Geliat Sineas Riau

Memotret Persoalan Sosial lewat Film

22 September 2013 - 11.35 WIB > Dibaca 1476 kali | Komentar
 
Tak dapat dipungkiri, produksi film di Riau baik film pendek, panjang maupun dokumenter tak begitu bergairah, padahal jika dapat dimanfaatkan dengan baik, film bisa menjadi salah satu sarana terbaik dan yang paling efektif dalam menyampaikan pesan.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

DALAM sebuah diskusi usai launching film ‘’Ini Tanah Kami’’ produksi Komunitas Sagara FIB Unilak beberapa waktu lalu, Hang Kafrawi menyebut, dengan memproduksi film, gagasan dan ide tentang suatu hal dapat tersebar luas. Ditambah pula dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat menantang pekerja seni untuk ikut menggairahkan dunia seni tersebut.

Dikatakan Kafrawi, pada hari ini masyarakat tidak ingin ‘terbebani’ atau merasa ‘berat’ untuk datang ke gedung pertunjukan untuk menyaksikan teater. Karenanya, film merupakan salah satu upaya mendekatkan karya-karya teater berbentuk film kepada masyarakat banyak. ‘’Tentu saja sebagai pelaku teater, harus tetap memproduksi teater,’’ ucapnya tegas.

Film ‘’Ini Tanah Kami’’ yang berdurasi 45 Menit tersebut dilaunching di FIB Unilak dan diapresiasi mahasiswa serta beberapa komunitas seni Pekanbaru. Film tersebut menceritakan tentang kisah yang berlatar tempat di sebuah kampung. Masyarakat yang tinggal di kampung itu berusaha mempertahankan tanah milik mereka dari seorang investor yang hendak merampas hak rakyat secara tidak langsung.

‘’Tema yang kami angkat, terkait pula dengan keadaan dan kondisi kita di Riau ini. Bagi saya sebuah karya hendaknya mampu memotret ulang peristiwa yang dekat dengan kita sehingga kesenian tidak hanya dipandang sebagai hiburan semata tetapi juga mampu menawarkan pemikiran dan pencerahan,’’ ucap Kafrawi selaku sutradara dalam film tersebut.

Upaya-upaya tersebut yang terus dilakukan Kafrawi. Hingga sampai hari ini, sudah ada beberapa produksi film pendek maupun panjang yang diproduksinya. Di antaranya Film yang sudah di produksi ‘’Bulan yang Terhempas’’ 1999, ‘’Eks Kapten’’ 2002, Ngah Husin I’’ 2004, ‘’Ngah Husin II’’ 2006. ‘’Masalah Kita’’ 2009, ‘’Mengejar Cahaya’’ 2010, dan ‘’Ini Tanah Kami’’ 2013.
‘’Terlepas dari hasilnya secara teknis bagus atau tidak, tapi saya berpikir dengan terus memproduksi film, setidaknya hal ini menunjukkan dan ingin membuktikan, bahwa orang Riau sebenarnya mampu membuat film, walaupun hanya menggunakan alat seadanya,’’ katanya ketika ditanya motivasi dalam proses produksi film.

Ditambah lagi, di Riau sebenarnya kaya sekali potensi-potensi lokalitas yang bisa digali kemudian dikemas dalam sebuah produksi film. Dalam hal itu, dijelaskan misalnya persoalan sosial, adat dan tradisi, budaya dan seni. ‘’Sehingga ianya menjadi kekuatan kita di Riau ini untuk memberi warna yang lain terhadap perkembangan film di Indonesia,’’ ucapnya kemudian.

Di tempat lain, Parlindungan yang dikenal sebagai seorang sineas muda Riau, juga menyebutkan hal serupa. Bahwa Isu Lokalitas hendaknya menjadi kekuatan dalam bingkai perfilman di Riau. lebih jauh dijelaskannya nuansa lokalitas harus menjadi angle tersendiri yang harus dimuat dalam sebuah karya film. ‘’Pandangan saya, sineas-sineas maupun rumah produksi nasional, dalam memproduksi film cenderung memenuhi selera pasar dengan menayangkan adegan bernuansa mistik, seks, kekerasan, dan sisi negatif lainnya. Setidaknya, sineas muda di tingkat nasional maupun lokal harus mengedepankan idealisme dengan mencari ide muatan lokal untuk menandingi film-film yang masih bersifat negatif,’’ tegas Parlindungan yang juga Pemimpin Redaksi RiauBisnis.com.

