Tari Melayu, Masih Stagnankah?

13 Oktober 2013 - 03.56 WIB > Dibaca 2468 kali | Komentar
 
Seni tari adalah gerak indah dan berirama yang mengandung dua unsur penting yaitu gerak dan irama. Gerak merupakan gejala primer dan juga bentuk spontan dari kehendak yang terdapat di dalam jiwa. Sementara irama adalah bunyi teratur yang mengiringi gerak tersebut. Gerak tarian, biasanya diinspirasikan dari pengalaman hidup sehari-hari.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

TARI sebagai ungkapan seni, mulai hadir ketika orang mulai sadar akan pentingnya teknik atau keterampilan gerak dan ketika itu orang mulai mengatur gerak dalam artian ada tuntutan keteraturan atau bentuk. Sejalan dengan pertumbuhan tumbuh kepekaan nilai pengalaman dan perasaan yang dihayati secara lebih mendalam.

Demikian juga halnya dengan tari Melayu Riau. Keberadaannya dengan bermacam bentuk ragam dan gerak tersebut tidak terlepas dari nilai-nilai filosofis yang notabene berangkat dari alam dan  masyarakat tempat di mana ia-nya tumbuh. Seperti yang disampaikan SPN Iwan Irawan Permadi. Iwan menyebutkan tari Melayu Riau dengan segala kekayaan bentuk dan ragamnya memiliki keterikatan penuh dengan alam dan masyarakatnya.

Sebut saja zapin. Tarian yang mengedepankan retak dan langkah kaki ini merupakan salah satu dari beberapa jenis tari Melayu yang masih eksis sampai sekarang dan masyarakat Melayu termasuk seniman dan budayawannya memiliki daya kreasi yang tinggi untuk mengembangkan gerak zapin ini menjadi hasil karya seni tari yang lebih inovatif. Bahkan karya tersebut telah pula dipertontonkan sampai ke tingkat nasional bahkan internasional seperti yang dilakukan Iwan Irawan Permadi dengan sanggar Laksemana-nya.

Saya dan kawan-kawan telah berupaya melakukan dan menghasilkan karya seni tari yang berangkat dari tari tradisi Melayu Riau menjadi karya tari kreasi sejak 1980-an, kata koreografer Riau yang telah banyak menghasilkan karya tari ini.

Berbicara tentang nilai-nilai filosofi dari tari Melayu Riau, Susi Vivin Astuti menyebutkan semua tari Melayu Riau memiliki nilai-nilai filosofinya. Setiap gerak dan ragam tari tidak hanya mengedepankan keindahan atau estetika geraknya saja akan tapi gerak dan ragam tersebut lahir dari olah pikiran dan pengalaman yang di dapat atau berasal dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Zapin Bengkalis misalnya, dari 19 ragam gerak yang dimiliki, semuanya memiliki filosofis tersendiri yang kesemua itu berangkat dari kehidupan masyarakatnya. Nah, itu pulalah yang harus dipelajari, dibongkar per-item jika kita ingin mengetahui lebih jauh tentang sebuah karya seni tari, ucap Ketua Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) tersebut.

Begitu juga contoh lain tari Makan Sirih yang dimiliki Melayu Riau. Sebuah tarian untuk menyambut kedatangan tamu dalam sebuah helat yang juga memiliki nilai-nilai dan filosofinya sendiri. Adapun setiap gerak dari tari tersebut mencerminkan ragam gerak tari yang harus dipelajari dengan kedisiplinan dan kesabaran agar dapat menguasai tari dengan baik karena salah satu syarat untuk bisa menari Melayu adalah sang penari dapat menjiwai setiap gerakan bukan hanya melenggang saja.

Yang pasti, dalam ragam gerak tari tersbut mencerminakan kreativitas orang Melayu dalam mengekspresikan keindahan, tambah Vivin.

Saat ini tari Melayu Riau berkembang pesat. Anak-anak hingga dewasa ikut bersama-sama menggairahkannya, baik di sanggar-sanggar maupun di sekolah-sekolah. Selain itu, institusi seni budaya seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Riau, Dewan Kesenian Riau (DKR) kerap melaksanakan lomba dan helat lainnya. Tidak hanya itu, di Riau setelah berdiri Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) pada 2002 hingga menjadi STSR, dunia tari bahkan ditularkan melalui bangku akademis. Banyak pula akademisi dari dunia satu ini yang sudah master setelah menuntut ilmu ke kampus-kampus seni besar di Jawa.

Yoserizal Zein, saat masih bergabung dengan di Sanggar Laksemana menybutkannya, justru saat ini karya tari di Riau dari segi kreativitas dan inovatif tidak berkembang alias stagnan. Apa yang dilakukan para koreografer saat ini, jauh sebelumnya sudah dilakukannya bersama kawan-kawan seangkatannya 1980-an.

