Jadilah Pemimpin (Bukan) di Langit

15 September 2013 - 08.31 WIB > Dibaca 1096 kali | Komentar
 
Jadilah Pemimpin (Bukan) di Langit
JIKA sesuatu dilandasi oleh niat yang tidak baik. Maka kemalangan akan terus menggelayut, mengikuti setiap perputaran waktu. Di antara siang dan malam, bulan dan tahun, bahkan abad ke abad nilai yang ditanamkan tetap tidak menghasilkan apa-apa. Tercela. Terhina.

Kekuasaan sebenarnya tidak abadi. Keabadian hanya milik pencipta. Karena keabadian bukan milik kita? Maka sudah sepantasnyalah hak itu jangan disia-siakan.

Ketika menjadi pemimpin rumah tangga. Bertanggungjawablah untuk menafkahi istri dan anak-anak dengan nafkah-nafkah yang baik. Disaat menjadi ketua RT/RW jadilah ketua yang merukuni bukan memecah. Ketua yang memberi bukan menerima apalagi meminta-minta. Bila diberikan kekuasaan untuk memimpin sebuah desa/kelurahan, idealnya adalah kepala desa/lurah yang bermarwah bukan bermewah-mewah. Kepala Desa yang mampu menjadi pelita ketika warga dalam kegelapan.

Begitu juga ketika tuhan memberikan kesempatan untuk memimpin sebuah kecamatan. Jadilah camat yang cakap, bukan perangkap. Disaat kita menjadi wali kota/bupati embanlah amanah untuk menjadi wako/bupati yang berempati, berorientasi, bukan mengantarkan peti mati untuk rakyat.

Ketika jutaan masyarakat memberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin disebuah provinsi, maka peganglah amanah itu dengan tafakur. Bukan menjadi pemimpin yang munafik. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.

Berikanlah seluruh kemampuan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik bukan membawa ke arah yang lebih buruk. Buatlah program-program pembangunan yang benar-benar terlihat terbilang, cemerlang, dan gemilang. Bukan program pembangunan pincang, gemerlap, mercusuar tapi di dalamnya kosong.

Rancang dan manfaatkan sumber pendapatan daerah untuk sesuatu yang benar-benar menjadi prioritas, dibutuhkan rakyat, berfaedah, tidak mubazir, dan minim kepentingan. Bukan pembangunan dengan orientasi mendapatkan sanjungan, penghargaan, dan gagah-gagahan, yang ujung-ujungnya keuntungan.

Sebuah keniscayaan jika sesuatu dimulai dengan kebaikan. Maka akhir dari itu akan lahir berjuta-juta kebaikan. Sebaliknya jika sesuatu itu dimulai dari niat yang tidak baik. Maka akhirnya akan tumbuh nilai-nilai yang berbentuk keburukan. Keburukan itu seperti virus atau kanker ganas yang terus menyebar dan akhirnya akan melumpuhkan kita. Sebab antara baik dan ketidakbaikan nilainya berbeda. Raja Ali Haji dikenang bukan karena dia mendapatkan banyak penghargaan. Tapi dia dikenal sebagai ulama, sejarawan, pujangga. Sultan Syarif Kasim dikenang bukan karena kekayaannya dan bangunan mewah istananya. Dia dikenang karena menyumbang harta kekayaannya untuk pemerintah Republik Indonesia.

Kita rindu akan kelahiran tokoh-tokoh di atas. Namun kenyataannya saat ini kita hanya mampu melahirkan para pahlawan bukan untuk daerah dan bangsa tapi pahlawan untuk kepentingannya. Sehingga tidak usah aneh, heran, terkejut, dan tertegun jika seorang RT/RW, kepala desa/lurah, camat, bupati/wali kota, gubernur dan bahkan presiden sekalipun di negeri junjungan ini diakhir-akhir masa jabatanya menuai bala.

Hari ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau akan melaksanakan rapat pleno penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Riau periode 2013-2018. Apapun keputusan, apakah Pilkada satu putaran ataupun berputar-putar, sejatinya agenda politik yang dibungkus dalam merek produk demokrasi ini, menginginkan lahirnya seorang pemimpin yang menjadi pengayom, tauladan, dan mampu membawa masyarakat Riau dalam kesejahteraan lahir bhatin. Pemimpin Riau yang membumi. Jangan jadikan langit sebagai singgasana. Karena suatu saat kita pasti akan jatuh.

Akhirnya mengutip Gurindam 12 milik Raja Ali Haji, Barang siapa khianat akan dirinya, apalagi kepada lainnya. Kepada dirinya ia aniaya, orang itu jangan engkau percaya. Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa. Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela. Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.***


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 13:15 wib

DPRD Siapkan Rp200 M untuk Sekolah Gratis

Rabu, 14 November 2018 - 13:00 wib

Dua Gedung Penegak Hukum Belum Kantongi Izin Lingkungan

Rabu, 14 November 2018 - 12:53 wib

Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat

Rabu, 14 November 2018 - 12:50 wib

Dewan Ditantang Puasa SPPD

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Disdik : Pagar Dibangunan Komite

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Khawatir Kuota Premium Tidak Cukup di Riau

Rabu, 14 November 2018 - 12:32 wib

Pasien RSJ Bisa Gunakan Hak Pilih

Rabu, 14 November 2018 - 12:30 wib

Kontraktor Diminta Menggesa Pengerjaan

Follow Us