Berdasarkan data, kata Parlindungan, sejak 2000, film-film yang bermuatan lokal menjadi film-film laris. Pada masa 2000-an, dunia perfilman di Indonesia mampu menggairahkan citra positif serta melawan maraknya film-film berbau mistis, seks, dan kekerasan tadi.

‘’Data yang saya temui, melalui pencatatan film Indonesia di produksi 1950-an, maka di 2000-an merupakan momen pemecah rekor  dengan membludakkan penonton di bioskop. Rata-rata mencapai angka di atas 1,2 juta penonton. Contohnya film Laskar Pelangi mencapai 4,6 juta penonton. Film-film laris ini memiliki beberapa pendekatan metode, yakni mengedepankan isu lokalitas,’’ jelas Ketua Komite Teater dan Film Dewan Kesenian Kota Pekanbaru ini.

Atas dasar inilah, menurut Parlindungan, mengapa isu lokalitas lebih menarik dikedepankan dalam setiap produksi film, termasuk sineas lokal yang kelasnya hanya memproduksi film indie. ‘’Walaupun sineas lokal hanya memanfaatkan kamera biasa, biaya secukupnya, serta memanfaatan artis lokal, tetapi setidaknya menjadi luar biasa kalau tema cerita dalam film yang diproduksi mengedepankan isu lokalitas,’’ harapnya.    

Isu lokalitas dimaksud Parlindungan, isu yang tidak saja dapat ditemukan dari bahasa tubuh, wajah, bicara atau bahasanya yang lokal, namun bisa juga dipancarkan melalui cara ataupun pola berpikir. Selain itu bentuk kebudayaan dan kesenian lokal sangat lebih menarik bila ingin mengangkat dalam isu lokalitas. ‘’Yang menjadi catatan, isu lokalitas hadir bukan hanya sekadar bentuknya belaka, namun sekaligus memanfaatkan ekspresi serta kolaborasi modern yang diangkat dari isu lokal. Kalaulah ini bisa dilakukan dalam perfilman kita, maka hasilnya akan terasa unik dan dapat mengagetkan penonton,’’ kata peraih Anugerah Sagang 2012 Kategori Penelitian Budaya ini.

Parlindungan. Memang sudah dikenal di kalangan sineas-sineas muda di Riau. Selain konsisten dalam berkarya, sejumlah film-filmnya menjadi prestasi membanggakan. Dalam berkesenian, ia memiliki target, minimal setiap tahun produksi film minimal dua produksi, baik film pendek, panjang, maupun dokumenter.  

Pria yang satu ini sudah pernah mendapatkan prestasi dalam beberapa even festival film independen (indie) di Riau, di antaranya adalah, Juara Pertama Festival Film Pendek yang diselenggarakan Dewan Kesenian Riau tahun 2005, 2006, dan 2009. Pada tahun 2008 meraih juara ketiga pada even yang serupa, serta sejumlah prestasi lainnya.

Dalam pada itu, seorang yang juga selalu memproduksi film, Sendy al Pagari menyebutkan karena minimnya dan boleh dikatakan sepi produksi film lokal akhir-akhir ini, dia dan rekannya mencoba melakukan dobrakan kecil untuk dunia perfilman di Riau. Mereka berusaha mengangkat kembali cerita dan budaya lokal khususnya Kuansing dan menuangkannya ke dalam sebuah film.

Usaha ini dilakukan pertama kalinya pada tahun 2008, dengan judul film “Sayang sasuku”. dan disambut positif oleh masyarakat Kuansing. Untuk Film ‘’Sayang Sasuku Session II’’ juga termotivasi dari antusias masyarakat Kuansing untuk menggesah mereka memproduksi film lagi. ‘’Dan ternyata benar, sebelum film ini dipasarkan, di Kabupaten Kunsing sudah mulai heboh karena penasaran dengan produksi film yang kedua ini. Ini artinya, sebenarnya masyarakat sangat merindukan produksi-produksi film yang berkisah tentang persoalan yang dekat dengan mereka,’’ ucap Sendy.

