Nostalgia 50 Tahun Lalu

3 November 2013 - 10.54 WIB > Dibaca 991 kali | Komentar
 
Nostalgia 50 Tahun Lalu
Fopin A Sinaga
SUNGAI Siak, mengalami abrasi. Itu sudah kajian lama. Berbagai pembahasan dibentangkan mulai dari tingkat lapangan hingga diperdebatkan di hotel berbintang. Kajian yang terbaru adalah, abrasinya ternyata masih jalan terus. Wah...

Ingat abrasi Sungai Siak, ingat pula masa dulu saat bertugas di Kabupaten Siak, sebuah kabupaten yang paling panjang dilewati sungai terdalam di Indonesia ini. Upaya mengatasi abrasi sudah dilakukan bahkan sejak kabupaten ini baru dibentuk tahun 1999 lalu.

Dalam suatu bincang-bincang sembari menunggu feri penyeberangan ke Kota Siak, adalah almarhum Tengku Rafian, sebagai Penjabat Bupati Siak, Sekda Siak Arwin AS dan saya membincangkan rencana ketinggian jembatan Sultan Agung yang saat ini sudah membentang megah menyatukan dua sisi Kota Siak Sriindrapura yang dipisahkan Sungai Siak.

Tersebutlah bahwa jembatan bukan saja ingin difungsikan sebagai sarana transportasi, tetapi juga menyelamatkan sungai dari ancaman abrasi terus-menerus. Sehingga ketinggiannya tidak boleh lebih dari 25 meter. Dalam kajian selanjutnya diputuskan hanya 23 meter.

Jembatan dijadikan sebagai bentang batas bagi kapal-kapal besar yang selama ini bebas melayari Sungai Siak. Keputusan ini tidak berjalan mulus. Banyak pihak berkepentingan yang keberatan karena ketinggian 23 meter bisa mengganggu aktivitas pelayaran kapal. Jika suatu daerah dalam membangun biasanya berjuang bagaimana bisa mendapatkan dana untuk membangun.

Jembatan ini berbeda. Dana ada, teknologi ada, tetapi tetap saja harus berjuang habis-habisan untuk membangunnya hingga akhirnya berpuncak pada turun tangannya lima menteri terkait (saat itu kehadiran menteri tidak boleh diwakilkan) memimpin rapat bersama yang memutuskan pembangunan jalan terus dengan ketinggian tetap 23 meter.

Kapal-kapal besar menjadi salah satu faktor yang disebut-sebut sebagai penyebab abrasi. Gerusan energi air akibat gerakan baling-baling kapal diyakini mempercepat terjadinya abrasi. Itu dari bawah dari dalam air. Datang lagi gerusan dari atas, saat kapal-kapal cepat penumpang yang setiap melintas selalu menciptakan gelombang besar. Sebagai ganti akibat pembatasan ukuran kapal, Pemkab Siak mencanangkan pemindahan pelabuhan kapal besar dari sepanjang daerah aliran sungai ke sekitar muara Sungai Siak.

Sebenarnya masih banyak upaya yang sudah dilakukan untuk menahan laju abrasi. Dibanyak kesempatan, menyelamatkan Sungai Siak sering menjadi fokus sehingga tidak jarang meluangkan waktu menelusuri sungai ini untuk melihat kondisi kekiniannya.

Ketika tampuk kepemimpinan pemerintahan berpindah ke pundak Arwin, upaya terus berlanjut. Targetnya adalah mengembalikan kondisi Sungai Siak setidaknya seperti saat 50 tahun lalu. Dari keromantisan bernostalgia ke 50 tahun sebelumnya, ketika sungai ini masih asri, habitatnya masih terjaga dan kondisi daerah aliran sungainya belum rusak diputuskan tekad untuk maju terus sekuat tenaga melakukan pembenahan di segala bidang.

Ya, berbicara kerusakan sungai tidak saja dari sisi abrasi. Kualitas air yang jelek akibat terkontaminasi zat tidak semestinya, kekeruhan yang tinggi sehingga mengurangi kadar oksigen dalam air hingga habitat hewan air yang hidup di Sungai Siak menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan nostalgia itu.

Suatu waktu, saya menemui Arwin di ruang kerjanya. Ada usulan kongkret yang ingin saya sampaikan untuk menghidupkan kembali Sungai Siak dari keriangan ikan-ikan. Sehingga masyarakat sepanjang sungai bisa kembali ceria menjadi nelayan menangkap ikan. Tidak lama sebelum saya menyampaikan usulan, ada salah satu kapal tenggelam sehingga sesuai dengan Undang-undang Lingkungan Hidup, wajib memberikan dana rekoveri.

Ajuan saya adalah agar dana itu dibelikan bibit ikan yang jenisnya disesuaikan dengan habitat yang selama ini mendiami komunitas di sungai itu. Pak bupati ternyata sangat tertarik, lalu kami melakukan pembahasan tentang teknis pelaksanaannya. Ada satu kecemasan dari bupati jika bibit itu ditebar di Sungai Siak, maka dikhawatirkan sia-sia karena akan mati sebelum berkembang. Penyebabnya, krisis habitat sehingga ikan yang masih kecil itu diperkirakan tidak bisa bertahan hidup.

Akhirnya kami sepakati ikan ditebar di anak-anak sungai yang habitatnya masih relatif lebih bagus. Kelak ketika bibit sudah dewasa maka dia akan mampu bertahan hidup ketika ‘’berkelana’’ menuju sungai yang lebih besar lagi, Sungai Siak. Tidak lama kemudian, pembahasan itu diwujudkan dalam bentuk menebar 400.000 ekor bibit ikan di Sungai Mandau.  

Menjaga kelestarian Sungai Siak bisa sebenarnya harus dilakukan sejak dari hulunya, Sungai Tapung Kiri dan Tapung Kanan. Pertambahan debit air sangat mempengaruhi terjadinya abrasi. Bisa kita saksikan bersama, ketika musim penghujan, debit air serasa makin lama makin bertambah akibat makin kecilnya infiltrasi air dari daratan. Belakangan ada kecenderungan seberapa air yang ada di darat segitu pula air itu teraliri ke sungai. Kondisi tersebut terjadi akibat rusaknya catchment area (daerah tangkapan air) sebagai dampak rusaknya area hutan.

Pelestarian menjadi tugas bersama, agar bagaimana keinginan bernostalgia untuk mewujudkan reuni bertemu dengan kondisi Sungai Siak yang lestari bisa terwujud.****


Fopin A Sinaga
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us