Muslihat Wan Sinari

Tafsir Ulang Naskah Burung Tiung Sri Gading

24 November 2013 - 09.00 WIB > Dibaca 1231 kali | Komentar
 
SEMANGAT untuk terus berbuat dan berkarya menjadi modal utama Kumpulan Seri Melayu dalam menyusun program pentas tahunan mereka. Bagi mereka, sekecil apapun yang diperbuat dengan secuil semangat yang tersirat akan menjadi besar dan berkobar bila dikerjakan dengan hati, dengan kasih dan dengan keikhlasan.

Dan kami yakin hal itu, ujar Sunardi selaku Art Director karya tari Muslihat Wan Sinari.

Karya tari inovatif yang dipentaskan dua malam (16-17/11) di Anjung Seni Idrus Tintin tersebut dibagi menjadi tiga babak. Dasar atau ide penggarapannya terinspirasi dari karakter Wan Sinari dalam buku Burung Tiung Sri Gading karya sastrawan Riau Alm Hasan Junus.

Dijelaskan Sunardi, karakter Wan Sinari, Wan Inta, Laksemana dan Megat (tokoh dalam cerita) ditafsir ulang untuk mewakili perempuan dan laki-laki dengan keadaan sekarang dan permasalahan-permasalahan kekinian. Sedangkan terkait dengan geraknya, Sunardi melakukan dan menggunakan beberapa gerak eksplorasi dengan pijakan silat dan melenggang.

Pada babak pertama, hadir sepasang penari yang mewakili Wan Sinari dan Megat. Kedua penari tampak melakukan gerakan-gerakan eksplorasi yang pada tiap gerakannya membuktikan keseriusan anggota kumpulan tari seni Melayu mempersipakan garapannnya. Pada babak pertama ini, Sunardi mencoba menawarkan kisah atau pesan yang terajdi antara Wan Sinari dan Megat menyususn sebuah tujuan tertentu melalui kesepakatan yang mereka tentukan dengan cara mereka.

Pada adegan pertama ini juga tergambar jelas, upaya seorang perempuan dalam mencapai tujuannya kerap kali menggunakan sisi keperempuanannya, yang tentu saja, secara kodrati membuat lelaki tidak berdaya. Wan Sinari dan Megat tenggelam dalam pergumulan antara sebuah kesepakatan dan nafsu birahi.

Di sini, sebenarnya sebuah ruang yang saya tafsirkan kembali. Seorang Wan Sinari menyusun siasat dengan Megat  untuk memebalas sakit hatinya. Seharusnya, seorang perempuan tidak seperti itu yaitu menekan lelaki. Menekan yang saya maksudkan tidaklah dengan cara kekerasan tapi dengan apa yang dimilikinya sebagai seorang perempuan. Dan sekarang ini, banyak fenomena yang kita temui layaknya seperti yang saya jelaskan itu. Ya, perempuan sudah berani untuk melakukan semuanya, ujar Sunardi.
 
Sedangkan untuk pola gerak pada babak pertama, seperti yang dijelaskan Sunardi, adalah menggunakan pola gerak eksplorasi dan melenggang. Pada babak pertama itu juga, terlihat lebih mengutamakan suasana. Musik yang digarap oleh komposer muda Riau, Anggara Satria turut membawa penonton larut dalam pentas tersebut, hal itu terbukti hampir tidak ada suara atau pun gerakan yang dilakukan penonton selain dari menyaksikannya.

Pada babak kedua dalam pentas tari yang berlangsung hampir 1 jam tersebut memperlihatkan kebencian seorang lelaki yakni Megat terhadap Laksemana. Namun menurut tafsir Sunardi, apakah benar hanya disebabkan kekalahan atau ada sesuatu atau penyebab yang lain. fenomena ini yang kemudian coba ditafsir lagi dengan mencoba berfikir lebih terbuka. Kebencian pada hari ini disebabkan banyak faktor yang kadangkala tidak bisa diterima akal sehat. Sedangkan untuk pola gerak yang dipilih pada babak ini adalah pola gerak silat.

Untuk babak ke tiga merupakan kelanjutan dari babak satu dan dua. Lebih mengedapankan upaya menyibak seuta sifat perempuan. Sebuah rencana yang berakarkan dendam. Bagi seorang perempuan, barangkali rasa sakit hati karena tidak menjadi pilihan dapat membutakan hati dan pikiran. Inilah fenomena yang terjadi pada masa sekarang di  mana sesama mereka saling menjatuhkan, merendahkan marwah mereka sendiri dengan alasan sakit hati. Sejuta sifat perempuan yang susah ditebak seperti sifat seorang Wan Sinari terhadap adiknya Wan Inta, jelas Sunardi.

Pijakan gerak pada babak ketiga adalah lenggang. Tapi dikatakan Sunardi melenggang di sini diupayakan oleh penata gerak lebih kepada gerak lenggang yang tergambar beribu muslihat karena memang itu yang hendak dikedepankan.

Tampil semua penari perempuan pada babak ini. Tergambar jelas, ragam sifat perempuan dari konsep yang ditawarkan. Sunardi memasukkan unsur-unsur teaternya juga. Artinya, penari diharapkan tidak hanya pada kemampuan menguasai gerak saja tetapi ekspresi wajah sangat menentukan. Pertunjukan ditutup dengan sekumpulan perempuan yang saling tindih menindih, saling jerit, saling merebut dan menunjukkan eksistensi masing-masing dengan ekpresi sesuai dengan karakter masing-masing pula.

Chaidir MM yang hadir pada malam itu, menyebutkan pertunjukan tari yang dipergelarkan memang luar biasa. Membuat penonton terpikat dari setiap adegan yang ditawarkan. Baginya, seni memang memiliki ruang yang lebih lebar dalam menyampaikan pesan-pesan dalam kehidupan. Hal itu memang sudah terbukti sejak dahulu. Di Riau ini juga demikian, sudah berapa banyak garapan seni yang dipergelarkan di Anjung Seni Idrus Tintin ini yang saya kira kesemuanya bernagkat dari nilai-nilai kehidupan yang hendak disampaikan kepada audien, jelasnya.

Ditambahkannya, Anjung Seni Idrus Tintin menjadi saksi sejarah atas torehan karya para seniman di Riau maupun seniman dari luar yang pernah pentas di Anjung yang megah tersebut. Disinggung masalah gedung yang fasilitasnya belum sepenuhnya terpenuhi Chaidir hanya berucap untuk bersabar. Kita tunggu Gubernur yang akan terpilih nanti, ujarnya tersenyum.

Sementara itu perwakilan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Kesenian dan perfilman, Drs, Abdillah menyebutkan karya yang dipergelarkan menunjukkan konsistensi penggarapnya untuk tetap berpijak pada tradisi lokal yaitu Melayu. Saya sangat apresiasi, saya kira tidak hanya saya yang tertegun melihat pementasan tersebut, para penonton yang juga memenuihi tempat duduk, merasakan apa yang saya rasakan, ujarnya.(*6)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Selasa, 20 November 2018 - 17:22 wib

Sabu Rp4 M Disimpan dalam Tas Ransel

Follow Us