Vicky Prasetyo

13 Oktober 2013 - 03.59 WIB > Dibaca 2571 kali | Komentar
 
Vicky Prasetyo
VICKY Prasetyo, itulah salah satu nama yang paling banyak disebut di media massa (baik cetak, elektronik, maupun sosial) dalam beberapa pekan terakhir ini. Penyebutan nama itu bukan hanya karena pemiliknya telah berhasil mengelabui beberapa artis dangdut, melainkan juga karena bahasa ‘’inteleknya’’.

Menurut ahli bahasa dari Universitas Indonesia, Totok Suhardiyanto, ada empat kesalahan dalam bahasa ‘’intelek’’ Vicky, yaitu kesalahan afiksasi, kolokasi, struktur, dan semantik. Kesalahan-kesalahan itu dapat dilihat pada ucapan-ucapan Vicky yang dikutip berikut ini.

1. Dengan adanya hubungan ini. Bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident.

2. Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi karena basically, aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya.

3. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga...

4. My name is Hendrianto, I am froms the birthday in Karang Asih, Karang Asih City.

Afiksasi pada kutipan (1): mempertakut dan mempersuram, menurut Totok Suhardiyanto, tidak lazim digunakan dalam bahasa Indonesia. Yang lazim adalah menakut-nakuti dan menyuram. Kolokasi atau sanding kata pada kutipan (2): konspirasi kemakmuran juga tidak lazim digunakan orang. Frase labil ekonomi pada kutipan (3) merupakan contoh kesalahan struktur (tidak mengikuti hukum DM/diterangkan menerangkan): seharusnya ekonomi labil. Sementara itu, kutipan (4) merupakan contoh kesalahan sintaktis dan semantis. ‘’Struktur bahasa Inggrisnya campur-campur dan bolak-balik,’’ ujar Totok Suhardiyanto.

Di samping kesalahan-kesalahan itu, sebenarnya masih ada kesalahan lain yang justru saat ini mewabah: unsur /-isasi/. Unsur asing itu menjamur di akun jejaring sosial Vicky Prasetyo. Simak saja beberapa contoh berikut: statusisasi, jebretisasi, perdulisasi(kan), merealisasi(kan), naturalisasi, popularisasi, musikalisasi, parodisasi, berdiskusisasi, vocabularisasi, politikasi, inspirasisasi, inkonsistensisasi, terekomendasisasi, suspenisasi, klarifikasasi, harmonisasi, korelasasi, ekonomisasi, dan dirumitisasi. Bisa jadi, ‘’ulah’’ Vicky inilah yang mendorong orang untuk melabelinya sebagai vickinisasi. Entah dibuat secara serius entah tidak, di jejaring sosial banyak bermunculan istilah yang meniru gaya berbahasa Vicky itu, seperti ngakasisasi, vikinisasi, terlalunisasi, sejarahnisasi, bahasanisasi, kepingkelnisasi, dan cucoknisasi.

Sepintas penggunaan unsur /-isasi/ seperti itu merupakan hal biasa. Akan tetapi, kalau dicermati sungguh-sungguh, dari sejumlah kata berunsur /-isasi/ ciptaan Vicky Prasetyo tersebut, hanya dua kata yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu naturalisasi dan musikalisasi. Selebihnya, aneh bin ajaib. Kata statusisasi, misalnya, tampaknya dibentuk dari kata status + /-isasi/. Unsur /-isasi/ yang dipakai dalam bahasa Indonesia berasal dari /-isatie/ (bahasa Belanda) atau /-ization/ (bahasa Inggris). Unsur tersebut tidak diserap sebagai afiks ke dalam bahasa Indonesia. Kehadirannya dalam komunikasi sehari-hari tampaknya dipengaruhi oleh kata modernisasi, normalisasi, legalisasi, dan sejenisnya yang diserap secara utuh (dari bahasa Inggris). Jadi, bukan kata modern, normal, legal, yang kemudian diberi unsur /-isasi/ menjadi modernisasi, normalisasi, dan legalisasi.

