Berkunjung ke Makam Laksemana Raja di laut

Tersebut Sepanjang Masa

29 September 2013 - 08.56 WIB > Dibaca 1160 kali | Komentar
 
Sejarah diketahui karena tercatat. Ia-nya kemudian diingat dan diabadikan sebagai kisah yang mampu menjadi penguat semangat di hari ini. Cerita masa lalu juga dapat diketahui keberadaannya dari situs-situs peninggalan yang masih ada, ia-nya menjadi bukti bahwa cerita dulu tidak hanya cerita kosong belaka, akan tetapi  menjadi legenda, tersebut sepanjang masa.

Laporan FEDLI AZIS, Bengkalis

DATUK Laksemana Raja di laut, konon merupakan gelar yang ditabalkan Sultan Siak kepada sosok pemberani, penguasa laut yang terkenal. Kabar yang tersiar dari penduduk tempatan, di tangannyalah segala bentuk kejahatan laut ditaklukkan. Datuk Laksemana Raja di laut juga dikabarkan pemegang titah dari kerajaan Siak untuk menjaga keamanan di pesisir pulau perbatasan dengan Selat Melaka ini.

Encik Ibrahim tersebut punya nama yang merupakan Datuk Laksemana Raja di Laut I, berkuasa pada 1767 M - 1807 M. Encik Ibrahim merupakan anak tunggal dari pasangan suami istri, Datuk Bandar Jamal dan Encik Mahiran, anak dari Batin Senderak.

Datuk Bandar Jamal awalnya adalah pemegang tampuk pemerintahan di Bengkalis yang sebelumnya dipegang oleh ibunya, Encik Mas Ayu. Setelah uzur, perempuan satu-satunya yang pernah memerintah di Bengkalis itu menyerahkan jabatannya kepada anaknya (Datuk Jamal, red).

Kembali kepada Encik Ibrahim, Datuk Laksemana Raja di Laut I. Konon kabarnya, sekitar 1780 M, memindahkan ibu negeri dari Bengkalis ke Bukit Batu, tepatnya di daerah Bukit Batu Laut sekarang ini. Di sanalah, ia membangun benteng pertahanan bersama-sama dengan armadanya. Di sepanjang bibir pantai di tepi laut itulah dulunya berderet meriam menghadap ke arah laut. Hal itu menunjukkan kegagahan penguasa laut yang mendirikan benteng pertahanan pada masa itu agar para penjajah tak dapat masuk ke wilayah kekuasaannya.

Tersiar juga kabar, gelar Datuk Laksemana Raja di laut dipertahankan oleh anak cucunya atau keturunannya sampailah DAtuk Laksemana ke IV. Encik Khamis, sebagai penerus gelar yang berkuasa dari 1808-1864, Datuk Laksemana Raja di laut ke III adalah Encik Abdullah Saleh, dari 1864-1908 dan yang terkahir Datuk Laksemana Raja di laut ke IV adalah Encik Ali Akbar yang berkuasa dari 1908-1928.

Beberapa waktu yang lalu, Riau Pos berkesempatan berkunjung ke Rumah Datuk Laksemana Raja di laut yang bertempat di Jalan Datuk Laksemana, Dusun Sukaramai, Bukit Batu Darat. Sebuah rumah berasitek Melayu masih berdiri kokoh dengan segala kesan-kesan sejarah yang masih membekas.

Rumah panggung tersebut dulunya dibangun pada masa Datuk Laksemana Raja di laut yang ke IV. Setelah merasa benar-benar daerah lautan dapat dikuasai dengan baik, akhirnya diputuskan Datuk Laksemana Raja di laut IV untuk membuka kampung hingga sampai ke darat. Seperti yang diceritakan salah seorang warga, Abdul Malik yang merupakan tetua di kampung itu menyebutkan perpindahan itu juga mengakibatkan pola hidup masyarakat berkembang, tidak hanya mengandalkan laut untuk memenuhi kebutuhan, masyarakat juga akhirnya bercocok tanam. Tetapi di daerah Bukit Batu Laut tetap menjadi benteng pertahanan waktu itu, kata Abdul Malik.

Rumah kediaman Datuk Laksemana Raja di laut yang sesungguhnya sudah direnovasi pada 2010 lalu. Hanya bentuknya saja yang masih asli, sementara atap dan papannya sudah direhap oleh pemerintah Kabupaten Bengkalis.

