Pariwisata, Peluang Masa Depan

24 November 2013 - 09.36 WIB > Dibaca 1716 kali | Komentar
 
Pariwisata, Peluang Masa Depan
Ada prediksi para ahli bahwa Indonesia dalam 20-30 tahun mendatang akan mengalami krisis energi. Riau sebagai lumbung energi juga harus bersiap menghadapi hal itu. Migas misalnya energi yang tak terbaharukan suatu masa akan habis juga. Oleh karena itu perlu antisipasi jika kelak masa itu datang. Apa andalan Riau selain migas? Harus dicari. Potensi wisata di Riau sebenarnya tidak kurang. Namun selama ini masih kurang mendapat perhatian serius. Objek-objek wisata di Riau seperti wisata alam, wisata sejarah, wisata bahari sebenarnya banyak dan layak dikembangkan dengan profesional. Tentunya harus ada perhatian serius mulai dari sekarang bagaiman potensi wisata yang bagus itu tidak terus tinggal sebagai potensi namun benar-benar bisa direalisasi.

Saya pernah menelusuri pedalaman hutan taman nasional bukti tiga puluh di Kecamatan Bantang Gangsal Inhu. Pemandangan alamnya sungguh menarik. Sungainya yang mengalir deras dengan kiri kanan hutan yang hijau ranau menyajikan pemandangan yang sejuk, udara yang segar dan asri. Struktur sungai yang berkelok-kelok dan tiap kelokan menyajikan pemandangan yang unik baik flora maupun faunanya sungguh mempesona. Ketika itu kami bermalam di rumah-rumah penduduk di tepian sungai tanpa listrik. Malam sudah demikian pekatnya meski hari baru menunjukkan pukul 20 WIB. Bagi saya pribadi itu pengalaman yang mengesankan.

Namun untuk bisa mencapai tepian sungai yang membelah hutan itu, saya dan tim liputan khusus Riau Pos ketika itu harus menempuh jalur darat yang tidak ringan. Penuh tanjakan dan belokan yang kalau hari hujan, jalan tanah itu berubah menjadi kubangan lumpur yang tidak bersahabat. Bahkan di satu titik, kendaraan roda empat biasa tidak bisa lagi meneruskan misinya. Diperlukan kendaraan double gardan untuk menembus medan yang lebih berat lagi. Karena ketika itu kami tidak menemukan kendaraan spesial itu maka kami terpaksa menggunakan jasa ojek untuk terus menembus daerah itu menuju tepian sungainya yang jauh di tengah hutan.

Setelah puas berojek ria sekian jam barulah sampai di penghujung desa yang ada tepian sungainya. Persoalan belum selesai. Kami harus mencari perahu yang bisa dicarter untuk berangkat ke hulu sungai. Penduduk setempat sebenarnya tidak menyediakan jasa khusus untuk itu. Perahu yang ada biasa mereka gunakan untuk mencari nafkah mencari ikan atau ke ladang mereka yang berada di hulu sungai. Setelah negoisasi dilakukan dan mencapai kesepakatan harga, barulah kemudian tim kami dapat tumpangan sampan bermesin boat tempel berangkat membelah hutan di bukit tiga puluh tersebut.

Dengan kata lain tidak mudah menikmati objek wisata yang demikian indah tersebut. Padahal jika dikelola dengan baik dan dibangun akses yang mudah untuk mencapai tempat itu, saya kira itu akan menjadi tambang pendapatan daerah di masa depan. Tentunya objek wisata lainnya yang tak kalah menariknya juga banyak di kabupaten lainnya di Riau. Namun persoalannya mengapa tingkat kunjungan wisata ke Riau masih jauh di banding ke daerah lain? Saya rasa bukan karena Riau kekurangan objek wisata. Melainkan kekurangan fasilitas menuju objek wisata itu. Entah itu jalan yang memadai, transpor, home stay, penginapan dan tentunya juga kemasan serta promosinya.

 Ke depan hal ini harus jadi perhatian serius semua pihak (Pemprov dan Pemkab) di Riau. Bagaimana secara bertahap membangun satu demi satu objek wisata yang ada menjadi layak kunjung dan menarik minat wisatawan. Meningkatnya arus wisatawan ke suatu daerah atau wilayah, menuntut macam-macam pelayanan dan fasilitas yang semakin meningkat baik jumlah dan ragamnya. Hal ini member manfaat ekonomi bagi penduduk, pengusaha, dan pemerintah setempat, seperti penerimaan devisa. Masuknya wisatawan mancanegara akan membawa valuta asing, yang berarti akan memperkuat neraca pembayaran dan perdagangan.

Kesempatan berusaha juga menjadi terbuka luas, baik usaha yang langsung untuk memenuhi kebutuhan wisatawan maupun yang tidak langsung. Lapangan usaha langsung seperti usaha akomodasi, restoran dan rumah makan, biro perjalanan, toko cenderamata, sanggar-sanggar kerajinan dan seni, pramuwisata, pusat perbelanjaan, dan lain sebagainya. Lapangan usaha tidak langsung seperti pertanian, perikanan, peternakan, perindustrian dan kerajinan, industri olah raga, industri pakaian jadi, dan lapangan usaha lain yang berkaitan dengan kebutuhan manusia.

Sekarang objek wisata alam Bono sudah dikenal dunia. Tugas selanjutnya bagaimana terus membangun branding objek wisata alam ini sehingga menjadi kalender wisata nasional dan internasional. Tentu saja segala sesuatunya dipersiapkan dengan baik agar setiap pengunjung mudah mencapai tempat objek wisata itu dan memiliki kesan baik tak terlupakan menyaksikan fenomena alam itu. Jika hal itu terwujud maka kesan itu akan menyebar dan pada gilirannya membuat daya tarik bagai siapapun untuk datang dan menikmati objek wisata di Riau. Semoga.


Helfizon Assyafei
Wakil Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us