Jargon pada Komunikasi Normal, Kampanyekah?

20 Oktober 2013 - 07.53 WIB > Dibaca 3126 kali | Komentar
 
Jargon pada Komunikasi Normal, Kampanyekah?
Kosakata, istilah, atau akronim yang akrab di telinga -karena sering digunakan pada komunikasi sehari-hari—kerap dipilih menjadi teks iklan atau pun jargon. Para kandidat yang diusung partai politik, sebelum maju bertarung, acap (bahkan lazim) menentukan dan menetapkan jargon tertentu sebagai sebutan khas dalam pengenalan identitas mereka.

Poster, baliho, dan semua atribut kampanye selalu menyertakan jargon pada lambang partai atau potret diri calon sejak semasih bakal calon. Jargon itu pulalah yang kemudian selalu diucapkan: sejak masa sosialisasi pengenalan diri, pada masa menjelang kampanye, hingga pada masa kampanye (gerakan serentak mempengaruhi dan mengajak). Umumnya, pada masa kampanye penggunaan jargon akan meningkat dan menjadi lebih sering diucapkan juru kampanye. Bahkan, tak jarang jargon menjadi yel-yel yang digunakan sebagai pekikan atau sorakan untuk mendorong, mengajak, dan ‘’merong-rong’’ orang agar mau mendukung dan/atau memilih bakal calon yang diusung partai politik atau kontestan mereka.

Calon yang piawai (dan juru kampanye yang pandai), dalam pidato-pidato politisnya, justru menggunakan/memanfaatkan jargon pihak lain, berpadu dengan jargon miliknya. Contoh kasusnya (sebagai ilustrasi pada tulisan ini), sebagaimana yang terjadi pada pemilihan Bupati (dan Wakil Bupati) Inderagiri Hilir (Inhil), Riau, pada Agustus 2013 silam.

Empat pasang yang maju pada pilbup itu memilih dan menetap jargon masing-masing. Pasangan HM Wardan dengan Rosman Malomo (Nomor 1) menggunakan kata warohmah (singkatan acak dari Wardan-Rosman Harmonis Amanah) sebagai jargonnya. Sementara itu, pasangan H Edy Syafwannur dengan Agussalim (Nomor 2) memilih kosakata cerdas (singkatan acak dari Coblos Edy Syafwannur dan Agussalim); pasangan H Syamsuddin Uti dengan Muslimin (Nomor 3) memilih jargon Sumbawa (singkatan dari Syamsuddin Uti-Muslimin bawa perubahan); dan pasangan Zainal Abidin dengan Said Ismail (Nomor 4) memilih kosakata dinamis (singkatan acak dari Zainal Abidin bersama Ismail).

Oleh seorang dai (juru dakwah)—yang tidak usah saya sebutkan namanya -keempat jargon itu dipadukan secara kreatif pada pilbub Inhil. Yang menarik, Rosman Malomo pun dengan arif ikut memanfaatkan jargon-jargon itu dalam pidato (-pidato) politisnya. Simaklah dengan saksama kutipan pidato Wakil Bupati Inderagiri Hilir itu berikut ini.

‘’Saudara-saudara, hidup kita akan berbahagia dunia dan akhirat jika mendapat barokah dari Allah SWT. Barokah akan didapat jika kita memproleh rohmah dari Allah pula. Itulah salam yang selalu dicapkan ketika sesama muslim bersua sebagai doa. Maka, waromah akan membawa berkah pada hidup dan kehidupan kita. Mereka yang cerdas, senantiasa mengharapkan hidup kaum muslimin (nama seorang cawabup, pen.) yang dinamis dengan memilih warohmah.’’

Betapa pandai dan cermat wakil bupati itu dalam merangkai kalimat. Meskipun secara implisit (mungkin) menggamit ‘dinamit’, pidato itu sama sekali tidak terkesan menghujat pihak lain. Kepiawaian berbahasa seperti itulah yang pantas ditiru. Bisa jadi, hal ini merupakan cara paling bijak dan mangkus untuk menghindarkan tikai-pangkai politis: kalimat-kalimatnya menarik minat dan simpatik.

Jargon dalam Komunikasi Normal
Dalam komunikasi normal (sehari-hari), arti dan makna sebuah kata bersifat netral (denotatif). Berbeda halnya dalam komunikasi politis, arti dan makna sebuah kata (terutama yang dijadikan jargon politis) tidak lagi sebagaimana arti dan makna sebenarnya. Kualitas sensitifitas kata itu menjadi bertambah dan tafsiran maknanya pun dapat disalaharahkan karena sudah dibeliti keadaan politis. Arti dan makna sebuah kata berubah dan bergeser sesuai dengan maksud dan tujuan politis jargon: terarah kepada calon atau partai yang memilih dan menggunakannya saja. Denotatifitas (arti serta daya makna sebenarnya) jargon, dengan demikian, berubah menjadi konotatifitas (daya nilai rasa kata) yang bernilai sentimen dan monoton: satu makna saja sesuai dengan kehendak pemilik jargon.

Lancung muncung berbicara, pilihan kata yang kita ucapkan acap diduga dan diburuksangkakan sebagai kegiatan kampanye halus atau ajakan tersembunyi dan terselubung (black campaign). Sering terjadi tokoh publik (juga juru dakwah) beranggapan bahwa istilah, kosakata, atau akronim yang pernah menjadi jargon politis itu tidak lagi memiliki arti denotasi kata yang bebas nilai. Mereka tidak lagi berpikiran bahwa kosakata, istilah, atau akronim yang dipilih dan ditetapkan sebagai jargon itu sesungguhnya menyandang makna yang sebenarnya (denotatif). Sebagai akibatnya, banyak orang yang terjebak, dituduh, dan dicap (seolah-olah) berpihak kepada satu kelompok tertentu gara-gara mengucapkan jargon tertentu. Hal ini saya alami sendiri ketika saya menyampaikan pengajian sebelum zuhur (Selasa) pada salah satu masjid (besar dan megah) di jalan utama Pekanbaru.

Di masjid itu saya mengalami peristiwa (ber)bahasa menyenakkan yang tidak mengenakkan hati. Saya dianggap berkampanye karena mengucapkan kosakata yang menjadi jargon salah satu pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Riau (putaran kedua). Ada di antara jamaah menyeletuk, berucap, dan mengecap, ‘’Kampanye, ni ye!’’ Jamaah lain, banyak pula yang tertawa. Saya menjawab mantap, ‘’Tidak! Saya tidak berkampanye. Anda jangan menafsirkan begitu.’’

Meskipun secara ringkas dan tegas sudah saya jelaskan (bahwa saya sama sekali tak memiliki kepentingan dengan salah satu calon itu), tetap saja ada jamaah yang menyergah menyalahkan saya. Bahkan, ia mengecap dan menuduh saya berkampanye kumuh. Betapa sanggahan, tangkisan, dan penjelasan saya tidak memuaskan hatinya.

Hikmah dari peristiwa bahasa itu, saya terinspirasi menuliskannya. Seyogyanya jargon-jargon politik (terutama yang berupa kata, istilah, atau akronim umum) tidak dimaknai secara politis dalam komunikasi normal (sehari-hari, tidak pada masa kampanye). Akhirnya, kepada Allah jua dipulangkan segalanya.***


H Syafruddin Saleh Sai Gergaji
Dai, Dosen, Bahasawan, Sastrawan, Budayawan
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us