Hanya Sebuah Omong Kosong?

27 Oktober 2013 - 08.56 WIB > Dibaca 894 kali | Komentar
 
Oleh: Yose Rizal
Di negeri di ujung tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian. (tere liye)

Di suatu sore yang basah, hujan rintik memayungi segenap penjuru kota. Orang-orang lebih banyak berdiam diri di rumah atau memilih beraktivitas di dalam ruangan seperti di mal.

Demikian juga dengan saya, yang sengaja menghabiskan waktu bersama anak di toko buku dalam sebuah mal yang terletak di jantung kota. Lebih tepatnya, saya menemani anak yang telah lebih satu jam membaca satu demi satu buku di toko tersebut.  

Tiba-tiba, pandangan mata tertumbuk pada sebuah buku baru yang dipajang sang penjaga. Buku bersampul gambar monyet berpakaian jas lengkap dengan  kopiah itu menarik perhatian.

 Tanpa terasa, buku tersebut telah berada di tangan kanan. Tak ada kata selain judul buku: Negeri di Ujung Tanduk, serta nama pengarang.

Saat di balik di bagian belakang, terbacalah kata-kata yang mengguggah hati sebagaimana tertulis di awal tulisan ini. Lama saya duduk merenungi kata demi kata tersebut. Menarik dan ajaib, semuanya terasa nyata dengan keadaan sekarang. Namun sayang, buku itu tak bisa dibaca karena tersegel plastik bening.

Keesokan harinya saya pun membeli buku yang menimbulkan rasa penasaran itu. Dalam pikiran saya tentulah buku ini sebuah buku tentang politik dengan pengarang dari luar negeri yang melihat kondisi Indonesia dari perspektif orang luar. Ternyata saya salah.  Buku ini adalah sebuah novel dengan pengarang asli Indonesia yang menggunakan nama samaran.

Lalu apakah buku novel tersebut saya abaikan? Tidak para pembaca. Novel ini adalah novel politik yang mengasyikkan.

Saya tidak bermaksud melakukan promosi karena saya tidak kenal pengarang ataupun ada kerja sama dengan penerbit buku. Namun setelah larut dalam rangkaian cerita yang diketengahkan, terlihat seakan penulis menggambarkan kondisi terkini perpolitikan kita sekarang.

Tokoh cerita bernama Thomas, seorang pria mapan, bujangan dengan gelar master politik dari Amerika membuka perusahaan konsultan politik, namun aktif dalam dunia klub petarung yang kerap menjadi pelampiasan adrenalin para eksekutif muda.

Dalam sebuah konferensi internasional tentang komunikasi politik, si tokoh cerita ditanya oleh peserta dari Afrika Barat, apakah politik membutuhkan moralitas?

Lalu si tokoh master politik ini pun menjawab,Tentu saja, politik membutuhkan moralitas. Saya tidak akan bilang moralitas adalah fatamorgana indah, tidak, tapi izinkan saya bilang: moralitas sejatinya adalah salah satu omong kosong yang bisa dijual dalam bisnis politik.

Temukan rumusnya dengan tepat, temukan resepnya dengan pas, maka itu bisa jadi senjata yang efektif memenangi sebuah kompetisi politik.

Wah, kata-kata si tokoh ini agaknya perlu diresapi secara dalam dan bisa jadi quote yang menarik. Agak sinisme tapi membuat pencerahan di tengah hiruk pikuk perpolitikan saat ini.

Walaupun si tokoh cerita adalah master politik dan punya perusahaan konsultan politik, tapi saya menangkap ada pesan dari penulisnya bahwa betapa saat ini politik yang awalnya merupakan sebuah seni dalam mencapai tujuan telah berubah menjadi monster yang menakutkan.

Sebagaimana diungkapkan si tokoh ketika menjawab pertanyaan lagi, Maafkan saya, tapi saya akan tegaskan di depan kalian semua, bahwa bagi kami, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia.

Sebagai sebuah bisnis omong kosong dijalankan, kita harus berdiri di atas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut menjadi sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan laris oleh para pemilih. Anda boleh saja tidak sependapat. Silakan.

Tapi saya dibayar mahal untuk memoles omong kosong tersebut, menjualnya, dan sim salabim, menjadi king maker, mendudukkan orang-orang di kursi kekuasaan.

Lalu apakah politik kita sekarang merupakan sebuah omong kosong belaka sebagaimana yang diutarakan si tokoh cerita? Wallahu Alam Bishawab. Kita berlindung kepada Allah SWT dan semoga terhindar dari hal-hal yang buruk ***

Yose Rizal, Redaktur Pelaksana
jenggot2000@gmail.com
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 17:30 wib

Resmi Umumkan Penerimaan CPNS

Rabu, 19 September 2018 - 17:25 wib

Road to Toyota Expo 3 Beri Kemudahan Miliki Mobil dan Bertabur Hadiah

Rabu, 19 September 2018 - 17:00 wib

HP 4 Pelajar SMP Berisi Video Porno

Rabu, 19 September 2018 - 16:45 wib

Bupati Buka MTQ Kecamatan Tempuling

Rabu, 19 September 2018 - 16:30 wib

Bupati: Kembalikan Kejayaan Pramuka Kampar

Rabu, 19 September 2018 - 16:00 wib

Riau Raih 3 Emas di Kejurnas Hapkido

Rabu, 19 September 2018 - 15:48 wib

BPJS Kesehatan Laporkan Pengkritik

Rabu, 19 September 2018 - 15:46 wib

Fahri: Jubir Jokowi Belum Ada yang Berkelas

Follow Us