Degradasi

1 Desember 2013 - 06.42 WIB > Dibaca 2206 kali | Komentar
 
Degradasi
Istilah degradasi ‘penurunan (tentang pangkat, mutu, moral, dsb.); kemunduran; kemerosotan’ (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:304) sangat popular di dunia olahraga, khususnya sepak bola. Degradasi digunakan untuk melabeli tim sepak bola yang tidak mampu bertahan pada level tertentu karena kalah bersaing dengan tim lain. Tim yang kalah bersaing itu harus turun kasta ke level di bawahnya.

Juventus, misalnya, pada 2006 sempat terdegradasi ke Seri B karena kalah bersaing dengan tim-tim lain di Seri A Liga Italia. Di tanah air, tim-tim kelas atas (seperti PSMS, PSM, PSIS, dan Persebaya) bahkan hingga kini masih terdegradasi dari Liga Super Indonesia.

Uniknya, sekalipun terdegradasi, Juventus masih dicintai oleh para penggemarnya. Si ‘’Nyonya Tua’’ (julukan Juventus) itu masih menjadi kebanggaan warga kota Turin, Italia, yang memang memiliki loyalitas tinggi. Hal yang demikian itu berkebalikan dengan yang terjadi pada bahasa Indonesia. Hari demi hari semakin banyak terlihat orang, baik secara individu maupun kelompok/lembaga, justru mengabaikannya. Satu demi satu kekayaannya dirampas dan/atau dikebiri. Cina dilafalkan /caina/, unit disebutkan /yunit/, energi dibilang /enerji/ atau /enerzi/, dan masih banyak lagi contoh pelafalan yag salah lainnya.

Demikian pula dalam tata tulis, orang enggan menuliskan Anda (dan kata-kata kekerabatan yang digunakan untuk menyapa, seperti Saudara, Paman, Ayah, Nak, Dik, dan Bang) dengan huruf awal kapital. Padahal, penggunaan huruf kapital pada kata-kata itu merupakan salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Hal itu berbeda, misalnya, dengan orang Inggris yang konon lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain (tercermin pada I ‘saya, aku’ yang selalu ditulis dengan huruf kapital).

Perampasan besar-besaran terjadi pada kosakata: kosakata bahasa Indonesia (BI) diganti dengan kosakata asing (terutama bahasa Inggris). Awalnya, mungkin, kosakata asing itu diniatkan sebagai sinonim untuk memberi alternatif pilihan, selain kosakata BI yang sudah ada. Namun, karena kosakata asing itu digunakan secara terus-menerus, orang justru lupa pada kosakata BI-nya.  Kosakata dolbi/binatu, istirahat/rehat, dan kudapan/makanan kecil, misalnya, hampir sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat Indonesia, terutama generasi mudanya, karena telah ter(di)gusur oleh laundry, break, dan snack.

Ketidakbanggaan masyarakat terhadap BI juga dapat dengan mudah ditemukan di tempat-tempat perbelanjaan modern, hotel-hotel, dan kantor-kantor perusahaan. Di tempat-tempat itu, kata-kata seperti menara, simpang, dan taman/bustan pun telah ter(di)asingkan menjadi tower, junction, dan park. Ketidakbanggaan terhadap BI terlihat juga pada istilah-istilah yang digunakan pegawai/karyawannya. Jika kehilangan sesuatu, misalnya, Anda pasti dianjurkan untuk menghubungi security (alih-alih satpam atau petugas keamanan). Pun jika Anda meminta agar kamar dirapikan, pasti pihak hotel akan menyuruh roomboy (sekalipun ia perempuan), bukan pramukamar; Jika Anda meminta bon, pasti mereka akan menjawab heran, ‘’O, bill?’’ Lalu, jika Anda mau menyewa kendaraan, pasti mereka akan menyarankan Anda menghubungi (car) rental. Di tempat itu Anda akan ditawari dua tarif sewa: dengan driver atau tanpa driver (alih-alih dengan supir atau tanpa supir).

Fenomena lain yang tidak kalah memprihatinkan adalah gejala penyisipan bahasa asing (campurkode) yang berlebihan dalam percakapan sehari-hari. Kalimat-kalimat seperti berikut ini, misalnya, sangatlah mudah dijumpai.

(1) Pak, mengapa skedul miting dengan audien minggu depan dikensel, ya? (alih-alih schedule, meeting, audience, dan di-cancel)
(2) Bayarnya cash atau pakai card?
(3) Kami menyediakan voucher untuk welcome drink dekat poolsore nanti.
(4) Ibu bisa facial di beauty salon atau rental VCD di shopping centre sambil refreshing pada grand opening supermarket baru kami.
(5) Besok kalau check-out, perlihatkan identity card.

Padahal, jika ada kemauan, kosakata asing itu dapat dengan mudah diganti dengan jadwal, rapat, dan dibatalkan pada kalimat (1); tunai dan kartu kredit pada kalimat (2); kupon, minuman selamat datang, dan kolam pada kalimat (3); rawat muka, salon kecantikan, sewa, pusat belanja, penyegaran, dan peresmian pasar swalayan pada kalimat (4); serta lapor keluar dan kartu identitas pada kalimat (5).

Sungguh ironis. Tak diacuhkan, tetapi tak pula direlakan tiada. Itulah nasib BI. Hidupnya seakan-akan berada di antara ada dan tiada.

Di satu sisi, BI diyakini sebagai bahasa pemersatu serta pembentuk karakter dan jati diri bangsa, di sisi yang lain, cenderung diabaikan. Padahal, bangsa lain: Timor Leste, misalnya, harus berjuang mati-matian untuk menjadikan bahasa Portugis sebagai bahasa nasional. Konon, dunia pendidikan di Timor Leste sempat vakum (diliburkan) selama 9 bulan karena mayoritas masyarakatnya tidak bisa berbahasa Portugis (sudah terlanjur fasih ber-BI). Hal yang sama terjadi juga di Bangladesh. Rakyat Pakistan Timur pada 21 Februari 1952 berjuang mati-matian demi bahasa ibu mereka: bahasa Bengali menjadi bahasa nasional. Gerakan yang memakan korban sekitar 7 mahasiswa Universitas Dhaka itu menarik perhatian dunia sehingga (oleh UNESCO) tanggal 21 Februari ditetapkan sebagai hari bahasa ibu sedunia.

Nah, haruskah BI terdegradasi? Jawabannya ada pada Anda dan seluruh bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang besar (terbesar keempat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat dalam jumlah penduduk: 238 juta [BPS, SP 2010]), sesungguhnya Indonesia memiliki potensi untuk mengambil peranan penting di berbagai bidang tingkat dunia. Tak terkecuali di bidang bahasa, Indonesia dapat menjadikan BI menginternasional. Apa lagi yang ditunggu? Toh yang dibutuhkan hanyalah kemauan.

Bukankah jejaring sosial (yang menjadi simbol peradaban modern), seperti Google, Twitter, Facebook, dan Wordpress justru sudah menjadikan BI sebagai salah satu bahasa yang disediakan pada situs-situs lamannya?

Salam.***



Naratungga Indit Prahasita
alumnus Universitas Negeri Yogyakarta, bergiat di Teater Sarkem, dan bermastuatin di Yogyakarta.
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us