begitulah seterusnya.

Yang menang adalah pemain yang banyak mengumpulkan poin atau bintang.

Diakuinya permainan rakyat tradisonal umumnya bersifat hiburan dan olahraga sehingga melatih fisik dan juga melatih kesabaran dalam menerima kekalahan dalam permainan. Disebutkannya juga permainan rakyat tradisional juga dapat dibedakan sesuai dengan sistem nilai budaya yang berlaku di daerah masing-masing. Misalnya permainan yang bersifat kooperatif yakni permainan dalam bentuk regu yang memerlukan kerja sama seperti pacu jalur, panjat pinang dan tarik tambang.

Ada juga permainan yag bersifat rekreatif yang sifatnya dapat menghibur dan menyenangkan penonton seperti pacu goni, bakiak, siti unjuk. Di samping itu juga ada yang sifatnya edikatif. Permainan yang bersifat mendidik seperti tertib, disiplin dan tidak melanggar aturan yang telah disepakati bersama. Seperti main congklak, bersimbung, gasing, patok lele termasuk juga ligu.

Sepanjang pameran berlangsung hingga sampailah pada acara penutupan disebutkan Yoserizal pengunjung sangat antusias. Hal itu terbukti dengan data pengunjung yang diperoleh. Adapun jumlah pengunjung menembus hampir 5000 orang. Ini merupakan angka yang fantastis menurut saya, jauh sekali meningkat dari angka pengunjung sebelumnya, tambahnya.

Beberapa kali pantauan Riau Pos ke lokasi pameran terlihat memang para pengunjung yang terdiri dari umum, siswa SD, SMP, SMA dan mahasiswa yang ada di Pekanbaru ini, tidak hanya melihat alat dan properti yang dipajang akan tetapi sebagian besar mereka tampak juga langsung mempraktekkan beberapa permainan. Seperti misalnya mereka bermain statak sambil mengingat aturan permainannya. Ada juga yang bersama-sama dengan temannya bermain bakiak dan juga beberapa dari mereka mengambil posisi di panggung aula Museum Sang Nila Utama untuk bermain congklak.  

Sofhia dan Ella misalnya ketika ditemui, sedang bermain congklak tampak asik sekali. Kedua siswa SMP Tri Bakti ini mengaku, permainan congkak tersebut tak asing lagi karena di rumah mereka pun ada congklak. Bedanya kalau di rumah bahan congklaknya plastik kalau yang di pameran ini, congklak kayu, ucap Sofhia sembari tetap bermain.  

Sementara itu, Rahman, murid MTs Hasanah yang juga berkunjung bersama rombongan sekolahnya menyebutkan permainan statak dulunya sewaktu SD sering dimainkan dengan kawan-kawan dekat rumah, hanya saja sekarang tak begitu ingat lagi cara bermainnya. Sedikit-sedikit ingatlah, ucapnya yang kemudian diamini beberapa kawannya.

Refilia dan Rubia Ulfa siswa SMA Muhamadiyah Pekanbaru menyebutkan kunjungan mereka dalam acara pameran serupa ini tidak hanya melihat pajangan alat dan properti dari permainan rakyat tradisional tetapi bagi mereka pameran tersebut mengajak pikiran untuk kembali pada masa anak-anak dahulu. Kami jadi ingat lagi bagaimana serunya bermain bersama kawan-kawan di halaman depan rumah, ucap Refilia.

Begitu juga yang diakui Rubia Ulfa, pameran permainan rakyat berguna juga bagi mereka untuk dapat melihat lansung terkait dengan alat dan tata cara permainan di mana hal itu ada hubungannya dengan mata pelajaran muatan lokal di sekolah. Dan apa yang dilakukan Museum, menurutnya sebagai upaya pelestarian terhadap kekayaan seni dan budaya Riau. Tapi lebih seru lagi kalau misalnya di adakan perlombaan dari permainan rakyat ini, ucap Rubia yang langsung diamini oleh rekan-rekannya.

Mereka juga mengakui sebenarnya dengan bermain permainan rakyat tradisional itu membuat kita semakin akrab satu sama lainnya. Misalnya dalam permaianan bisa bercanda dan bergurau senda. Dan mereka juga mengakui permainan rakyat resiko negatifnya minim sekali ketimbang bermain game atau permainan yang ada di zaman sekarang ini. Kalau main game-kan sebenarnya kalau kelamaan, mata bisa sakit akibat radiasi. Tapi ya mungkin zamannya sudah beda, ucap Refilia.

Arif Rahman guru SD Negeri 31 menyebutkan, pameran serupa ini sangat perlu terutama untuk mengenalkan kepada anak-anak didik yang notabene tinggal di kota. Dia yakin, tidak semua anak didiknya tahu sebagian besar permainan tradisional Riau yang sudah hampir punah ini. Bagi Arif seorang guru yang berasal dari Pasirpengarayan ini tak merasa asing dengan semua permainan rakyat karena sewaktu kecil-kecil dahulu sudah menjadi santapan mereka hampir setiap hari. Dulu itu, inilah permainan handalan kami, tak ada game dari handphone, laptop dan lainnya, jelas Arief.

Ridwan Mustafa selaku guru seni budaya di SMA Muhammadiyah juga menyatakan hal serupa. Seoragn guru yang berasal dari Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti ini menyebutkan pameran permainan rakyat tradisonal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang ada di sekolah. Anak- anak dapat melihat dan memprakteikan langsung permianan rakyat yang ada. Memang kalau dilihat, permainan yang ada memiliki nama-nama yang berbeda sesuai dengan daerah masing-masing tapi bentuk dan aturan permainannya sama saja, ucap Ridwan.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Selasa, 13 November 2018 - 16:56 wib

Terkait Kasus Century, Miranda Diperiksa KPK

Selasa, 13 November 2018 - 16:45 wib

Momen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Follow Us