Ombak Sekanak yang Inspiratif

20 Oktober 2013 - 07.48 WIB > Dibaca 679 kali | Komentar
 
Lakon Ombak Sekanak yang dipentaskan pada peluncuran buku karya Rida K Liamsi, Ombak Sekanak (sebuah memoar) dan Rose (kumpulan puisi), Sabtu malam (12/10) di Aryaduta Hotel merupakan kolase-kolase peristiwa perjalanan hidup Rida K Liamsi. Marhalim Zaini selaku sutradara dalam pertunjukan tersebut menuturkan ada beberapa peristiwa penting yang kemudian dikemas dengan menggunakan media seni teater, musik dan tari serta multimedia.

Ia-nya menjadi sebuah lakon dengan durasi sekitar 45 menit. Rangkaian peristiwa yang dijalani Rida K Liamsi masih kanak-kanak hinggalah sampai sekarang tergambar jelas baik melalui dialog-dialog para aktor maupun simbol gerak tari serta untaian musik yang menjadi pengisi suasana dalam lakon tersebut.

Dibuka dengan sebuah tarian yang ditarikan oleh beberapa penari. Kain biru memanjang menjadi pilihan properti untuk menyimbolkan laut dan gelombang. Sementara itu, kain biru tersebut dikibar-kibarkan, diayun-ayunkan membentuk seperti gelombang, beberapa penari lainnya berada diantara gelombang tersebut, mencoba melawan dan menaklukkannya. Demikianlah sebuah perjuangan, di mana tatkala mampu bertahan dan menaklukkan gelombang persoalan dalam kehidupan ini, dialah yang akan tampil sebagai pemenangnya.

Bagian berikutnya terdengar dialog dari seorang tua yang diperankan oleh Rohasimah sebagai Ibu Rida menyampaikan peristiwa kelahiran Rida. Usai beberapa kata pembuka dari sejarah lahirnya Rida selanjutnya muncul tiga orang anak-anak yang diperankan masing-masing oleh Eric Febian sebagai Rida berumur 7 tahun dan Juliadi, Habib Syahbana sebagai teman Rida masa kecil. Peristiwa ini dipotret Marhalim untuk menggambarkan kahidupan Rida masa kanak-kanak yang notabene besar dan akrab dengan kehidupan di laut, seperti memancing, mandi laut dan sebagainya.

Sejarah dari desa kelahiran Rida yaitu desa Bakong juga tergambar jelas pada bagian berikutnya. Di mana Rida ketika berumur belasan tahun yang diperankan oleh Jamaludin bersama teman-temannya yang diperankan pula oleh Zulqaidil FA dan Al Azhar Idris sering berkunjung ke rumah seorang nenek Cina bernama nenek Langkap yang diperankan oleh Rizka Afriani. Nenek Langkap paham betul dengan seluk beluk kampung Bakong tersebut. Diceritakan dalam lakon bahwa Bakong itu berasal dari kata Ma yang berarti Ibu dan Kong yang berarti sihir.

Berikutnya sebuah mesin tik mulai terdengar diselingi dengan alunan musik. Seorang yang berperan sebagai Rida K Liamsi sekarang yang diperankan oleh Jefri al Malay tak henti memainkan jarinya pada tut-tut mesin tik. Hal ini jelas untuk menggambarkan seorang Rida K Liamsi yang diantara kesibukannya sehari-hari namun tak pernah berhenti mencatat segala kisah yang dialami hingga terangkum semua kisah suka dukanya dalam sebuah memoar yang berjudul Ombak Sekanak yang diluncurkan malam itu.

Berbagai peristiwa diceritakan dalam dialog-dialog yang diucapkan pada bagian ini. Mulai dari kisah Rida menjadi seorang guru SD sampailah kemudian pernah memutuskan untuk menjadi kelasi kapal. Perjalanan hidup yang dijalani Rida dalam lakon tersebut akibat himpitan ekonomi pada waktu itu. Namun kemudian pada bagian berikutya disela dialog-dialog yang diucapkan oleh Rida (Jefri) kemudian langsung pula divisualiasi oleh beberapa aktor yang lainnya. Terutama pada bagian Rida menjadi kelasi kapal. Beberapa aktor mengeksplorasi guni beserta isi.

Dari pengakuan sang aktor menyebutkan semua pekerjaan yang dilakukan dan dijalani Rida pada masa itu, tak pernah sedikitpun ia mengeluh. Semua pekerjaan yang dilakoninya tetap dengan semangat dan memberikan apa yang terbaik. Susah senang dilewatinya dengan tabah. Hingga akhirnya Rida berhenti sebagai pelaut. Hal itu disebabkan semasa menjadi pelaut, ia kehilangan ayahnya. Ketika itu juga, lakon seperti menyentakkan sesuatu, dialog aktor berhenti, sedangkan aktor yang memikul goni menghempaskan guninya ke lantai panggung, begitu juga musik berhenti serentak dengan dialog aktor beberapa detik.