Pola-pola dan bentuk keliaran yang dilakukan saat ini masih tergambar dengan pola-pola yang dahulu juga. Dalam hal itu disebutkan Yoserizal, mestinya kembali ke awal, dari titik nol untuk mencari kreasi yang baru. Hal itu diperparah pula dengan banyaknya ormas-ormas yang tidak mengerti dengan seni budaya yang kemudian melaksanakan helat perlombaan tari yang berangkat dari kekeliruan, ucap Kepala Museum Sang Nila Utama Riau tersebut.

Kekeliruan yang dimaksud, terkait dengan banyaknya orang yang tak mengerti dengan bentuk dan jenis tari Melayu Riau sehingga mereka melaksanakan helat tari yang notabene tidak milik Riau. Inikan sebenarnya menjadi musibah kebudayaan. Artinya, apa yang kita punya tidak terangkat ke permukaan dan mengakibatkan lamban perkembangannya, jelasnya.

Yoserizal berharap dengan keberadaan Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR), ke depannya semoga dapat memberi sumbangan yang lebih dalam perkembangan dunia tari di Riau. Ada kekuatan dari tari Melayu Riau yang diangkat dan dipelajari, pungkasnya singkat.

Masih banyak tari yang keberadaannya di Riau ini yang belum terangkat terutama tari-tari tradisi yang dimiliki di setiap daerah kabupaten yang ada. Hal ini juga diakui, Syafmanefi Alamanda, salah seorang koreografer muda Riau yang juga merupakan tenaga pengajar di STSR. Ia menyebutkan memang perkembangan tari di Riau ini khususnya dari segi kuantitas sudah sangat berkembang. Hal itu disebabkan semakin ramainya para koreografer muda yang muncul baik itu dari institusi seperti STSR, Sendratasik UIR maupun dari sanggar-sanggar yang ada di Riau.

Namun bila dilihat dari segi kualitas, tampaknya belumlah menjadi hal yang menggembirakan. Karena diakui Nanda, tari Melayu Riau yang notabene syarat dengan nilai-nilai dan pesan yang apabila dikembangkan dengan kemampuan seorang koreografer hendaknya juga tetap mengedepan nilai-nilai dan kandungan pesan. Tari itu tidak hanya sebatas hiburan belaka akan tetapi ia-nya bisa menjadi media edukasi dan media dakwah seperti halnya keberadaan tari-tari Melayu Riau. Nah ini yang selalu saya sampaikan kepada mahasiswa-mahasiswi saya, katanya.

Upaya-upaya untuk mengenalkan tari Melayu Riau sebenarnya juga dapat dimulai dari bangku sekolah. Menurut Nanda, saat inikan sudah ada mata pelajaran Muatan Lokal. Saya kira, di situlah peluang untuk menitipkan materi mengenai keberadaan tari Melayu Riau. tentu saja hal itu harus didukung dengan program dari dinas pendidikan dan sekolah itu sendiri, ujarnya.

Berbicara lebih jauh tentang keberadaan tari Melayu Riau, Tom Ibnur yang merupakan salah seorang koreografer, pengamat tari dan tokoh tari Indonesia ketika ditemui, Jumat (11/10) di Zapin Center menyebutkan ada kecendrungan tari Melayu Riau yang dulunya berkembang dengan baik namun sekarang seperti ada bagian yang hilang terutama sejak terpisahnya Kepri dari Provinsi Riau.

Hal itu disebabkan dulunya sering sekali terjadi dialog kreatif antara Kepri dan Pekanbaru, saling berdatangan, saling diskusi sehingga kemungkinan-kemungkinan perkembangan lebih aktif ketimbang sekarang ini. Yang saya perhatikan saat ini justru berkembang sendiri-sendiri dengan memperlihatkan jati diri masing-masing padahal jati diri itu sesungguhnya apa yang kita punya bersama dahulu, ujar koreografer yang sudah lebih dari 300 hasil karyanya dipentaskan, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.

Sehingga akibat dari hal tersebut, masing-masing berusaha untuk mencari bahkan bekerja sama dengan negeri terdekat sampai akhirnya membiarkan sesuatu yang lain pula masuk. Menurut Tom Ibnur, hal ini sebenarnya agak membahayakan juga karena akibatnya akan menyebabkan perkembangan atas apa yang kita miliki menjadi lamban. Ditambah dengan faktor-faktor lain seperti helat seni tari yang dulunya cukup menggairahkan di Riau ini. Sebut saja Pesta Tari Kotemporer (Pastakom) yang secara tidak langsung membawa para koreografer dari luar negeri untuk sampai ke Riau ini dan sebenarnya helat seperti itu justru bisa membangkitkan kreativitas tari Melayu Riau itu sendiri, ujar Tom Ibnur.

Berbicara tentang tari Melayu secara umum, disebutkan Tom Ibnur bahwa tari Melayu adalah tari yang sangat potensial untuk dikenalkan ke masyarakat dunia. Artinya beliau dikenal di dunia baik di Eropa, Amerika itu disebabkan ia membawakan karya-karya tari yang berangkat dari tari Melayu. Tetapi intinya kita harus membawa karya tari yang berbobot, berkualitas yang memiliki nilai-nilai filosofis, punya pesan dan nilai-nilai estetika, ujar Pengajar Utama di Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tersebut mengakhiri.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Follow Us