Tamadun Melayu I di Tanjung Pinang

Sajak dalam Seni Pertunjukan

20 Oktober 2013 - 07.47 WIB > Dibaca 1460 kali | Komentar
 
Tradisi puisi bagi bangsa rumpun Melayu diyakini pula telah ada sebelum masyarakatnya mengenal aksara, hal itu dapat dibuktikan dari tradisi tutur atau tradisi lisan yang masih melekat di kalangan masyarakat Melayu.

Laporan FEDLI AZIS, Tanjungpinang

MELAYU sebagai suatu bangsa dengan peradabannya, berbilang zaman lamanya juga memiliki tradisi puisi yang kuat dengan identitas tersendiri. Ini pula yang mendasari tercetusnya acara Panggung Sastra Alam Melayu yang merupakan bagian dari banyak kegiatan dalam helat budaya yang ditaja Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dengan nama Tamadun Melayu I beberapa waktu yang lalu.

Menurut Tarmizi Rumah Hitam selaku Kurator Sastra pada helat tersebut menyebutkan, di panggung sastra itulah inti dari acara Tamadun Melayu I tersebut. Tak heran kemudian di panggung sastra alam Melayu tersebut dilaksanakan pembacaan puisi dari berbagai penyair yang ada di Indonesia dan luar negeri.

Diantaranya dari Aceh yang dihadiri Doel CP Alisah, Anwar Putra Bayu dari Sumsel, Chavchay Syaifulloh dari DKI Jakarta, Hudan Nur dari Kalimantan Selatan, M Husyairi dari Jambi, Malpaleni Satriana dari Bengkulu, Muhammad Ibrahim Ilyas dari Sumatera Barat, Inggit Putria Marga dari Lampung, Jefri al Malay dari Riau dan beberapa penyair andalan dari Tanjung Pinang dan Batam, diantaranya Hoesnizar Hood, Tarmizi Ruah Hitam, Teja alhad, Ramon Damora, Samson Rambah Pasir, Junawel Muchtar dan lain-lain.  

Sementara itu, dari Malaysia dihadiri oleh Marsli NO dan Nik Rakib Bin Nik Hasan dari Thailan, Zefri Ariff dari Brunai dan sebagai pembaca puisi pemuncaknya adalah Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri.  

Dua malam secara bergiliran, para penyair membacakan puisi-puisi karyanya sendiri dengan berbagai ekspresinya masing-masing. Kata-kata yang tumpah di panggung yang berukuran kira-kira 4 x 6 meter tersebut seakan memuntahkan kisah-kisah, pengalaman, perenungan yang tentunya tercipta dari tangan sang penyair.

Panggung yang terletak di Gurindam Square jalan Merdeka Tanjung Pinang tersebut menjadi saksi dari keliaran pembacaan puisi oleh puluhan penyair. Meskipun penonton yang hadir tidaklah ramai tetapi berkumpulnya para penyair dari berbagai provinsi dan luar negeri tersebut seolah-olah menjadikan keramaian itu datang bersama selerak kata demi kata yang dipekikkan oleh para penyair.

Chavchay Syaifulloh dari DKI misalnya membacakan puisi-puisi karyanya sendiri dengan ekspresif sekali. Pernyataan perasaan hasil penjiwaan dan gerak air muka serta kinesik atau gerak anggota tubuhnya diekspresikan semaksimal dan seliar mungkin. Kadangkala ia bernyanyi sambil bermain gitar dan kadangkala ia meneriakkan kata-kata seolah-olah sedang bermain teater. Sastrawan yang telah menerbitkan banyak buku ini menyebutkan pembacaan puisi di depan kalayak sudah seharusnya kita jadikan serupa dengan seni pertunjukan.
 
Artinya dalam hal itu, beberapa aspek juga harus diperhatikan. Bagi saya, pembacaan puisi juga harus memperhatikan aspek vokal, irama, blocking atau penguasaan panggung, bahkan ilmu-ilmu teater juga harus diterapkan karena bagaimanapun pembacaan puisi juga hendaknya dapat menjadi tontonan yang menarik di samping orang diharapkan mengerti dan memahami makna dari puisi yang kita baca, ujarnya ketika ditemui usai membaca puisi.

