Kontroversi Hati

29 September 2013 - 16.16 WIB > Dibaca 711 kali | Komentar
 
Kontroversi Hati
SUMPAH serapah tak bisa terbendung dari mulut Rustam, warga Labuhbaru Timur, Payung Sekaki. Lagi asyik-asyiknya nonton final antara Indonesia U-19 melawan Vietnam, spontan saja layar kaca tevenya menghitam. Final yang belum menuai hasil siapa yang menjadi pemenangnya, alias masih ada pertambahan waktu 30 menit ke depan, tiba-tiba lampu padam. Rasanya hati remuk redam saat itu. Rasa ingin tahu siapa yang keluar sebagai pemenang nantinya, begitu menggebu. Wajarlah jika rasa yang begitu menggebu itu, menimbulkan rasa marah.

Rasa marah hanya bisa dilampiaskan dengan kesal dan sumpah serapah. Tabiat PLN beberapa bulan terakhir ini memang sangat doyan menggilir pemadaman. Itu disadari Rustam. Tapi kok sulit rasanya menerima pemadaman tiba-tiba saat menonton piala AFF kemarin. Rustam mengaku tak kehilangan akal. Ia mengajak istrinya untuk makan di luar saat itu juga. Tujuan Rustam ke pondok nasi goreng yang menyediakan televisi. Perut yang tak lapar sengaja dilapar-laparkannya, hanya ingin menonton perjuangaan garuda muda meraih kemenangan. Rustam masih saja merasa untung, sebab pemadaman dilakukan secara bergiliran, sehingga tetangga seberang lampunya menyala dan Rustam akhirnya bisa menumpang di pos ronda yang sudah banyak dikerumuni tetangganya. Walhasil, uang selamat dan rasa juga terpuaskan. Terlebih, garuda muda berhasil menang melalui drama adu penalti yang sangat menegangkan. Luar biasa!

Mungkin Rustam hanyalah salah satu contoh warga yang merasa kesal dengan adanya pemadaman mendadak dari PLN. Dimana-mana, rasa kecewa dan marah dirasakan oleh warga lainnya. Apakah itu pelaku industri, ibu rumah tangga, pedagang, bahkan sampai anak sekolah serta semua yang sangat tergantung dengan PLN. Semua punya alasan. Semua merasa dirugikan. Yang alat elektronik di rumah banyak yang rusaklah, pekerjaan banyak yang tak selesai pada waktunya alias tertunda, banyak yang merugi, PR sekolah juga tak bisa dirampungkan. Sudahlah begitu, tagihan bukannya berkurang, tetapi malah bertambah, sementara pemakaian tak sesuai. Dalam sehari bisa padam empat jam lebih, kadang pagi, siang dan juga malam. Secara matematika, sudah tentu waktu pemadaman dikali sekian hari, jumlah bisa puluhan jam. Tapi kenapa justru melonjak atau tak jauh beda dengan tagihan sebelumnya yang notabenenya tak pernah ada pemadaman? Maka tak heran timbul berbagai protes, menuntut pertanggungjawaban PLN.

Masalah pemadaman ini pun mendapat sorotan berbagai pihak. Dari mantan Dirut PLN sampai Gubernur Riau. Bahkan gubernur dengan memonya yang ditulis di Jakarta sana, meminta agar persoalan pemadaman ini segera diatasi, sebab, masyarakat sudah letih dengan semua ini. Ya, Pak gub, kami memang letih, sangat letih. Saking letihnya kami, kami tak bisa lagi berharap, apalagi berteriak supaya masalah ini cepat diatasi. Yang bisa kami lakukan sekarang ini hanya menunggu, menanti janji yang maunya pasti. Bukan janji yang hanya tinggal janji.

Rasanya, alternatif yang disebut-sebut sebagai energi tambahan sudah sejak lama digaungkan. Kenapa hingga sekarang belum jua terselesaikan tepatnya termanfaatkan? Seperti pembangunan beberapa pembangkit listrik yang digadang-gadangkan akan memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di beberapa wilayah itu. Warga mintanya tak pakai lama.

Yang membuat sedih adalah PLN tak punya solusi yang cepat untuk saat ini. Padahal dalam hearing-nya dengan wakil rakyat baru-baru ini, dewan sudah menawarkan solusi jitu dengan menggunakan genset. Sayangnya solusi itu tak sejalan dengan kinginan PLN. Bisa jadi setuju dengan usul tersebut, tapi dana untuk membeli genset itu yang tak ada. Seeharusnya, kalau memang setakat ini hanya itu alternatif yang paling tepat, tak ada salahnya diupayakan berbagai cara. Dan nanti, setelah kondisi kembali normal, debit air sudah terpenuhi, turbin yang rusak sudah diperbaiki dan pembangkit yang sedang dibangun sudah pula selesai dan bisa dimanfaatkan, untuk sementara alternatif genset yang sudah terbeli, bisa dijadikan aset, yang mungkin sewaktu-waktu digunakan kembali. Tak ada yang abadi di dunia ini, selama makhluk (manusia) yang membuat. Yang abadi, yang punya keputusan hanyalah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memberi, yaitu Allah Subhanahu wataala.

Yang pasti, walau kerap frustasi dan terjadi kontroversi hati karena selalu dikhianati dan disakiti, namun tetap selalu dinanti, segala aksi untuk sebuah solusi. Solusi yang tentunya memikat hati, hingga lupa dulu pernah tersakiti. Dan..PLN pun akan selalu di hati.***



Nurizah Kohan
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us