Bahasa Sandi

8 Desember 2013 - 05.18 WIB > Dibaca 2731 kali | Komentar
 
Bahasa Sandi
Irwanto
Kata sandi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1219) berarti ‘rahasia; kode’. Biasanya, sandi berbentuk lambang/kode, baik berupa gambar, bunyi, gerakan tubuh (bahasa tubuh), dan/atau bahasa verbal (lisan/tulis). Sandi digunakan untuk menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu dan hanya dapat dipahami oleh pemakainya.

Sebagai istilah, sandi telah dipakai sejak masa kerajaan-kerajaan di tanah air, seperti Majapahit. Pada zaman itu telah dikenal istilah telik sandi ‘(pe)tugas rahasia; intelejen’, sandi asma ‘nama lain; alias’, dll. yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan persandian. Sekarang ini, dalam ketatanegaraan Indonesia, terdapat sebuah instansi/lembaga yang menangani masalah persandian dan rahasia negara, yakni Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg).

Terlepas dari masalah Lemsaneg, yang belakangan ini terpaksa membatalkan kontrak kerja samanya dengan Komisi Pemilihan Umum (mengenai pengamanan data pemilu) karena gelombang protes dari para politisi, tulisan pendek ini dimaksudkan untuk membincangkan munculnya gejala penggunaan kata-kata yang menjurus pada upaya ‘’merahasiakan’’ sesuatu. Demi kemudahan, dalam tulisan ini, kata-kata yang penggunaannya menjurus pada upaya ‘’merahasiakan’’ sesuatu itu disebut bahasa sandi. Sementara itu, lokus penggunaannya adalah di seputar kasus korupsi.

Sesuai dengan namanya, bahasa sandi selalu mengarah pada makna kias (konotatif) yang sifatnya berlapis-lapis dan liar, tidak mengarah pada makna lugas (denotatif). Hal itu, misalnya, tampak pada kata-kata yang disebut para tersangka kasus korupsi proyek Hambalang yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bahasa sandi itu, antara lain, adalah apel washington, apel malang, si uban, bos besar, bos kecil, engkong, pelumas, dan semangka. Sementara itu, dalam kasus impor daging sapi (yang melibatkan mantan petinggi salah satu partai itu) muncul penggunaan kata bunda putri serta dalam kasus suap alokasi dana penyesuaian infrastruktur daerah (DPID) muncul kata sandi merah, biru, dan kuning.

Tentu tidak mudah memaknai kata-kata (bahasa) sandi itu. Bahwa ternyata istilah apel malang merujuk pada rupiah, sedang apel washington merujuk pada dolar Amerika baru diketahui setelah transkrip blackberry messenger (BBM) antara Angelina Sondakh dan Mindo Rosalina Manulang (Rosa) dibacakan. Begitu pula dengan istilah pelumas dan semangka. Makna kedua istilah itu baru diketahui pada saat Rosa menjadi saksi dalam kasus suap Wisma Atlet dengan terdakwa Muhammad Nazaruddin: pelumas artinya ‘uang’, sedangkan semangka artinya ‘permintaan dana’.

Bagaimana dengan istilah merah, biru, dan kuning?  Makna ketiga istilah itu terungkap dari hasil penyitaan laptop milik staf badan anggaran, Nando, saat KPK menggeledah ruang kerjanya di DPR. Ternyata, ketiga istilah itu digunakan sebagai sandi untuk membedakan penerima jatah DPID bagi para pimpinan banggar DPR.

Penggunaan bahasa sandi juga terungkap dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Alquran di Kementerian Agama. Dendy Prasetya (salah sartu tersangka), dalam percakapannya dengan Fahd A. Rafiq, diketahui kerap dititipi pesan (oleh Fahd), antara lain, berbunyi:

(1) ‘’Itu jatah ustaz dan pesantren, jangan diutak-atik.’’
(2) ‘’Apakah kaveling untuk kiai sudah disediakan?’’

Dalam kasus ini, istilah ustaz, pesantren, dan kiai diduga merupakan bahasa sandi bagi para penerima dana hasil proyek tersebut. Siapa sajakah itu? Entahlah.

Tampaknya, pesona bahasa sandi juga menarik perhatian para wartawan. Di dunia kewartawanan, kata sandi juga digunakan untuk ‘’merahasiakan’’ sesuatu yang mereka maksud. Hal itu, misalnya, tampak pada kutipan bagiuan tulisan Jilbab Hitam (mantan wartawan Tempo/ KCM/Kompasiana) yang berjudul ‘’Mengerikan dan Brutal, TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas?’’ berikut ini.

‘’Gimana, jelas nggak acaranya?’’

‘’Ada jale-nya nggak?’’

Istilah jale rupanya berarti ‘jelas’ yang mengacu pada ongkos perjalanan/transportasi. Mungkin karena menyadari bahwa hal itu dapat digolongkan sebagai gratifikasi, mereka (wartawan) menyandikannya dengan jale agar tidak diketahui umum.

Begitulah, sebenarnya sejak manusia berkomunikasi satu sama lain dan ada hasrat atau kepentingan untuk merahasiakan pembicaraannya, sejak itulah (baik disadari maupun tidak) mereka telah mempergunakan persandian. Mereka akan berusaha mencari jalan dan cara bagaimana merahasiakan sesuatu terhadap pihak yang mereka anggap tidak berhak mengetahui (laman [website] Lembaga Sandi Negara).

Masalahnya sekarang adalah haruskah bahasa sandi (seperti pada contoh di muka) dirayakan keberadaannya? Wallahualam bissawab. Yang pasti, jika bahasa sandi seperti itu diterima, akan bertambah pula ragam bahasa Indonesia (selain ragam jurnalistik, ragam sastra, ragam undang-undang, dsb.), yaitu ‘’ragam koruptor’’. Mudah-mudahan saja hal itu tidak terjadi. Mengapa? Karena pengembangan (bahasa) (per)sandi(an), yang dilakukan Lemsaneg misalnya, lebih ditujukan pada  keamanan dan pertahanan negara agar tidak mudah disadap negara lain. Semoga!***


Irwanto
Adalah pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Follow Us