Adapun seperti yang dijelaskan Sendy, film ‘’Sayang Sasuku’’ kisah yang menceritakan di sebuah kampung yang berada di Kabupaten Kuantan Sisingingi, ada pasangan muda-mudi (Arya dan Nazel) menjalin hubungan percintaan satu suku (Sasuku) dan mendapat pertentangan dari orang tuanya sebab dilarang oleh perturan adat. Sehingga bagaimanapun hubungan tersebut harus di pisahkan agar mereka tidak mendapat hukuman adat seperti diusir dari kampung namun karena rasa cinta yang mendalam, Nazel dan Arya tetap melakukan hal itu meskipun mereka telah mengetahui resikonya.

Tapi kemudian, Dikarenakan pertentangan yang semakin keras, akhirnya Arya memilih untuk merantau ke Malaysia dan meninggalkan Nazel di kampung halaman. Ternyata keputusan itu bukan malah menyelesaikan masalah, Nazel mengalami depresi akibat memikirkan si pujaan hati yang jauh di seberang sana. Kejadian ini malah menjadi permasalahan dalam keluarganya, baik orang tua Nazel maupun orang tua Arya.

Bagaimanapun hubungan itu harus diakhiri, tapi di satu sisi dia menginginkan Nazel anak semata wayangnya kembali normal. Lantaran tidak sanggung hidup di Malaysia karena rasa cintanya pada Nazel dan di tambah lagi mengingat kehidupan orang tuanya di kampung. Akhirnya Arya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. setelah sampai di kampung Arya secara diam-diam menemui Nazel. Dengan penuh kegembiraan, Nazel berharap Arya akan sanggup menahan cobaan ini, tapi keputusan Arya tidak searah. Ia justru malah memutuskan dan mengakhiri hubungan tersebut. ‘’Upaya yang kami lakukan hanyalah sebatas penawaran ide agar persoalan yang terajdi di sekitar kita dapat dicerna kembali oleh penonton, setidaknya mereka bisa berpikir. Saya kira salah satu fungsi film adalah bagaimana penonton disuguhkan dengan suatu ide yang kemudian dapat mereka tangkap sebagai pesan yang harus dicerna kembali jadi tidak semata-mata hiburan belaka,’’ ucap Sendy al Pagari.

Teater dan film hanya dibedakan dari medianya saja. Hal itu disampaikan Kafrawi bahwa hubungan teater dan film sangat erat. Film juga menitik beratkan kepada akting aktor, namun medianya saja yang berbeda. Dijelaskannya teater di atas panggung sementara film di depan kamera.  ‘’Saya menilai bahwa saat ini selain memproduksi teater, pekerja teater juga harus memproduksi film. Hal ini disebabkan adanya tuntutan zaman,’’ ujarnya.

Begitu juga yang disampaikan Sendy yang juga merupakan aktor teater di Riau ini. Ia menyebtukan teater dan film sama-sama mengutarakan peristiwa kehidupan dalam bentuk cerita yang dimainkan oleh beberapa tokoh dan memiliki isi pesan yang hendak di sampaikan kepada khalayak yang dikemas menjadi sebuah karya seni yang bisa dinikmati. ‘’Hanya saja media penyajiannya berbeda. Teater menggunakan media panggung sementara film menggunakan media rekam,’’ ujarnya.

Ditambahkan Sendy, untuk berperan di dalam Film memerlukan orang-orang atau pelatihan dengan dasar-dasar Teater yang kuat sehingga Film akan menjadi lebih hidup dan berkualitas. pelatihan dasar teater seperti improvisasi, vocal, konsentrasi, mimik, dan banyak lagi yang dapat mendukung penampilannya. ‘’Buktinya, tidak sedikit tokoh-tokoh film bahkan aktor dan aktris film berasal dari orang-orang teater sebab hubungan teater-film seiring sejalan sejak dulu dengan para kreatornya yang kadang berperan ganda atau menjadi pelintas-batas antar dispilin seni, seperti Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Garin Nugroho, Asrul Sani, dan sekarang Dedi Mizwar. Jadi hubungan teater-film adalah suatu kerjasama yang continue. Namun pada dasarnya teater adalah semacam pondasi dalam peranan film karena tidak bisa dipisahkan secara tersendiri,’’ jelasnya.
 