Kita juga menemukan bentuk yang sama yang cukup marak di Riau, kata semenisasi. Kata itu sering disebut sehubungan dengan pengerjaan jalan yang menghubungkan Pekanbaru— Dumai serta Pekanbaru—Pangkalan Kerinci. Kalau dilihat dari pembentukannya bentuk semenisasi dibentuk dari kata semen ditambah unsur /-isasi/. Dalam KBBI, semen berarti: 1 adukan kapur dsb untuk merekatkan batu bata (tt membuat tembok dsb); 2 serbuk (tepung) dr kapur dsb yg dipakai untuk membuat beton, merekatkan batu bata, dsb; 3 zat kapur yg melekat pd akar gigi. Semenisasi dapat diindonesiakan menjadi penyemenan yang berarti 1 proses, cara, perbuatan menyemen. Pertanyaan kita: cocokkah penggunaan kata semenisasi untuk pengerjaan jalan tersebut? Tidak, karena jalan tersebut tidak disemen, tetapi dibeton (dengan menggunakan campuran semen, kerikil, dan pasir yang diaduk bersama dengan air). Oleh sebab itu, yang terjadi adalah pembetonan: ‘proses, cara, perbuatan membeton’. Kata pembetonan tepat karena yang sedang dikerjakan adalah membeton jalan.

Walaupun sama-sama menggunakan afiks /-isasi/, kata semenisasi tampaknya tidak ditulari oleh Vicky Prasetyo. Kata tersebut sudah cukup lama dipakai. Tidak dapat dimungkiri bahwa kemunculan Vicky Prasetyo lengkap dengan bahasa “inteleknya” di berbagai media hiburan turut memarakkan pemakaian unsur /-,isasi/. Padahal, bahasa Indonesia memiliki afiks yang bermakna sama dengan unsur itu, yaitu /pe-/-an/ atau /per-/-an/. Berpedoman pada bentuk itu, sebenarnya kata modernisasi, globalisasi, dan legalisasi dapat diindonesiakan menjadi pemodernan, penormalan, dan pelegalan. Apabila afiksasi dengan afiks tersebut kurang sesuai menurut rasa bahasa pemakai bahasa, bahasa Indonesia memiliki kata yang lain untuk menyatakan pengertian yang sama, misalnya dengan istilah pembudidayaan. Jadi, bentuk lelenisasi atau perlelean misalnya, dapat diganti dengan bentuk pembudidayaan lele.

Saat ini, sepertinya sebagian pemakai bahasa Indonesia lebih suka memakai unsur /-isasi/ daripada afiks /pe-/an/ atau /per-/an/.

Apabila keadaan ini berlanjut dan tidak ada kesadaran pemakai bahasa Indonesia untuk ‘menghidupkannya’, tentu lama-kelamaan ia akan hilang karena tidak terpakai lagi. Oleh sebab itu, kita selaku pemakai dan pemilik bahasa Indonesia sebaiknya hanya menggunakan unsur tersebut untuk kata/istilah yang berasal dari bahasa Inggris, bukan untuk kata/istilah yang berasal dari bahasa Indonesia. Dengan memakai bentuk-bentuk asli bahasa Indonesia dan memakai kekayaan bahasa Indonesia untuk menggantikan unsur-unsur bahasa asing, berarti kita telah menunjukkan sikap cinta terhadap bahasa Indonesia. Alhamdulillah.***


Imelda Yance
Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 13:15 wib

DPRD Siapkan Rp200 M untuk Sekolah Gratis

Rabu, 14 November 2018 - 13:00 wib

Dua Gedung Penegak Hukum Belum Kantongi Izin Lingkungan

Rabu, 14 November 2018 - 12:53 wib

Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat

Rabu, 14 November 2018 - 12:50 wib

Dewan Ditantang “Puasa” SPPD

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Disdik : Pagar Dibangunan Komite

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Khawatir Kuota Premium Tidak Cukup di Riau

Rabu, 14 November 2018 - 12:32 wib

Pasien RSJ Bisa Gunakan Hak Pilih

Rabu, 14 November 2018 - 12:30 wib

Kontraktor Diminta Menggesa Pengerjaan

Follow Us