Tepat di depan halam rumah, terdapat dua buah meriam yang masing-masing diberi nama Meriam Sumpitan BonE dan Meriam Tupai Beradu. Senjata tersebut merupakan senjata pertahanan yang digunakan Datuk Laksemana Raja di laut.

Selain rumah kediaman Datuk Laksemana Raja di Laut, tak berapa jauh dari situ, kita akan melihat situs lainnya yaitu Mesjid Jamial Haq. Mesjid ini diakui oleh masyarakat tempatan sebagai mesjid yang digunakan pada masa pemerintahan Datuk Laksemana. Tepat di belakang mesjid itulah terdapat makam Datuk Laksemana Raja di Laut ke IV, Datuk Ali Akbar.

Indra, salah seorang warga ketika ditemui di depan mesjid, menyebutkan hampir 1000 orang dalam setahun yang datang berkunjung dan berziarah di situs bersejarah Datuk Laksemana Raja di laut ini. Kedatangan mereka seperti yang diceritakan Indra, ada yang sekedar mampir sambil makan-makan dengan keluarga, ada juga yang hanya membaca doa di makam.

Indra juga menyebutkan kunjungan ke situs sejarah di Bukit Batu tersebut semakin ramai apabila sudah mendekati hari raya Idul Fitri hingga sampailah hari raya Idul Adha. Tapi yang datang itu tidak sekali serbu, yang satu datang, yang satu pula lagi pergi, berganti-gantian karena memang yang berkunjung ke mari itu dari berbagai desa yang ada di Bengkalis bahkan luar Bengkalis, ucap lelaki yang bekerja sebagai tukang tersebut.

Di dusun Sukaramai tersebut, terdapat dua buah makam. Yang satunya lagi adalah makam Datuk Laksemana Raja di laut yang ke III, Datuk Abdullah Saleh. Sementara itu Makam Datuk Laksemana I dan II terdapat di dusun seberang. Untuk menuju ke sana harus menyeberang sungai dan menggunakan sampan.

Sayangnya, pada kunjungan hari itu, Riau Pos tak bisa untuk berziarah ke makam Datuk Laksemana Raja di laut yang ke I dan II. Karena seperti yang dijelaskan, seorang penjaga makam Datuk Laksemana ke IV, untuk menuju ke desa seberang itu harus menentukan waktu yang tepat. Lagipula, sangat sulit menempuh perjalannya. Dijelaskannya harus menunggu air pasang karena kalau surut perjalan menjadi berat. Kita terpaksa merapah, apalagi sekarang jambat di sungai patah, tak bisa digunakan untuk sementara, ucap Aidil yang biasa dipanggil Eri.

Dari pantauan di beberapa situs sejarah Datuk Laksemana Raja di laut yang berada di Dusun Sukaramai, Bukit Batu Darat tersebut, memang kelihatan beberapa pengunjung yang terdiri dari anak-anak muda, orang dewasa, orang bekeluarga. Mereka datang melihat rumah kediaman Datuk Laksemana sembari mengabadikan momen tersebut dengan kamera. Setelah itu, para pengunjung akan berziarah ke makam Datuk Laksemana IV dan III. Di sana mereka duduk sembari menghadiahkan sepaling atau dua paling ayat.

Willy seorang pengunjung yang berasal dari Dumai menyebutkan kedatangannya hanya untuk berziarah karena diakuinya sudah begitu lama berkeinginan untuk melihat situs sejarah Datuk Laksemana akan tetapi karena kesibuknnya bekerja di Dumai, baru hari itulah dapat menunaikan keingingannya. Saya mendengar kisah kebesaran Datuk Laksemana Raja di laut ini dari orang tua saya, ucapnya.

Ditambahkannya, seharusnya pemerintah setempat lebih memperdulikan situs budaya seperti ini karena di samping memiliki nilai-nilai historis, situs budaya ini juga memberikan magnet bagi kampung ini untuk para pengunjung bisa datang beramai-ramai. Tapi kalau kondisinya seperti hari ini, pagar masjid yang retak dan hampir roboh ke tanah, kan sangat disayangkan, ujarnya mengakhiri.(*6)

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us