Pingat Kejohanan Tari 2013

Konsep jadi Kunci Utama

3 November 2013 - 10.33 WIB > Dibaca 1262 kali | Komentar
 
Para koreografer dari semua grup tari yang tampil di Pingat Kejohanan Tari Dewan Kesenian Riau (DKR), 24-26 Oktober 2013 lalu melakukan upaya maksimal. Menciptakan karya terbaru yang disebut sebagai karya inovatif atau kontemporer. Hasilnya, hanya beberapa koreografer saja, karyanya masuk dalam kategori yang diharapkan penyelenggara helat tersebut.

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

SYAFMANEFI Alamanda, salah seorang pengurus komite tari DKR dengan tegas menyebut, bahwa helat ini untuk membebaskan orang tari untuk lebih jeli melihat fenomena di sekitarnya dan diwujudkan ke atas panggung dengan bahasa gerak. Karya yang dihasilkan harus pula mengusung konsep serta makna dan tujuan yang jelas. Sehingga orang lain, dalam hal ini, publik dapat merasakan dan memahami apa yang hendak disampaikan pengkarya. Ada sebuah tawaran pemikiran dari fenomena yang berkembang di tengah-tengah masyarakatnya dengan harapan, tawaran itu bisa menjadi alternatif untuk menemukan sesuatu. Jika perlu, solusi dari kebuntuan pemikiran hari ini.

Penciptaan karya, tari inovatif atau kontemporer memerlukan proses yang panjang serta pemikiran mendalam agar karya itu bermanfaat bagi orang lain. Bukan karya-karya usang yang didaur ulang untuk dilupakan begitu saja. Apalagi tari tradisi yang diubah suai hanya untuk mengkreasikannya dengan pengayaan gerak. Tari inovatif atau kontemporer bukan tari kreasi yang kaya akan gerak-gerak tanpa bisa dimaknai. Tapi karya tari yang lebih mengutamakan konsep, baik gerak, musik maupun artistik. Semuanya menjadi satu kesatuan utuh yang saling mengisi satu sama lain.

Barangkali inilah yang membuat karya tari kontemporer berbeda dan tidak banyak koreografer berminat. Selain memerlukan wawasan yang luas, koreografer juga memerlukan tehnik gerak yang matang dan menawarkan penafsiran lain dari sebuah peristiwa. Karenanya, helat tahunan DKR ini bisa menjadi salah satu ruang bagi koreografer tangguh untuk mengekspresikan dirinya demi kemajuan seni tari di Riau. Lagipula, helat ini berbeda dengan lomba atau festival yang ditaja pemerintah daerah melalui dinas terkait yang lebih mengutamakan keindahan.

Jika maksud dari helat ini dipahami secara baik maka koreografer akan bekerja keras untuk menghasilkan karya terbaiknya. Tari inovatif atau kontemporer justru memperluas jelajah pemikiran para koreografer dalam mencipta karyanya. Karena tari bukanlah karya seni yang sempit dan tidak bisa dikembangkan. Terpenting kematangan konsep menjadi kunci utama penciptaan tari inovatif, ulas Syafmanefi Alamanda MSn yang juga jebolan pasca sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.  

Bahkan ke depan, Nanda, sapaan Syafmanefi Alamanda mengharapkan, DKR menyetujui usulnya untuk menambah program tari yakni lomba tari tunggal bagi koreografer muda Riau. Program ini, menurutnya untuk memotivasi para koreografer untuk menciptakan karya dan menarikannya sendiri. Dan sebelumnya, tentu saja dilaksanakan pelatihan yang dibimbing para instruktur berpengalaman. Gunanya tidakhanya untuk diri koreografer tersebut tapi juga grup tempatnya bernaung. Artinya, setelah melewati tahapan itu, koreografer tersebut akan semakin matang dalam berfikir dan mencipta teknik untuk karya inovatif.

Apakah program itu akan diterima, tentu saja memerlukan perundingan lebih serius dengan petinggi DKR sebagai pengambil keputusan. Saya dan kawan-kawan di komite tari berharap usulan itu diterima dan 2014 langsung dijalankan, kata Nanda.