Selain Chavchay pada malam pertama itu, tampil juga Hudan Nur yang membacakan sajak-sajaknya dengan senandung khas Kalimantan. Doel CP Alisyah yang membaca sajaknya dengan bersahaja. M Husyairi, Muhammad Ibrahim Ilyas, Malpaleni Satriana dengan puisi-puisinya bertemakan tentang anak-anak karena memang penyair perempuan satu ini pendidikan terakhirnya S3 PAUD di Universitas Negeri Jakarta. Yang tak kalah menariknya, pembacaan puisi dari penyair Batam, Ramon Damora. Membacakan dua puisinya dengan sangat takzim dan gaya yang mempesona.

Tampil juga malam itu, Tarmizi Rumah Hitam dengan membacakan sajak diiringi gitar, biola dari kawan-kawan Komunitas Rumah Hitamnya. Heru Untung Leksono dari Kepri juga menambah nuansa pembacaan sajak malam itu dan kemudian Anwar Putra Bayu dari Sumsel. Pembacaan puisi memang kemudian menjadi menarik diapresiasi jika dikemas ke dalam seni pertunjukan tapi kemudian jangan pula sampai luncas makna dan pesan dari puisi tersebut, kata Anwar Putra Bayu disela-sela perbincangan usai pertunjukan.

Tak kalah seru dan semangatnya pada malam kedua, puisi kembali dibacakan oleh beberapa penyair atau sastrawan dengan gaya, ekspresi serta kreatifitas yang kemudian menggambarkan betapa di kota yang sarat dengan sejarah kesusteraan tersebut puisi menjadi cahaya kebersamaan yang tampak dari kehadiran penyair-penyair yang duduk takzim mengapresiasi setiap giliran demi giliran.

Tepuk tangan dan jeritan seloroh tak jarang keluar dari mulut penyair ketika teman-teman penyair yang lain usai membacakan puisi-puisinya. Malam kedua dibuka oleh Junewal Muchtar, penyair asal Kepri yang dengan santai membacakan sebuah puisi karyanya sendiri. Penampilan Junawel yang tentunya menurut kawan-kawan berbeda dari biasanya yang selalu meledak-ledak, gila-gilaan menurut Lawen Begitu sapaan akrabnya memang menjadi pilihannya.

Saya sebagai pembuka di malam kedua, jadi biarlah saya memberi kesempatan kepada kawan-kawan lainnya, ucapnya sambil berseloroh.

Tampil juga malam itu, Marsli NO sastrawan asal Malaysia,Nik Rakib dengan sajak-sajak perjuangan terhadap puaknya di Thailand, Inggit Putria Marga yang memabacakan sajak sangat santun dan feminim, Jefri al Malay dengan senandung khas kampungnya. Beberapa penyair asal Kepri juga membacakan sajak-sajaknya dengan ragam kreatifitas, Teja Al habd, Hooesniza Hood dengan gaya necisnya, Samson Rambah Pasir dengan sajak melankolisnya. Aku Sedang Jatuh Cinta guraunya ketika ditanya tarkait puisi yang dibacakan malam itu sangatlah romantis.

Pembacaan puisi pada helat Tamadun Melayu I di panggung sastra alam Melayu tersebut akhirnya menjadi sesuatu yang bersebati antara gurau senda, gela tawa, keseriusan apresiasi, ragam kreatifitas, aneka ekspresi, kebersamaan yang kesemuanya adalah merupakan pancaran bahasa hati dari sebuah puisi.

Tampil sebagai pemuncak Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri (SCB) dengan gaya yang khas. Saat SCB membaca puisi-puisinya, memang pertunjukan pembacaan yang menawan, dengan kemampuan SCB membacakan secara unik, memainkan timbre, tempo, intonasi, tekanan kata, berbalutkan dengan nuansa bluesnya. Ia tampil dibantu dengan gitar oleh Chavchay dan seorang pemain harmonika.
 
Tampilannya yang energik dan memukau itulah pada akhirnya membuat hadirin tak beranjak dan tak sempat mengedipkan mata. Malam itu seperti yang dijelaskanya tatkala selesai membacakan sajak Aku karya Chairil Anwar, pembacaan puisi tidak hanya dalam bentuk atau mengedepan seni pertunjukan seperti yang dilakukan oleh Chavchay terutama. Tetapi menurutnya pembacaan puisi juga menjadi menarik jika dibaca dengan komtemplatif, khusuk dan takzim. (*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 21:38 wib

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Follow Us