Perkembangan Film di Riau
Perkembangan film di Riau belumlah menunjukkan sesuatu yang menggembirakan. bahkan disebut Sendy masih bersifat musiman atau tergantung dengan iven perlombaan dan lain sebagainya. Disebutkannya, pada tahun 2006 - 2010 masih ada produksi sinetron lokal yang ditayangkan di TV lokal seperti ‘’Telatah Wak Atan’’ yang dipelopori oleh Mustamir Thalib dan kawan-kawan, ‘’Ngah Husin’’, ‘’Masalah Kite’’, ‘’Mengejar Cahaya’’ yang dibuat oleh Hang Kafrawi dan kawan-kawan. dan juga produksi yang lainnya sseperti yang di lakukan oleh Parlindungan dan kawan-kawan. Kemudian juga ada beberapa kawan-kawan yang produksi hal yang serupa.

‘’Itu semangat para senias lokal pada masa itu, saya kira itu mungkin sangat besar pengaruhnya dari evant festival yang pada masa itu rutin diselenggarakan oleh DKR. karena saya melihat saat tidak ada lagi kegiatan festival film di Riau, justru makin tidak terdengar lagi gaung film di Riau,’’ ujarnya.

Tetapi kemudian diakui Sendy, dengan adanya FFI di Riau pada tahun 2007 lalu yang juga menghabiskan dana banyak, juga tidak ada dampak besar untuk perkembangan perfilman di Riau. Menurut nya, secara potensi baik potensi alam, budaya dan ekonomi bahkan SDM seharusnya perkembangan film di Riau bisa maju namun pada faktanya perkembangan itu hanya menjadi harapan belaka. Dengan banyaknya komunitas-komunitas film tumbuh untuk memicu perkembangan film itu sendiri, akan tetapi juga tidak juga mampu untuk mewujudkan perkembangan dunia film di Riau.

‘’Seperti yang pernah saya lakukan dengan kawan-kawan, membentuk komunitas film yang kami namakan Komunitas Film ‘’ROL’’ yang beranggotakan mahasiswa dari setiap perwakilan kampus-kampus yang ada di Pekanbaru. komunitas ini kami bentuk untuk menyikapi FFI 2007 yang di selenggarakan di Riau. Ternyata harapan kami tak sampai.

‘’Adapun proyek-proyek film yang memakan dana banyak di Riau malah diproduksi dan menggunakan SDM yang profesional yang didatangkan dari pusat (Jakarta) tapi untuk kelanjutannya juga nihil,’’ ujarnya kemudian.

Kafrawi juga menyebutkan hal yang sama, perkembangan film di Riau masih belum terlihat wujudnya, walaupun ada satu dua komunitas yang membuat film, itu hanya sekadar pelepas tagih. Kerisauanlah yang membuat beberapa orang atau komunitas untuk menghasilkan film.

‘’Meskipun saya rasa, garapannya belumlah sebaik produksi film luar yang sudah mapan, baik finansial maupun sumber daya manusianya. Tapi saya berharap, satu, dua orang atau komunitas ini merupakan ‘bibit ungul’ tumbuhnya insan-insan film di Riau dan memang hal ini sebenarnya tidak terlepas dari peran aktif pemerintah atau lembaga-lembaga yang seharusnya turut memperhatikan perfileman di Riau ini karena setiap produksi, selalu saja masalah biaya produksi menjadi kendala utamanya,’’ jelas Kafrawi.

Sementara itu, Parlindungan yang juga duduk sebagai Ketua Komite teater dan Film Dewan Kesenian Kota Pekanbaru, dirinya beserta anggotanya akan memberikan pemahaman, workshop film, serta pendidikan secara berkala ke sekolah-sekolah yang ada di Pekanbaru. ‘’Melalui metode ini, kami berupaya menggenerasikan kepada siswa-siswi di Pekanbaru untuk ikut serta dalam membangkitkan dunia perfilman di Riau, terutama perfilman yang mengangkat isu lokalitas,’’ ucapnya.

Terkahir, harapannya agar cabang kesenian terbaru ini harus dimasukkan dalam ekstrakulikuler di sekolah atau kampus untuk dijadikan sebagai kegiatan pendamping untuk ditekuni.  Tentu saja ke depannya, perkembangan film akan dapat dirasakan karena bagaimanapun, siswa adalah generasi  yang memiliki semangat dan daya inovatif, kreatif yang bisa diandalkan.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us