Momen-momen penting Rida lainnya tergambar jelas juga pada bagian berikutnya. Sampailah kepada akhirnya bercerita tentang guru-guru yang sangat berjasa dalam kehidupan Rida. Pada bagian ini, Marhalim mengemas lakonan dalam beberapa dimensi dengan kata lain, menghadirkan guru-guru Rida waktu masih sekolah yang diperankan oleh Ridwan Mustafa. Dengan bermain lampu follow, dua orang aktor saling berdialog tapi dengan dimensi yang berbeda.

Kisah dalam lakon tersebut akhirnya sampailah kepada gambaran peristiwa di mana Rida mulai mencintai sastra. Puisi Chairil Anwar menjadi idolanya pada waktu itu, bagaimana kemudian kecintaannya pada sastra membuat karirnya sebagai guru nyaris berantakan, bahkan juga keluarganya. Tatakala membaca buku, Rida seolah-olah lupa dengan waktu.

Hadir juga istri Rida yang diperankan oleh Dwi Anggraini. Pada bagian ini memunculkan suasana nostalgia. Rida dan istri mengingat masa-masa sulit dalam kehidupan yang dilewati hingga sampailah sekarang ini. Peristiwa demi peristiwa tergambar dari dialog para aktor yang diperankan masing-masing. Suka duka yang dilewati dengan tetap bersepakat menjalaninya dengan rasa sabar ikhlas dan berjuang adalah kunci untuk menunjukkan eksistensi diri pada hari ini.

Lakon Ombak Sekanak kemudian dilanjutkan dengan munculnya puluhan pendukung acara dari belakang panggung, dengan membawa umbul-umbul yang bertuliskan sejumlah media baik cetak maupun televisi yang merupakan anak-anak perusahaan Riau Pos yang tersebar di Riau, Sumatera. Pada bagian ini menunjukkan keberhasilan yang dicapai Rida atas kerja kerasnya dan kemurahan kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal ini jelas tatakala kita mendengar dialog penutup dari aktor yang memerankan Rida K Liamsi; Tuhan tahu, doa yang paling panjang dan yang paling banyak aku mohonkan adalah untuk anak-anakku. Jika hari ini aku memberi mereka semuanya itu karena disebabkan aku mencintai mereka. Meskipun aku menyadari, perjalanan yang bagai gelombang laut ini membuat aku membayar mahal. Tuhan, anak-anak dan istri yang Engkau anugerahi adalah harta terbesarku, maka jauhkanlah mereka dari kekhilafan akibat kealfaan dan ketakberdayaanku. Tuhan...terima kasih atas semua ini, terima kasih atas kasih sayangMu ini.

Lakon diakhiri dengan munculnya salah seorang anak Rida, Muhammad Nur Hakim membacakan sajak Ombak Sekanak. Dan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan dan visualisasi puisi Rose yang sekaligus menandakan peluncuran buku puisi Rose karya Rida K Liamsi yang juga turut diluncurkan pada malam tersebut.

Berbagai peristiwa yang kemudian dipilih Marhalim untuk dikemas dalam lakon Ombak Sekanak ini adalah momen-momen penting dalam kehidupan Rida. Di samping sebagai prosesi dari peluncuran buku, setidaknya gambaran atau kolase-kolase yang dikemas dalam pertunjukan tersebut adalah upaya agar kisah perjalan Rida bisa mengispirasi orang lain, ucap Marhalim.

Adapun lakon Ombak Sekanak adalah persembahan yang hampir seluruh pendukungnya adalah merupakan civitas Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Naskah dan Sutradara, Marhalim Zaini, Composer Musik, Armand Rambah, Koreografer Syafmanefi Alamanda dan Multimedia dibantu dari RTV, Al Yusra dan kawan-kawan.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh beberapa penyair yang dekat dengan Rida seperti Murparsaulian, Sutadji Calzoum Bachri, Cornelia Agatha dan Rida K Liamsi sendiri. Sayangnya, Dahlan Iskan, malam itu tidak mau membaca puisi dan mengatakan sudah diwakili oleh para pakarnya.(fed/*6)
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif

Senin, 19 November 2018 - 14:30 wib

Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci

Senin, 19 November 2018 - 14:22 wib

Pemkab Siak Terima CSR dari BRK

Follow Us