Geliat BIPA

15 Desember 2013 - 09.20 WIB > Dibaca 2866 kali | Komentar
 
Geliat BIPA
Apa itu BIPA? Barangkalihanya segelintirmasyarakat yang mengetahuinya.Bahasa Indonesia bagi penutur asing, itulahkepanjangan BIPA. Dari kata penutur asing, dapatditebak bahwa BIPA tidak diperuntukkan bagi orang Indonesia. Jika dalam bahasa Inggris kita mengenal TEFL (teaching English as foreign language ‘pengajaran bahasa Inggris bagi penutur asing’), dalam bahasa Indonesia kita mempunyai BIPA.

Seperti telah kita ketahui, bahasa Indonesia sudah diikrarkan sebagai bahasa persatuan (bahasanasional) pada butir ketiga Sumpah Pemuda,28 Oktober 1928 dan sebagaibahasa negara pada Pasal 36 UUD 1945. Sementara itu, ihwal penggunaan serta pengelolaan bahasa Indonesia diatur dalam UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Bagian Keempat UU Nomor 24 Tahun 2009 mengenai Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional itu mengamanatkan pemerintah untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan. Nah, dalam hal inilah BIPA memiliki peranan yang sangat penting dan strategis. Hal tersebut disadari oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dan UPT-UPT-nya, tak terkecuali Balai Bahasa Provinsi Riau) yang berperan sebagai koordinator pengajaran BIPA.

Pengajaran BIPA sesungguhnya sudah berlangsung sejak lama di luar negeri, bahkan  sebelum bahasa Indonesia digunakan secara resmi di Indonesia (sebelum diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 1928). Di samping Belanda (melalui Universitas Leiden yang sudah sejak lama dikenal sebagai pusat studi untuk bahasa dan sastra Indonesia), negara yang pertama kali menyelenggarakan BIPA adalah Perancis, diikuti oleh AmerikaSerikat, Italia, Inggris, dan beberapa negara di Eropa lainnya. Di Australia, bahasa Indonesia bahkan sudah masuk dalam kurikulum sekolah dasar, di samping ditawarkan juga di hampir semua sekolah lanjutan dan perguruan tinggi sebagai mata ajar pilihan. Di Asia, negara-negara maju seperti Jepang, Cina, dan Korea Selatan juga membuka jurusan bahasa Indonesia di perguruan-perguruan tingginya. Begitu pun di Asia Tenggara, sejak 2007 bahasa Indonesia secara resmi ditempatkan sebagai bahasa asing kedua oleh pemerintah daerah Ho Chi Minh City (Haluan Riau, 24 Oktober 2013).

Kedudukanbahasa Indonesia di negara itudisejajarkandenganbahasaInggris, Perancis, Jepang, dan Spanyol. Negara-negara tersebut tertarik dan berminat untuk mempelajari bahasa Indonesia dengan berbagai tujuan dan latar belakang, seperti politik, perdagangan, seni-budaya, dan pariwisata.

Di Indonesia, lembaga penyelenggara pengajaran BIPA juga muncul di mana-mana: di Bali, Jakarta, Yogyakarta, Malang, Bandung, dan Salatiga. Yang menarik adalah lembaga-lembaga penyelenggara pengajaran BIPA itu tidak hanya dilakukan oleh pihak pemerintah (negeri), seperti beberapa perguruantinggi: Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Malang (UNM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), tetapi juga oleh pihak swasta, Indonesia Australia Language Foundation (IALF) dan Lembaga Indonesia Amerika (LIA).

Sekalipun sudah berlangsung lama, pengajaran BIPA belum dilaksanakan secara terpadu, terutama dalam hal kurikulum (dan materi pembelajarannya). Oleh karena itu, pada 2004 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Pusat Bahasa ketika itu), sebagai lembaga pemerintah yang disepakati/ditunjuk sebagai koordinator pengajaran BIPA, telah menyusunbahan ajar: berjudul  Lentera Indonesia. Buku ajar ini terdiri atas tiga jilid: Lentera Indonesia1, Lentera Indonesia2, dan Lentera Indonesia3. Materi yang ada dalam bahan ajar itu  mencakupi 6 aspek:(1) bacaan (reading), (2) dengaran (listening), (3) berbicara (speaking), (4) menulis (writing), (5) tata bahasa (grammar), dan (6) catatan budaya. Keenam aspek itu dikemas sesuai dengan tingkatan-tingkatannya: Lentera Indonesia 1 ditujukan untuk tingkat pemula, Lentera Indonesia 2 untuk tingkat madya, dan Lentera Indonesia 3 untuk tingkat lanjut. Catatan budaya memuat kebudayaan yang ada di Indonesia seperti ondel-ondel, randai, reog, tarling, pasar kaget, jamu. Melalui catatan budaya ini diharapkan penutur asing tersebut tidak mengalami goncangan budaya (culture shock) bila mereka berkunjung ke Indonesia.

Upaya pengembangan BIPA pun sudah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Pada 18—20 Juli2007, misalnya, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyelenggarakan “Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Internasional Pengajaran BIPA”. Ada tiga hal yang dibicarakan dalam lokakarya itu, yaitu: (1) perbaikan atau pendalaman metode pengajaran bahasa Indonesia, (2) penyusunan kurikulum pengajaran BIPA, dan (3) penggalangan manajemen pengajaran BIPA yang profesional. Sejak itu, lokakarya sejenis dilakukan secara rutin, setiap tahun.

Pada 9—11 Desember 2013 lalu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pun menyelenggarakan “Rapat Koordinasi Lembaga Penyelenggara Program BIPA”. Selain penyempurnaan metode pengajaran, kurikulum, dan manajemen pengelolaan BIPA, isu yang berhembus dalam rapat koordinasi itu adalah sertifikasi pengajar (dan lembaga) BIPA.  
 
Di Riau, Balai Bahasa Provinsi Riau pun telah membentuk Tim BIPA. Pada 2008 tim itu sudah mencoba menggandeng beberapa perguruan tinggi di Riau untuk bersama-sama menyukseskan program BIPA dengan mengundang dosen-dosen, baik pengajar bahasa Indonesia maupun bahasa asing, ke Balai Bahasa Provinsi Riau untuk bertukar pandangan tentang program BIPA. Selain itu, Tim BIPA Balai Bahasa Provinsi Riau dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah melakukan sosialisasi ke PT Chevron Pacific Indonesia. Perusahaan ini dipilih karena banyak memperkerjakan warga negara asing (expatriate) dan memiliki berbagai pusat latihan (training center).

Sayang, hingga saat ini penyelenggaraan BIPA di Riau masih dilakukan secara personal/pribadi dan belum terpadu. Untuk itu, melalui forum ini Balai Bahasa Provinsi Riau membuka kesepatan kerja sama dari berbagai pihak dalam rangka pengembangan BIPA di Riau. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang penyelenggaran BIPA, hubungi kami: Balai Bahasa Provinsi Riau, Jalan Binawidya, Kompleks Universitas Riau, Panam, Pekanbaru, telepon (0761) 65930.


Marnetti
PegawaiBalai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 21:38 wib

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Follow Us