Abai

24 November 2013 - 09.09 WIB > Dibaca 1221 kali | Komentar
 
Abai
Kata kita dan kami menjadi nilai lebih bahasa Melayu Indonesia (saya tidak menyebutnya bahasa Indonesia) dibandingkan dengan bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Arab dan Inggris memadatpadukan kedua kata itu hanya dengan  satu kata: nahnu (Arab) dan we (Inggris). Dalam bahasa Melayu Indonesia, kedua kata itu memiliki makna yang berbeda. Oleh karena itu, tidak dapat saling dipertukarkan penggunaannya.

Tulisan ini hanya ingin mengungkapkan kerancuan penggunaan beberapa kata (terutama pada bahasa lisan) yang telah berkepanjangan terjadi pada komunikasi sehari-hari. Penutur bahasa Melayu Indonsia pada masa akhir-akhir ini telah banyak yang merancukan saja kata yang digunakannya ketika berkomunikasi lisan. Bahasawan layak resah, karena kesalahan itu telah mewabah akibat banyak yang latah meniru yang keliru.

Kata kita, kami, mungkin, dan dari misalnya, telah kerap  diterapkan pada bahasa lisan tidak lagi sebagaimana mestinya. Kita dan kami telah saling dipertukarkan dan dikaburkan maknanya. Kata mungkin tidak lagi digunakan sebagaimana maksud makna kata mungkin (hanya sebagai jeda pelemak atau rencah berbahasa saja). Begitu pula kata dari, telah dikaburkan maksud maknanya.

Kelaziman yang terbiar seperti itu telah pula mengakibatkan terjadinya ketidaksadaran terhadap kesalahan berbahasa. Simaklah contoh percakapan singkat yang saya kutip berikut ini.

Kita pulang sekarang, ya...! Sudah dari tadi saya di sini. Mungkin hingga ini sajalah percakapan kita, ucap seorang teman kepada seorang kawannya.

Silakan...! Besok, insyaallah, kami ke rumahmu, jawab kawannya.

Lantas dia pun pergi. Pulang melenggang seorang diri tanpa ditemani sesiapa. Kawannya yang tegak seorang diri, memerhatikan temannya yang berjalan pulang hingga hilang dari pandangan.

Kata kita dan kata kami pada dialog singkat itu tidak diucapkan untuk mewakili orang lain yang bersamanya, kecuali kata kita pada akhir kalimat. Kedua kata itu hanya diperuntukkan dan ditujukan bagi diri yang mengucapkannya saja. Sementara itu, kata dari dan kata mungkin pun digunakan tidak  pula sebagaimana mestinya.

Kerancuan juga terjadi pada bentuk-bentuk bersaing, seperti kata dari dan daripada; kata carut marut dan karut marut; sumpah seranah dan sumpah serapah. Karena abai (dan tidak pernah mengeceknya di kamus), orang cenderung latah, ikut-ikutan membuat (baik ditulis maupun diucapkan) kalimat/pernyataan seperti berikut ini.

(1) Dari dahulu saya di Pekanbaru.
(2) Sepedanya itu daripada saya.
(3) Zaman telah carut marut.
(4) Sumpah serapahnya sungguh sangat menyentuh hati saya.

Seharusnya kalimat (1) ditulis atau diucapkan menggunakan kata sejak dahulu, bukan dari dahulu. Sebagai kata depan, dari menyatakan (a) permulaan: Dia berangkat dari Sungaigergaji, (b) berupa: Hidangannya juadah dari buah-buahan dan kueh mueh, (c) bahan suatu barang: Cincin saya dari suasa, dan (d) asal: Koriun, keturunan Jawa dari Kempasjaya.

Kalimat (2) seharusnya ditulis atau diucapkan menggunakan kata pemberian saya, bukan daripada saya, karena tidak sedang membandingkan. Penggunaan daripada yang benar, misalnya, terdapat pada kalimat Agus Danarhadi lebih cerdas daripada Ayu Danarhati.

Kalimat (3) seharusnya ditulis atau diucapkan menggunakan kata karut marut, bukan carut marut. Carut marut merupakan kata umpatan yang kotor, keji, cabul, dan tidak senonoh; sedangkan karut marut bermakna kusut atau kacau tidak keruan (bukan karuan).

Kalimat (4) seharusnya ditulis atau diucapkan menggunakan kata sumpah seranah, bukan sumpah serapah. Sumpah serapah bermakna berbagai umpat makian dengan kata-kata keji yang tak terpuji; sedangkan sumpah seranah memang ucapan sumpah, tapi sumpah yang berlebih-lebihan.

Kerancuan kosakata pada bahasa Melayu Indonesia oleh pengguna bahasa harus segera diluruskan untuk  secepatnya pula dibetulkan. Tidak layak terjadi pembiaran pemerancuan penggunaan kosakata yang semena-mena itu berlama-lama agar kesalahan berbahasa tidak semakin merebak. Upayanya mutlak diusahakan dan mustahak dilakukan oleh para bahasawan supaya bahasa Melayu Indonesia memiliki kosakata dan kata bentukan yang arti dan maknanya lebih berdaya, sebagaimana bahasa Melayu yang menjadi induk asal muasalnya.

Jangan abai.***

Salam.


H Syafruddin Saleh Sai Gergaji
Dai, Sastrawan, Budayawan, Bahasawan
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us