Wonderful Indonesia
Depan >> Berita >> Perca >>
KOLOM
Antara Sri Bintang Pamungkas dan Amien Rais
Kamis, 08 Juni 2017 - 17:10 WIB > Dibaca 4864 kali Print | Komentar
Antara Sri Bintang Pamungkas dan Amien Rais
ILUSTRASI: METROBALI.COM
Oleh Hary B Koriun

DULU, saya mengagumi Sri Bintang Pamungkas, seorang pemberani, yang bahkan "tiang listrik" (Orde Baru) pun ditabraknya. Di zaman represif seperti itu, dia tanpa rasa takut dan lantang menyuarakan kebebasan berdemokrasi. Saya bahkan ikut rapat PUDI (partai yang digagasnya) di Jakarta. Ketika kembali ke Padang, saya berpikir kembali, apakah berpolitik tidak menabarak nurani?

Saya tahu politik itu seperti apa, sejak awal. Akhirnya, saya urungkan untuk ikut mendirikan PUDI di Padang. Lalu, Reformasi bergulir, tetapi nampaknya Sri Bintang ditinggalkan anak-anak muda. Orde Baru terguling, Reformasi "menang", kebebasan bersuara dan berkumpul (demokrasi) didapatkan, namun tak ada Sri Bintang di dalamnya.

Dia kemudian asyik cari panggung. Saya heran, cita-citanya dulu untuk perjuangan demokrasi, telah didapatkan rakyat Indonesia. Tapi, mengapa kok dia tetap cari panggung dengan melakukan ini dan itu? Saya kemudian berpikir: bukan orang seperti ini yang saya kagumi. Sebab, di zaman dan rezim apapun, "perlawanan" seolah sudah menjadi pekerjaannya, perlawanan apapun. Yang penting melawan, dan itu kelihatan gagah dan ganteng.

***

DI saat Reformasi, sosok Amien Rais menyedot kekaguman mahasiswa kecil seperti saya ketika itu. Dia cendekiawan yang pikiran-pikirannya sangat mengagumkan saya dengan Islam progresif yang sangat diyakininya. Dia juga seorang ahli dan pengamat Timur Tengah yang fasih.

Saat dia datang ke Padang dan melakukan rapat akbar di Lapangan IKIP Padang, saya datang, tetapi tak mau dekat, apalagi salaman dengan dia. Saya takut, orang yang saya idolakan nanti berbeda dengan yang ada dalam imajinasi saya. (Bahkan, saya sampai menuliskan momen kedatangannya ini di novel Nyanyian Batanghari).

Selain para mahasiswa yang terus berjuang, Amien adalah salah satu harapan saya untuk tetap tegak di depan, bersuara lantang untuk menumbangkan rezim represif itu. Dan, akhirnya, Reformasi menang. Amien berada dalam lingkaran kekuasaan dalam beberapa periode ketika itu dengan Partai Amanat Nasional (PAN) yang berbasis Muhammadiyah sebagai rumah politiknya.

Tapi, setelah itu orang mulai melupakannya sebagai "Bapak Reformasi" (keren, bukan?). Dan, ia juga kehilangan panggung. Belakangan, dia mendapatkan "mikrofon" (pelantang) ketika umat Islam menggalang aksi untuk melawan Ahok. Yang saya heran, dulu, pandangannya sangat pluralis, melihat perbedaan itu sebagai bagian dari kekayaan kita sebagai sebuah bangsa. Tetapi entah mengapa dia kemudian berubah.

***

Dan kini, partai yang dibidaninya (termasuk Goenawan Mohamad ikut di dalamnya), PAN, dengan berbagai alasan, ikut mendukung Angket KPK. Padahal, sebelum Amien kena tuding jaksa soal aliran dana, semuanya adem-ayem.

Kalau Golkar melakukan itu karena banyak politisinya yang kena angkut KPK, saya bisa maklum. Partai ini kan dulu diusulkan untuk menjadi partai terlarang oleh para reformis karena menjadi alat Orde Baru untuk memilih hanya satu orang selama 30 tahun lebih menjadi presiden. Hanya karena kehebatan seorang Akbar Tanjung-lah yang membuat Golkar selamat di zaman "genting" tersebut.

Tapi PAN?

Hemmm... Apakah politik memang harus begitu?

Sedih saya...***
Graha Pena Riau Space for Rent
KOMENTAR
Berita Update
DILONTARKAN GUBERNUR LEMHANAS
DPR Tolak Wacana Pembubaran Korem dan Kodim, Ini Alasannya
Rabu, 19 September 2017 - 21:00 wib
SEPANDANGAN DENGAN PEMERINTAH
Isu Kebangkitan PKI, MUI Imbau Masyarakat Waspada
Rabu, 19 September 2017 - 20:50 wib
TERKAIT KONFLIK DI MYANMAR
Ini Penjelasan Ketua BNPB soal Tudingan Pencitraan Bantuan ke Rohingya
Rabu, 19 September 2017 - 20:40 wib
CATATAN DITJEN DUKCAPIL
Terkait e-KTP, 9 Juta Lebih Penduduk Belum Lakukan Perekaman
Rabu, 19 September 2017 - 20:30 wib
TERKAIT ADANYA HOAX
Cari Dalang Kerusuhan, Polisi Bakal Periksa Anggota YLBHI
Rabu, 19 September 2017 - 20:20 wib
TERKAIT KONFLIK ARIS-NOVEL
Agus Rahardjo: Tanpa Polri, Kinerja KPK Tak Akan Berjalan Baik
Rabu, 19 September 2017 - 20:00 wib
POLISI SEMPAT AMANKAN 12 ORANG
Penyerangan Kantor YLBHI, Tujuh Orang Ditetapkan Sebagai Tersangka
Rabu, 19 September 2017 - 19:45 wib
GAGASAN PRESIDEN JOKOWI
Pemutaran Kembali Film G30S PKI Tuai Dukungan Pimpinan DPR
Rabu, 19 September 2017 - 19:30 wib
TERKAIT SEMINAR 65 DI YLBHI
PKI Diisukan Bangkit Lagi, PBNU Keluarkan Sikap Tegas Ini
Rabu, 19 September 2017 - 19:15 wib
PULUHAN ORANG SEMPAT DITAHAN
Kivlan Zen Akan Tuntut YLBHI soal Tudingan Sebagai Dalang Kerusuhan
Rabu, 19 September 2017 - 19:00 wib
Cari Berita
Perca Terbaru
Beratnya Perjuangan Sepakbola di SEA Games

Kamis, 17 Agustus 2017 - 00:12 WIB

"Legends of the Fall": Tentang Cinta dan Kesetiaan tanpa Batas
 Pertahanan Terbaik atau Ketajaman Mencetak Gol?

Minggu, 04 Juni 2017 - 01:11 WIB

Keberuntungan atau Kecerdasan Zidane?

Kamis, 20 April 2017 - 03:04 WIB

Diapresiasi Mampu Jaga Kemajemukan

Senin, 10 April 2017 - 09:05 WIB

sumatranet
Ranggi Riau Pos
loading...
Follow Us
Populer hari ini