Ketuk Palu Berjaya
Karya koreografer muda Wan Harun Ismail bertajuk Ketuk Palu keluar sebagai pemenang utama Pingat Kejohanan Tari 2013 di gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru-Riau. Tidak hanya itu, dia juga terpilih sebagai koreografer terbaik tahun ini. Wan Harun Ismail yang tergabung dalam grup Urban Dance asal Kota Bertuah Pekanbaru itu menyisihkan 14 grup lainnya yang ikut meramaikan helat tahunan DKR tersebut. Keputusan tersebut diambil ketiga dewan juri SPN Iwan Irawan Permadi (Riau), Faisal Amri SSn (Kepulauan Riau) dan Hartati SSn (Jakarta) setelah melewati diskusi yang alot.

Di helat itu, dewan juri menilai sembilan kategori yakni pemenang satu, dua dan tiga. Lalu, tiga grup pemenang non rangking serta tiga pemenang individu yakni koreografer terbaik, penata musik terbaik dan penata artistik terbaik. Semua pemenang yang dipilih, menurut ketiga dewan juri adalah karya yang sudah masuk kategori inovatif atau kontemporer, karya yang sudah mendekati inovatif dan karya yang memiliki potensi untuk sampai ke karya inovatif, baik tariannya, musik maupun artistik.

Pemenang kedua diraih grup Gobah Dance Kontemporer dan pemenang ketiga dari utusan Kabupaten Pelalawan. Untuk tiga pememang non rangking antara lain utusan Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hulu Kabupaten Indragiri Hulu. Tiga peraih gelar individu yakni koreografer terbaik diraih Wan Harun Ismail asal Pekanbaru, penata musik terbaik karya Yogi asal Indragiri Hulu dan penata artistik Fitrah alias Giring asal grup Tameng Sari Dance Kota Bertuah Pekanbaru.

Keutuhan Koreografi           
Menghasilkan karya tari inovatif atau lebih populer dengan nama tari kontemporer atau karya tari kekinian bukanlah sesuatu pekerjaan yang muda, seperti mencipta tari kreasi dan lainnya. Penciptaan karya tari satu ini memerlukan pertimbangan yang matang,  baik dalam konsep penggarapan gerak, maupun musik dan artistiknya seperti kostum, make up, pencahayaan dan dekorasi panggung.

Hartati SSn justru mengajak para koreografer untuk selalu memposisikan diri sebagai penikmat atau penonton. Gunanya, agar para koregrafer bisa merasakan dan menikmati apa yang telah diciptakannya setelah melewati beberapa tahapan penciptaan. Di sini, posisi penonton juga harus diperhitungkan sebab yang akan menikmati karya seniman adalah penonton alias publiknya.

Jangan egois dan mau menang sendiri. Sebagai pengkarya, kita juga harus memahami psikologi penonton sehingga karya yang ditampilkan benar-benar dapat dirasakan dan dinikmati sesuai dengan harapan pengkarya, ungkapnya usai membacakan hasil pemenang, Sabtu (26/10) di auditorium Anjung Seni Idrus Tintin yang diamini dua dewan juri lainnya.

Selain itu, para koreografer musti mematangkan konsep garapannya dan menggarap strukturnya secara serius. Artinya, setiap koreografer musti mengembangkan potensi diri dan kekayaan khazanah Melayu Riau untuk penciptaan tari kontemporer Riau.
Juga mematangkan teknik tari atau ke-penari-an serta memikirkan keterpaduan gerak dengan musik dan artistik yang digunakan. Jika hal itu dipelajari dan dipahami secara baik maka karya yang dihasilkan menjadi koreografi utuh dan bermutu.

Kami (ketiga dewan juri, red) melihat dan merasakan, beberapa hal  yang belum tergarap secara baik yakni musik dan artistik. Hendaknya, selain gerak, penggarapan musik dan artistik harus dipikirkan, terutama dalam Pingat Kejohanan Tari DKR sebab unsur itu masuk dalam kategori penilaian dewan juri, jelas Hartati.***
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Jumat, 16 November 2018 - 15:15 wib

50 Tim Ikuti Serindit Boat Race

Jumat, 16 November 2018 - 15:00 wib

Spesialis Bongkar Rumah Kosong Diringkus

Jumat, 16 November 2018 - 14:45 wib

Disdukcapil Mengajukan Tambahan Tenaga Teknis

Jumat, 16 November 2018 - 14:30 wib

Hasil SKD Cerminan Mutu Pendidikan Indonesia

Follow Us