Redaksi

Sepakbola Indonesia Akhirnya Terselamatkan

11 Juli 2011 - 05.38 WIB > Dibaca 682 kali | Komentar
 

KONGRES Luar Biasa (KLB) PSSI di Solo, Sabtu (9/7) pekan kemarin akhirnya berhasil menyelamatkan dunia sepakbola Tanah Air. Kongres yang dipantau oleh jutaan pecinta sepakbola Indonesia melalui siaran langsung di televisi itu diikuti dengan hati berdebar-debar. Maklum, sebelumnya sempat berulangkali gagal, yaitu saat kongres di Pekanbaru dan Jakarta.

Setidaknya ada dua catatan utama dari capaian penyelenggaraan kongres tersebut dihasilkan. Catatan pertama, Indonesia terhindar dari sanksi yang akan dijatuhkan FIFA, dan catatan kedua perpecahan di kalangan masyarakat sepakbola Indonesia berhasil diatasi.

Terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai Ketua PSSI dan Farid Rahman sebagai Wakil Ketua PSSI periode 2011-2015 mengakhiri kisruh panjang ditubuh PSSI. Apalagi keduanya dinilai pihak yang paling netral di antara para calon yang sebelumnya dimajukan sebagai calon ketua umum.

Selain itu, suksesnya kongres tersebut juga diakui oleh anggota delegasi FIFA, Primo Carvaro. Primo yang mengawasi dan mengawal langsung jalannya KLB PSSI yang digelar di The Sunan Hotel tersebut menyatakan, pelaksanaan KLB PSSI berjalan sangat baik dan terorganisir.

Yang paling bahagia tentunya adalah Agum Gumelar, selaku Ketua Komite Normalisasi yang telah ditunjuk oleh FIFA. Nama Agum Gumelar betul-betul dipertaruhkan, apalagi setelah kongres kedua di Jakarta gagal. Purnawiran jendral bintang tiga ini sempat diusulkan untuk digeser, karena dianggap tidak mampu menjalankan tanggung jawab yang diberikan FIFA. Terutama kelompok 78 yang kepentingannya merasa terusik.

Namun sukurlah. Djohar Arifin Husin berhasil memecahkan kebuntuan itu. Paling tidak benturan kepentingan dari kelompok 78 ini yang selalu memaksakan pasangan George T Soeta dan Arifin Panigoro untuk menjadi calon ketua dan wakil ketua PSSI, dan kelompok tersingkir dari kalangan mantan Ketua PSSI Nurdin Khalid sedikit mereda. Dan harapannya, tentu ke depan tidak ada dendam dan rasa sakit hati di antara kelompok-kelompok tersebut. Bukankah dalam sepakbola fair play itu yang selalu dikedepankan. Meski terpaksa harus ‘bermusuhan’, tapi jika suara terbanyak sudah menyetujui, semua insan sepakbola yang bertikai harus tunduk dan mentaatinya. Semoga.***
KOMENTAR
Terbaru
Jalin Silaturahmi Antar RT RW Melalui Pengajian Rutin

Senin, 21 Januari 2019 - 21:06 WIB

Harga Cabai Merah Turun, Terong Naik

Senin, 21 Januari 2019 - 16:45 WIB

Pengusutan SPPD Fiktif  Dewan, Tunggu Gelar Perkara

Senin, 21 Januari 2019 - 16:31 WIB

Bawaslu Kampar Teruskan Laporan Pidana Pemilu

Senin, 21 Januari 2019 - 16:15 WIB

Transformasi Hilangkan Bobot 57 Kg

Senin, 21 Januari 2019 - 15:37 WIB

Follow Us